Pemerintah Kota Bandung, Jawa Baratterus berupaya untuk mencegah bencana banjir terlebih di musim hujan. Salah satu cara yang tengah dimaksimalkan adalah dengan membuat “tempat parkir" air.
Disampaikan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Didi Ruswandi, Rabu (19/10) lalu, tempat parkir air yang dimaksud adalah metode pengelolaan air hujan dengan cara meresapkan melalui sumur resapan. Hal ini diklaim lebih murah dibanding dengan melakukan normalisasi sungai.
"Paradigmanya sekarang kita memperbanyak resapan sehingga semakin banyak air diparkir. Ini lebih efektif dan lebih murah dibandingkan dengan normalisasi sungai," ujar Didi di Balai Kota Bandung, mengutip dari laman Pemkot Bandung.
Advertisement
Ajak Masyarakat Buat Tempat Parkir Air di Rumah
Didi mengatakan jika pemkot sendiri telah berupaya membuat sumur imbuhan dangkal sebanyak 5000 unit, dan sumur dalam sebanyak 30 unit. Menurutnya, jumlah ini akan terus bertambah di setiap ruang.
"Ini solusinya mengintensifkan serapan air dengan pembangunan resapan air. Sebenarnya sudah kita kenalkan konsep spons city atau kota serap, apapun tempatnya itu harus menjadi resapan," katanya.
Demi memaksimalkan tempat parkir air di Kota Bandung, Didi juga meminta agar masyarakat bisa membuat sumur resapan sederhana di rumah masing-masing sebagai solusi mencegah banjir.
Untuk membuat sumur resapan ini cukup di lahan ukuran kecil menggunakan bekas kaleng, bekas galon, drum maupun susunan bata.
"Kalau publik terlibat ini akan mempercepat dan memperbanyak serapan. Lebih cepat juga penanganan banjirnya, ini bisa setiap rumah bikin, kalau engga bikin lubang biopori juga membantu. Supaya air itu meresap," terang dia.
Advertisement
Bangun Rumah Pompa
Saat ini Pemkot Bandung juga sedang melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi bencana hidrometeorologi itu termasuk membangun rumah pompa di Cingised, Kopo Citarip dan Rancabolang.
"Itu untuk mengurangi dampak banjir Cingised, Kopo dan daerah Gedebage. Di Sukagalih juga kita bangun terowongan air, bisa membantu menanggulangi banjir di Sukagalih," ungkap Didi.
Menurut dia beberapa lokasi di Kota Bandung menjadi titik rawan banjir, seperti di Pagarasih yang disebabkan karena penyempitan sungai.
"Permasalahan banjir di Pagarsih berpangkal pada penyempitan sungai Citepus di hulu sungai yang hanya tinggal 5 meter akibat adanya pengambil alihan badan sungai, badan airnya menjadi bangunan. Untuk arah ke hilir sampai kawasan kabupaten Bandung cukup aman dengan lebar 15 meter," kata dia.
Kendati saat ini telah dibangun kolam retensi Sinaraga, dan Bima namun belum bisa dioptimalkan lantaran belum bisa menampung lebih dari 8.000 ribu kubik. Sedangkan untuk volume airnya sendiri mencapai 107.000 meter kubik
"Maka pembangunan serapan serapan air di kawasan Pagarsih untuk membantu penyerapan air hujan sangat perlu," ujarnya.