Tahun 1947 hingga 1948 kondisi Republik Indonesia masih belum membaik. Terutama pasca penandatangan kesepakatan Renville antara Indonesia yang baru merdeka dengan Kolonial Belanda yang kembali merangsek masuk.
Hal tersebut memaksa pasukan militer milik Republik Indonesia di wilayah-wilayah yang diakui Belanda harus hijrah ke luar daerah, termasuk Divisi Siliwangi dari Jawa Barat. Divisi Siliwangi merupakan Komando Pertahanan Kewilayahan yang berbasis di Jawa Barat serta sebagian wilayah Banten.
Dalam penelitian di Universitas Negeri Yogyakarta oleh Heri Setia Adi dengan judul Konflik Militer Divisi Siliwangi Dengan Divisi Panembahan Senopati di Surakarta Tahun 1948 (terbit tahun 2014), disebutkan bahwa saat itu Pasukan Militer Siliwangi harus hijrah ke wilayah yang diakui sebagai Republik Indonesia yakni wilayah Yogyakarta hingga Karesidenan Surakarta, untuk turut mempertahankan negara yang masih seumur jagung tersebut.
Oleh karena wilayah Surakarta dan sekitarnya menjadi daerah tujuan dari berbagai pasukan militer yang berhijrah dari kota-kota yang terikat Perjanjian Renville. Hal ini membuat sinergisitas melemah, sehingga rawan terjadi gesekan antara pasukan bersenjata termasuk Pasukan Siliwangi dengan Panembahan Senopati yang saat itu termasuk ke dalam naungan Panglima Tinggi TNI Jenderal Soedirman.
Advertisement
Dituduh Menculik Perwira
@2020 militer.id/editorial Merdeka.com
Saat itu konflik bersenjata tengah marak salah satunya akibat pelucutan yang dilakukan oleh pasukan TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia). Mereka melucuti senjata dari pasukan Mobrig (Mobil Brigade) pada 1948 hingga membuat pasukan polisi di Jawa Timur mengancam akan menyerang pasukan TLRI yang termasuk Panembahan Senopati.
Hal tersebut membuat kondisi keamanan negara turut terancam akibat banyaknya pemimpin militer di wilayah Surakarta yang berideologi kiri (PKI), sehingga membuat penculikan dari pasukan-pasukan tentara marak terjadi.
Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Indo Info, disebutkan bahwa di tengah kemelut situasi itu dua orang tokoh PKI dan seorang perwira dari Panembahan Senopati tiba-tiba hilang. Hal itu membuat salah seorang perwira dari Panembahan Senopati, Letnan Kolonel Suyoto menugaskan Mayor S Mara Sugeng, Kapten Sutarto, Prajurit Suradji, Supardi dan Letnan Mulyono untuk mencari orang hilang tersebut.
Setelah beberapa waktu, kelima pasukan tersebut tidak memberi kabar dan turut hilang di kawasan Srambatan Solo yang merupakan basis dari Divisi Siliwangi di bawah pimpinan Kolonel Lukas Sutaryo, dengan hanya menyisakan sepeda kelimanya.
Penyelidikan pun akhirnya dilakukan dengan menerjunkan beberapa pasukan Panembahan Senopati lainnya. Setelah menemukan kejadian tersebut pasukan itu lantas melaporkan kejadian kepada Kolonel Sutoyo dan menuduh dalang penculikannya adalah Divisi Siliwangi. Hal ini dikarenakan berada di daerah kekuasaan mereka.
Atas persetujuan panglima tertinggi militer Jenderal Soedirman, Panembahan Senopati pun memberikan peringatan keras kepada Divisi Siliwangi untuk mengembalikan pasukan yang hilang hingga 13 September 1948. Setelah tanggal tersebut tak ada umpan balik, pasukan khusus dari Panembahan Senopati pun mengepung asrama Pasukan Siliwangi di Solobalapan.
Advertisement
Menipisnya Stok Pangan Divisi Siliwangi
Kisah sedih lainnya yang harus dialami oleh pasukan dari Divisi Siliwangi adalah menipisnya stok pangan di kota orang. Bertugas di perantauan membuat stok makanan mereka menipis. Keadaan tersebut turut diperparah dengan tak adanya tunjangan yang kebetulan di hari itu menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri.
Pasukan Siliwangi bersama para keluarganya (anak dan istri) mengalami kesulitan mendapatkan logistik. Sehingga memaksa mereka untuk melakukan aksi nekat dengan mengambil stok makanan yang tersimpan di Rumah Penjara Negeri Surakarta.
“Mereka lantas melakukan aksi penggedoran (meminta secara paksa) dan perampasan barang-barang persedian tersebut untuk kemudian dibagikan kepada seluruh anggota bataliyon dan keluarganya,” dikutip dari karya Soe Hok Gie dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan melansir Historia.id.
Aksi tersebut pun disambut protes hingga ancaman dari pasukan militer lainnya di wilayah tersebut (Batalyon Singowareng) dari Divisi IV Surakarta serta pasukan dari Tentara Pelajat atau TP menegur Pasukan Siliwangi di asrama Yon Rukman atas perbuatan tersebut.
Masalah tersebut kian memanas akibat tidak tercapainya kesepakatan antar keduanya sehingga pecah pertempuran di asrama pasukan Siliwangi itu.
Advertisement
Dianaktirikan Jenderal Soedirman
@2020 militer.id/editorial Merdeka.com
Tak sampai di situ, dalam keadaan yang semakin kacau antara keduanya, pasukan Panembahan Senopati akhirnya mengadukan aktivitas dari pasukan Divisi Siliwangi kepada Jenderal Soedirman.
Masalah pun kian diperparah dengan tuduhan penculikan yang dialamatkan kepada pasukan Siliwangi di bawah pimpinan Kolonel Lukas dan Kapten Oking dan Letkol Sadikin.
Dalam kesempatan itu Panglima Tinggi Militer, Jenderal Soedirman pun akhirnya mempertemukan kedua belah pihak yang kerap bergesekan tersebut. Secara emosional Jenderal Soedirman merasa lebih dekat dengan Pasukan Panembahan Senopati.
“Jangan pikir apa-apa dulu, bagaimana perasaan mu jika ada perwira tentara yang hilang?” kata Jenderal Soedirman terhadap Letkol Sadikin melansir kanal Indo Info.
Merasa tersinggung, Sadikin pun menyinggung soal kasus penyerangan oleh Slamet Riyadi di Srambatan dan Solobalapan saat tengah mengamankan Pekan Olahraga Nasional. Saat itu dikisahkan jika asrama Siliwangi tiba-tiba diserang oleh pasukan Slamet Riyadi yang merupakan bagian dari TLRI dan sedang mengadakan latihan.
Dengan nada meninggi, Jenderal Soedirman pun menyebut. “ Slamet Riyadi adalah anak saya”.
Merasa tak dihargai, Letkol Sadikin pun mempertanyakan keadilan yang seharusnya juga mendapat pembelaan dari panglima tertinggi militer Indonesia tersebut.
“Lantas saya anak siapa Jenderal Soedirman” ujar Letkol Sadikin.
Pertemuan tersebut pun tidak mencapai kata sepakat hingga Pasukan Siliwangi mengancam akan melanggar perjanjian Renville.