Mengenal Ciri-ciri Puisi Berdasarkan Bentuknya, Berikut Struktur dan Contohnya

Puisi adalah karya sastra yang bahasanya terikat dalam irama, rima, dan matra. Puisi biasanya dibuat berdasarkan pengalaman hidup atau ide-ide kreatif yang bermakna. Mendengarkan seseorang berpuisi seperti mendengar kisah dari seorang yang telah hidup selama beribu-ribu tahun.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Mengenal Ciri-ciri Puisi Berdasarkan Bentuknya, Berikut Struktur dan Contohnya
ilustrasi membaca. www.walesonline.co.uk

Siapa yang tak mengenal Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Ismail, atau Sapardi Djoko Damono? Semuanya adalah seorang jenius yang memiliki pemikiran inspiratif yang dituangkan dalam syair dan sajak-sajak puisi indah dan penuh makna.

Puisi sendiri adalah karya sastra yang bahasanya terikat dalam irama, rima, dan matra. Puisi biasanya dibuat berdasarkan pengalaman hidup atau ide-ide kreatif yang bermakna. Mendengarkan seseorang berpuisi seperti mendengar kisah dari seorang yang telah hidup selama beribu-ribu tahun.

Puisi merupakan karya sastra indah yang patut dikenal dan diperhatikan. Berikut beberapa hal tentang puisi yang telah dirangkum dari rumus.co.id, mulai dari ciri-ciri puisi, struktur puisi, dan contoh puisi.

Macam Bentuk Puisi

Karya sastra puisi memiliki tiga macam bentuk, yaitu puisi umum, puisi lama, dan puisi baru. Ketiga macam puisi ini memiliki ciri-ciri puisi masing-masing, yaitu:

Ciri-Ciri Puisi Umum

• Penggunaan bait memiliki bentuk yang terdiri dari baris-baris.

• Penggunaan diksi memiliki bentuk yang bersifat kiasan (imajinatif), padat, dan indah.

• Penggunaan majas memiliki bentuk yang sangat dominan dalam penggunaan gaya bahasa.

• Penggunaan diksi mempertimbangkan adanya rima dan persajakan dalam bentuknya.

• Penggunaan setting, alur, dan tokoh tidak begitu ditonjolkan dalam pengungkapannya.

Ciri-Ciri Puisi Lama

• Tidak diketahui nama pengarang alias anonim.

• Pada pembentukan puisi, terikat pada jumlah baris, irama, rima, diksi, intonasi, dan lainnya, contohnya adalah pantun.

• Puisi ini memiliki bentuk gaya bahasa yang tetap (statis) dan klise.

• Dalam pembentukan puisi memiliki isi yang cenderung fantastis dan istanasentris.

• Puisi ini merupakan karya sastra lisan yang disampaikan dan diajarkan dari mulut ke mulut. 

Ciri-Ciri Puisi Baru

• Nama pengarang pada sebuah puisi diketahui.

• Pada pembentukan puisi tidak terikat pada jumlah baris, irama, dan rima.

• Puisi ini memiliki gaya bahasa yang berubah-ubah (dinamis).

• Dalam pembentukan puisi memiliki isi yang cenderung bersifat simetris.

• Pada pengucapan puisi ini lebih menggunakan sajak syair atau pola pantun.

• Pada pembentukan puisi biasanya tersusun dengan empat seuntai.

• Pada pembentukan puisi terdiri dari kesatuan sintaksis atau gatra yang memiliki 4 sampai 5 suku kata.

• Penulisan isi puisi berkaitan tentang kehidupan yang terjadi pada umumnya.

Struktur-Struktur Puisi

Sebuah karya sastra puisi, memiliki struktur-struktur yang terdapat di dalamnya. Struktur ini bertujuan agar pembentukan puisi dapat tersusun dengan baik. Secara singkat struktur-struktur puisi yaitu sebagai berikut :

Kata

Kata merupakan struktur pertama yang diperlukan dalam pembentukan sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat dalam pembentukan puisi, akan sangat menentukan dalam kesatuan dan keutuhan struktur-struktur lain dalam sebuah puisi. Kata-kata ini akan ditentukan lalu kemudian diformulasikan menjadi sebuah larik.

Larik

Larik adalah kalimat prosa dalam puisi yang memiliki bentuk beraneka ragam. Larik pada puisi bahkan juga bisa hanya berupa satu kata saja, bisa berupa Frase, atau juga bisa terbentuk dalam sebuah kalimat.

Bait

Bait merupakan kumpulan dari larik yang telah tersusun secara harmonis. Bait inilah yang membuat puisi menjadi menarik dan memiliki suatu kesatuan makna.

Bunyi

Bunyi pada saat berpuisi terbentuk oleh rima dan irama. Rima adalah persajakan yang ada pada sebuah puisi berupa nada-nada, yang disebabkan oleh ucapan kalimat atau kata-kata dalam larik dan bait.

Sedangkan irama merupakan pergantian tinggi dan rendah, panjang dan pendek, keras dan lembut ketika melakukan pembacaan pada sebuah puisi. Irama ini disebabkan karena adanya pengulangan pengucapan secara berturut-turut dan bervariasi.

Makna

Makna dihasilkan dari pemilihan sebuah kata dan pembentukan antara larik dan bait. Makna bisa diartikan sebagai isi atau pesan dalam puisi. Melalui makna ini, tujuan dari puisi dapat tersampaikan.

Contoh Puisi

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Doa

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Rekomendasi