Mencicipi Lezatnya Empal Gentong, Kuliner Legendaris Sisa "PDKT" Sunan Gunung Djati

Makanan bercita rasa gurih menggoda merupakan daya tarik khas dari Kota Cirebon. Diketahui jika makanan tersebut merupakan hasil "PDKT" Sunan Gunung Djati dalam bertoleransi dengan masyarakat Hindu dan Buddha di masa lalu.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Mencicipi Lezatnya Empal Gentong, Kuliner Legendaris Sisa "PDKT" Sunan Gunung Djati
Ilustrasi empal gentong. ©Shutterstock

Salah satu daya tarik wisata dari suatu daerah adalah makanan khasnya. Biasanya para pelancong yang singgah tidak akan melewatkan sisi berkuliner ria dengan cita rasa unik khas daerah.

Salah satu wilayah dengan kuliner yang luar biasa menggugah selera adalah Kota Cirebon. Daerah dengan nuansa budaya yang cukup kental tersebut menyimpan kuliner khas yang unik bernama Empal Gentong.

Empal yang dimaksud bukan irisan pipih daging sapi yang diolah dengan bumbu manis gurih, melainkan potongan daging kecil-kecil dengan siraman kuah santan khas Cirebon.

Bercita Rasa Gurih yang Menggoda

©Instagram/lukytapratiwi

Jika diamati, Empal gentong merupakan makanan berkuah santan berwarna kuning pekat dengan tampilan yang menyerupai gulai. Namun, yang membedakan dalam satu porsi empal gentong terdapat potongan selederi dan daun kucai yang makin menambah aroma yang menggugah selera.

Selain itu, cita rasa gurih yang “khas” dari kuahnya akan semakin nikmat jika ditambahkan sedikit perasan jeruk nipis dan taburan bubuk cabai giling.

Menggunakan Mayoritas Jeroan

Seperti yang dikutip dari Liputan6, makanan yang biasa disajikan dengan lontong ini dahulu tidak memakai daging secara keseluruhan. Melainkan banyak menggunakan varian jeroan khas dalam seperti, babat, usus, hati dan beberapa irisan lemak.

Namun perkembangannya kini, empal gentong sudah mulai banyak menggunakan daging sapi dan beberapa potong tulang muda yang makin menambah nikmat.

Dimasak Menggunakan Gentong dan Kayu Bakar

©2020 Merdeka.com

Hal unik dari kuliner khas kota udang tersebut adalah proses memasaknya. Empal gentong biasanya dimasak menggunakan wadah besar berbahan tanah liat (gentong) yang dibakar menggunakan api dari tungku kayu bakar.

Fungsi gentong dan kayu bakar merupakan rahasia penjaga kualitas turun temurun sehingga menghasilkan aroma tradisional yang unik dan menyeruak, saat kita mencicipinya langsung di warung sekitar wilayah kota maupun Kabupaten Cirebon.

Hasil "PDKT" Sunan Gunung Djati

©istimewa

Makanan tradisional memang tidak bisa lepas dari nilai historis di wilayah asalnya, begitu pula dengan kuliner empal gentong.

Di Kota Cirebon, makanan tersebut sempat menjadi saksi sejarah ketika Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati mulai memperkenalkan agama Islam di wilayah pesisir laut jawa tersebut.

Dikutip dari goodnewsfromindonesia.id, saat itu beliau mencoba dekat dengan para masyarakat di Cirebon melalui pengenalan makanan yang berkuah dan berbahan dasar daging kerbau, serta memiliki tekstur yang empuk kepada masyarakat setempat yang mayoritas menganut ajaran Hindu dan mengkramatkan hewan sapi.

Saat itu Sunan Gunung Djati sangat menghormati perbedaan yang ada di Cirebon, sehingga ia menggantinya dengan daging kerbau agar tidak menimbulkan perselisihan antar masyarakat di sana.

Empal gentong bisa menjadi salah satu daftar kuliner yang sangat recommended, baik disantap langsung di tempat, maupun dibawa pulang sebagai oleh-oleh dengan varian kemasan kaleng yang tahan hingga beberapa hari.

 

Rekomendasi