Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pernah Ditipu, Ini Kisah Tunanetra di Depok Jual Kerupuk untuk Bertahan Hidup

Pernah Ditipu, Ini Kisah Tunanetra di Depok Jual Kerupuk untuk Bertahan Hidup Penjual kerupuk tuna netra di Depok. ©2021 YouTube Liputan6 SCTV/Merdeka.com

Merdeka.com - Legiman (52) merupakan kepala keluarga yang gigih memperjuangkan hidup keluarga kecilnya. Ia tinggal di sebuah kontrakan, kawasan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat.

Di tengah keterbatasannya karena tidak bisa melihat (tunanetra), ia tetap giat untuk terus bekerja dengan berjualan kerupuk keliling menembus cuaca. Penghasilannya pun seringkali tak menentu.

Sebagaimana dikisahkan di kanal YouTube Liputan6 SCTV Jumat (17/12), ia menceritakan jika lika-liku perjalanannya tak mudah. Bahkan saat berjualan, ia pernah ditipu oleh pembeli hingga mengalami kerugian.

"Saya nikmati rezeki yang diberikan oleh Allah SWT, untuk hidup di pinggiran Jakarta" kata Legiman.

Pernah Menjadi Tukang Pijat hingga Ditangkap Satpol PP

penjual kerupuk tuna netra di depok

©2021 YouTube Liputan6 SCTV/Merdeka.com

Kepada wartawan, Legiman sempat menceritakan masa-masa awal hidup di pinggiran ibu kota. Dikatakan, sebelum berjualan kerupuk ia pernah menjadi tukang pijat di sebuah panti.

Tak berapa lama, keadaan serta penghasilannya kian tak menentu hingga ia mencoba pekerjaan sambilan dengan ikut mengamen di Jakarta. Sayangnya, saat itu ia pernah turut ditertibkan oleh petugas Satpol PP hingga tak dilanjutkan.

"Pertama kali saya ke Jakarta itu waktu tahun 1998. Saat itu saya terjun di panti pijat untuk bekerja sampai 2004 atau 2005. Saat itu peluangnya semakin sulit dan akhirnya saya mengamen, sampai pernah dibawa Satpol PP" ungkapnya.

Pernah Ditipu Pembeli

penjual kerupuk tuna netra di depok

©2021 YouTube Liputan6 SCTV/Merdeka.com

Legiman sendiri saat ini lebih banyak menjajakan dagangan di satu tempat, sembari menunggu pelanggan. Biasanya kerupuk-kerupuk yang ia ambil dari sesama teman tunanetra itu bisa langsung habis. Namun tak jarang ia juga mengalami nasib kurang baik saat berjualan, seperti dibohongi pelanggan.

Ia mengaku, keterbatasan fisiknya membuat ia tidak bisa melihat jumlah uang yang berikan pelanggan. Legiman hanya mengandalkan kejujuran dari pembeli.

"Saya juga pernah ditipu. Jadi waktu dulu itu kan ada kerupuk yang saya jual Rp5000, dan dia minta dua bungkus dengan harga Rp10 ribu. Dianya bilang ngasih Rp50 ribu dan minta kembali Rp40 ribu. Dan ternyata pas saya tunjukin ke orang lain, ternyata duitnya Rp20 ribu. Di situ saya cuma bisa sabar, dan saya serahkan sama yang kuasa" katanya.

Punya Metode Unik Membedakan Uang

Belajar dari pengalaman ditipu orang, Legiman memiliki beberapa metode untuk membedakan uang yang diperoleh, baik untuk pemasukan maupun kembalian ke konsumen.

Metode pertama ia akan menanyakan ke pembeli langsung jumlah uang yang dibayar ke dirinya, termasuk jumlah kembalian yang akan pembeli terima. Dari situ ia akan mengandalkan kejujuran orang.

Kemudian Legiman juga punya cara lain membedakan jumlah pecahan uang, yakni dengan mengukurnya. Menurut dia, nominal masing-masing uang memiliki ukuran panjang yang berbeda.

"Jadi misal di tangan saya tahu sudah pegang Rp50 ribu, kemudian saya akan mengambil uang semisal Rp20 ribu untuk kembali. Uang Rp20 ribu ini saya ukur dengan 50 tadi, karena uang pecahan besar ukurannya lebih panjang" terang dia.

Dukungan Istri

Sementara itu, Sarmini, istri Legiman yang juga tunanetra mengaku bahwa banyak suka dan duka yang dialaminya selama mendampingi Legiman.

Sebagai pendamping hidup, keduanya saling melengkapi dan mengerti satu sama lain untuk membesarkan ke tiga anaknya.

"Banyak sekali suka duka yang saya lalui. Sukanya ya kalau jualannya laku, dapat penghasilan banyak. Dukanya yang kadang kalau dagangan nggak laku" ungkapnya.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP