Mengenal Bratalegawa, Tokoh Asal Sunda Pertama yang Memeluk Agama Islam
Merdeka.com - Tak diketahui secara pasti kapan Agama Islam masuk ke Tatar Sunda di masa lalu. Namun memang sebelum Islam menyebar seperti sekarang, Jawa Barat dahulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan sejarah Agama Hindu yang cukup kental.
Kebijakan pemerintah dari dua kerajaan besar yakni Padjajaran dan Galuh membuat Agama Hindu menjadi cukup kuat di tanah Sunda.
Kendati belum diketahui secara spesifik kapan Islam masuk di Jawa Barat, namun saat itu terdapat salah seorang tokoh dari keluarga kerajaan Sunda Galuh bernama Bratalegawa.
Sebagai seorang pengusaha ia kerap berinteraksi dengan para pedagang dari Timur Tengah untuk menjalankan bisnis perdagangannya.
Menurut catatan dari Carita Parahyangan dan Carita Purwaka Caruban Nagari versi Wikipedia, Bratalegawa merupakan putra kedua dari Raja Bunisora dan sepupu dari Dyah Pitaloka Citraresmi di abad ke-13.
Dimulai saat Berkeliling untuk Berdagang

Sejarah masuknya Islam dari para pedagang Timur Tengah
©2020 https://thephotograph.co.id/
Diketahui jika Bratalegawa telah menjadi pedagang yang cukup besar di zamannya, hingga dirinya kerap beriteraksi dengan para saudagar dari Timur Tengah, bahkan dari proses interaksi itu ia sampai berkelana hingga ke luar negeri.
Setelah melakukan interaksi yang cukup sering, Bratalegawa mulai memiliki rasa penasaran dan tertarik dengan Agama Islam. Dalam catatan dari Nina H. Lubis, dan kawan-kawan, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat diketahui jika Bratalegawa diislamkan oleh para pedagang dari Timur Tengah tersebut.
Dalam narasi yang ditulis Nina tersebut dijelaskan juga jika Bratalegawa saat itu masih merupakan seorang penganut Agama Hindu yang taat.
“Ia diislamkan oleh saudagar Arab yang kebetulan bertemu di India,” tulis Nina.
Orang Sunda Pertama yang Naik Haji
Selain dikenal sebagai tokoh Islam pertama dari Tatar Sunda, Bratalegawa juga ternyata merupakan tokoh Islam pertama yang beribadah Haji. Bahkan saat itu dirinya kerap dipanggil Haji Purwa atau dalam bahasa Sunda merupakan orang pertama (yang mengawali) pergi haji.
Ada sumber lain juga yang menyebutkan jika ia pergi haji setelah menikah dengan perempuan asal Gujarat saat perjalanannya berdagang dan mengenal Islam hingga merubah namanya menjadi Haji Baharudin al-Jawi.
“Oleh karena ia merupakan haji pertama di Galuh, maka ia disebut Haji Purwa (pertama),” tulis Rokhmin Dahuri dari catatan Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon
Gagal Mengislamkan Galuh
Selepas menunaikan Ibadah Haji tersebut, Bratalegawa pun kembali ke tanah kelahirannya di Kawali (Ibu Kota Kerajaan Galuh) yang saat ini lebih dikenal sebagai wilayah Ciamis.
Disebutkan jika mulanya ia mencoba mengislamkan saudara kandungnya Giri Dewanti dan Ratu Banawati serta beberapa pemegang kekuasaan di Kerajaan Galuh.
Namun kuatnya pengaruh Hindu membuat ia gagal untuk menyebarkan Agama Islam yang saat itu juga dibantu oleh kawannya dari Timur Tengah.
Pergi ke Cirebon
Misinya yang gagal dalam mengislamkan Galuh membuat Bratalegawa atau Haji Purwa memilih menetap ke Caruban Girang (saat ini Cirebon) untuk menyebarkan Agama Islam.
Tak disangka respon masyarakat di Cirebon begitu positif sehingga masyarakat di kawasan pesisir pun banyak yang mengikuti jejaknya untuk memeluk Agama Islam.
Menariknya, perjuangan Islam dari Bratalegawa tersebut diteruskan oleh salah satu pengikutnya yang selama ini dikenal sebagai Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya