Dibungkus kertas warna warni, jajanan kerupuk yang satu ini terbilang unik. Bentuknya tak kurang dari setengah ukuran jempol orang dewasa, dengan ukuran persegi kecil.
Warga Sumedang biasa menyebutnya sebagai Kerupuk Bangreng. Makanan ringan ini melegendaris sejak dulu. Saat berkunjung ke kota ini, jangan lupa sempatkan diri untuk mencicipi lezatnya Kerupuk Bangreng yang renyah.
Advertisement
Kerupuk ini mudah ditemui, salah satunya di kawasan alun-alun, Masjid Agung Kabupaten Sumedang. Penjual kerupuk ini menggunakan pikulan unik, berbentuk tabung besar di depan dan belakangnya. Di sana, terisi penuh bungkusan Kerupuk Bangreng. Saat dikunyah, sensasi renyah berpadu gurih dari bawang putih sangat terasa. Kerupuk Bangreng cocok untuk jajanan sembari menikmati keindahan kota Sumedang.
Advertisement
Dikutip dari kanal YouTube Kebudayaan Sumedang, Minggu (20/8), makanan ini memiliki ciri khas dibungkus kertas warna-warni.
Menurut salah satu pelaku usaha Kerupuk Bangreng, Tarsa, kerupuk ini dibungkus dengan kertas telur atau serupa kertas minyak agar menarik. “Sebelumnya menurut orang tua ada empat pabrik di Desa Ambit (Situraja),” kata Tarsa.
Advertisement
Tarsa mengatakan bahwa istilah Bangreng di kerupuk tersebut muncul dari para pembeli di masa silam. Saat itu, penjual kerupuk ini banyak berjualan di acara kebudayaan desa bernama Bangreng, sehingga para pembeli mengindetikannya dengan kerupuk tersebut. Sebelumnya, kerupuk ini bernama Kerupuk Ronyok, karena dijual secara massif dan direnteng (digantung).
Advertisement
Menurut saksi sejarah lain, kerupuk ini sudah ada sejak zaman transisi antara penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang.
Saat itu, kerupuk ini berasal dari Kecamatan Situraja, dan banyak dijual di acara-acara hajatan. Saat awal-awal, penjualan kerupuk ini masih belum menggunakan kertas warna warni seperti sekarang.
Advertisement
Sementara, Kerupuk Bangreng sendiri memiliki dua varian rasa yakni original dan terasi udang. Untuk yang original, bahannya tepung tapioka, penyedap rasa, garam dan bawang putih. Sedangkan untuk yang terasi hampir sama, namun diberi tambahan terasi udang dengan aroma khas. “Jadi memang ada dua varian rasa, original dengan rasa terasi,” kata pembuat Kerupuk Bangreng lain, Udin.
Advertisement
Udin menambahkan, pembuatannya masih tradisional. Mula-mula adonan tapioka diuleni, lalu dimasukkan ke mesin cetak.
Mesin cetaknya masih terbuat dari kayu panjang, dengan bagian penekan berupa besi berukuran setengah meter, dan diberi pemberat batu.
Saat ini, Kerupuk Bangreng banyak dibuat di sentra rumahan, Kecamatan Situraja, dengan harga yang terjangkau.
Advertisement