Mencicipi Jajanan Legendaris Kerupuk Bangreng Khas Sumedang, Bungkusnya Unik

Berbeda dari kerupuk pada umumnya, kerupuk khas Sumedang ini dibungkus dengan cara yang tak biasa.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Mencicipi Jajanan Legendaris Kerupuk Bangreng Khas Sumedang, Bungkusnya Unik
Mencicipi Jajanan Legendaris Kerupuk Bangreng Khas Sumedang, Bungkusnya Unik (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dibungkus kertas warna warni, jajanan kerupuk yang satu ini terbilang unik. Bentuknya tak kurang dari setengah ukuran jempol orang dewasa, dengan ukuran persegi kecil.

Warga Sumedang biasa menyebutnya sebagai Kerupuk Bangreng. Makanan ringan ini melegendaris sejak dulu. Saat berkunjung ke kota ini, jangan lupa sempatkan diri untuk mencicipi lezatnya Kerupuk Bangreng yang renyah.

Kerupuk ini mudah ditemui, salah satunya di kawasan alun-alun, Masjid Agung Kabupaten Sumedang. Penjual kerupuk ini menggunakan pikulan unik, berbentuk tabung besar di depan dan belakangnya. Di sana, terisi penuh bungkusan Kerupuk Bangreng. Saat dikunyah, sensasi renyah berpadu gurih dari bawang putih sangat terasa. Kerupuk Bangreng cocok untuk jajanan sembari menikmati keindahan kota Sumedang.

Dibungkus kertas warna warni
Dok. Istimewa

Dikutip dari kanal YouTube Kebudayaan Sumedang, Minggu (20/8), makanan ini memiliki ciri khas dibungkus kertas warna-warni.

Menurut salah satu pelaku usaha Kerupuk Bangreng, Tarsa, kerupuk ini dibungkus dengan kertas telur atau serupa kertas minyak agar menarik. “Sebelumnya menurut orang tua ada empat pabrik di Desa Ambit (Situraja),” kata Tarsa.

Tarsa mengatakan bahwa istilah Bangreng di kerupuk tersebut muncul dari para pembeli di masa silam. Saat itu, penjual kerupuk ini banyak berjualan di acara kebudayaan desa bernama Bangreng, sehingga para pembeli mengindetikannya dengan kerupuk tersebut. Sebelumnya, kerupuk ini bernama Kerupuk Ronyok, karena dijual secara massif dan direnteng (digantung).

Sudah ada sejak 1940-an
Dok. Istimewa

Menurut saksi sejarah lain, kerupuk ini sudah ada sejak zaman transisi antara penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang.

Saat itu, kerupuk ini berasal dari Kecamatan Situraja, dan banyak dijual di acara-acara hajatan. Saat awal-awal, penjualan kerupuk ini masih belum menggunakan kertas warna warni seperti sekarang.

Sementara, Kerupuk Bangreng sendiri memiliki dua varian rasa yakni original dan terasi udang. Untuk yang original, bahannya tepung tapioka, penyedap rasa, garam dan bawang putih. Sedangkan untuk yang terasi hampir sama, namun diberi tambahan terasi udang dengan aroma khas. “Jadi memang ada dua varian rasa, original dengan rasa terasi,” kata pembuat Kerupuk Bangreng lain, Udin.

Proses pembuatannya masih tradisional
Dok. Istimewa

Udin menambahkan, pembuatannya masih tradisional. Mula-mula adonan tapioka diuleni, lalu dimasukkan ke mesin cetak.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mesin cetaknya masih terbuat dari kayu panjang, dengan bagian penekan berupa besi berukuran setengah meter, dan diberi pemberat batu.

Saat ini, Kerupuk Bangreng banyak dibuat di sentra rumahan, Kecamatan Situraja, dengan harga yang terjangkau.

Rekomendasi