Kisah Kawasan Jatinegara yang Belum Banyak Diketahui, Punya Dua Versi Nama dan Warganya Keturunan Banten

Ada banyak kisah di Jatinegara, mulai dari dua versi nama sampai warganya keturunan Banten.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah Kawasan Jatinegara yang Belum Banyak Diketahui, Punya Dua Versi Nama dan Warganya Keturunan Banten
Kisah Kawasan Jatinegara yang Belum Banyak Diketahui, Punya Dua Versi Nama dan Warganya Keturunan Banten (Merdeka.com)

Jatinegara merupakan sebuah kecamatan yang terletak di wilayah Jakarta Timur. Kawasan ini berada tak jauh dari wilayah Pulogadung dan Cakung.

Ada banyak hal menarik yang ditemukan di Jatinegara, termasuk dari sisi sejarahnya. Di masa silam, wilayah ini disebut sebagai permukiman dari kalangan warga Banten. Kemudian tak sedikit yang mengatakan bahwa Jatinegara adalah satu-satunya daerah yang saat ini dihuni oleh warga asli Jakarta.

Tak sampai di situ. Kabarnya yang beredar juga menyebut jika Jatinegara memiliki dua versi nama yang belum banyak diketahui masyarakat.

Berbicara Jatinegara, tak hanya soal bangunan stasiun dengan nama sama yang memiliki seni arsitektur kolonial. Sebab, daerah ini juga punya cerita yang menemani eksistensinya sejak pertama dihuni pada 1619.

Dulunya Hutan
Dok. Istimewa

Mengutip laman dinaskebudayaan.jakarta.go.id, dikatakan bahwa dahulunya kawasan Jatinegara merupakan hutan. 

(Gambar: YouTube View Around)

Daerah ini belum tersentuh masyarakat, apalagi pembangunan.

Titik keramaian hanya sebatas di wilayah pelabuhan yang tak jauh dari sana, sebagai pusat perdagangan sebelum abad ke-17.

Pembukaan lahan baru dimulai sekitar tahun 1619, setelah VOC mulai mengusai wilayah di sepanjang pantai Banten sampai Jakarta yang saat itu masih bernama Jayakarta.

Terkait asal usul Jatinegara menjadi wilayah permukiman, cikal bakal munculnya ketika Pangeran Jayakarta yang merupakan putra Kesultanan Banten diburu oleh VOC.

Saat itu, wilayah Banten hampir sepenuhnya dikuasai Belanda serta dibarengi dengan praktik monopoli ekonomi yang merugikan masyarakat setempat. Pangeran Jayakarta yang terhimpit, kemudian melarikan diri ke wilayah tenggara, hingga sampai ke sebuah hutan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di sana, ia kemudian mendirikan permukiman dan masjid sebagai tempat pelarian. Ketika itu, pangeran Jayakarta juga menamakan tempat pengasingannya sebagai Jatinegara atau Janti Nagara yakni negara yang merdeka dan memiliki jatidiri.

(Gambar: Tropenmuseum)

Tanah Dikuasai Belanda
Dok. Istimewa

Pelarian rupanya harus berakhir di sana, Pangeran Jayakarta yang mulai memimpin di wilayah Jakarta dan  mengubah nama wilayah menjadi Jayakarta sesuai namanya.

Namun sayang, invasi VOC yang kuat membuat Pangeran Jayakarta kembali terusir hingga dikabarkan meninggal dunia.

Tak lama setelah itu, wilayah Jatinegara kemudian dikuasai oleh Belanda dan dinamai Meester Cornelis. Nama itu berasal dari seorang Belanda yang memiliki modal untuk membeli sebagian besar tanah di sana.

Karena tanah dibeli oleh Cornelis asal Belanda, maka kawasan itu berubah namanya menjadi Meester Cornelis. Meester Cornelis merupakan sosok yang dekat dengan rakyat kala itu.

Ia juga berperan menyebarkan agama Kristen di sana, dan mendirikan sejumlah fasilitas seperti gerja dan sekolah. Karena tingginya penghormatan rakyat kepada sosoknya, ia lantas dijuluki Meester atau tuan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selain itu, Meester Cornelis juga aktif menerjemahkan buku-buku religi ke dalam bahasa Melayu agar mudah dipahami oleh warga Pribumi kala itu.

Setelah tahun 1940-an silam, nama Meester Cornelis kemudian berganti menjadi Jatinegara. Saat itu, mayoritas warga yang menempatinya merupakan keturunan dari pasukan yang dibawa Pangeran Jayakarta dari Banten.

Itulah mengapa, jika di kawasan ini banyak yang fasih berbahasa Sunda sampai saat ini. Walau demikian, sebagian warga juga menguasai bahasa Betawi untuk melakukan percakapan sehari-hari.

Dahulu, kawasan ini juga diketahui bukan termasuk wilayah Jakarta. Wilayah ini baru masuk Jakarta pada masa penjajahan Jepang.

Sebelumnya, Jatinegara masih menyandang status sebagai stad gemeente sendiri atau wilayah sendiri.

Saat itu wilayahnya terdiri atas Desa Jatinegara Onderdistrict Pulogadung, Distrik dan Regentschap Messter Carnelis.

Pada 1 Januari 1936,
berdasarkan ordonansi Staatblad 1934 No. 687, daerah ini digabung dalam Stadgemeente Batavia. Sebelum tahun 1926, Jatinegara merupakan daerah di luar kota Jayakarta.

Adapun Jatinegara juga sempat dikenal memiliki dua nama, yakni Jatinegara dan Jatinegara Kaum. Jatinegara kaum menampilkan kawasan tersebut yang ditinggali oleh warga secara umum, termasuk etnits Tionghoa. Sementara Jatinegara Kaum ditinggali oleh warga keturunan pengikut Pangeran Jayakarta.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kaum merujuk pada kalangan santri dan penerus abdi dalem dari Kesultanan Banten di sana kala itu. Mayoritas profesi mereka adalah guru ngaji, dan pendakwah di masanya.

Namun, istilah Jatinegara Kaum kurang dikenal, hingga saat ini masyarakat umum lebih mengenalnya sebagai Jatinegara saja.

Rekomendasi