Kisah Hasan Maolani, Ulama Kuningan yang Lebih Dipatuhi Rakyat Dibanding Sang Bupati
Merdeka.com - Seorang ulama asal Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan Jawa Barat pernah dijadikan panutan oleh masyarakat karena memiliki kekhasan tersendiri ketika berdakwah.Sosok karismatik itu bernama Hasan Maolani, atau nama resminya K.H. Hasan Maulani.
Pribadinya yang bersahaja membuat tokoh yang juga dikenal dengan nama Eyang Manado ini berhasil menarik minat masyarakat untuk belajar Agama Islam bersamanya. Bahkan saking terkenalnya, wilayah Lengkong selalu didatangi oleh masyarakat dari penjuru daerah di Pulau Jawa hingga membuat tentara Belanda ketakutan.
Konon ia sempat difitnah oleh tentara Belanda lantaran kepopulerannya melebihi sosok Bupati Kuningan yang tengah memimpin saat itu. Lantas bagaimana kelanjutan kisah menariknya? Berikut uraian seputar tokoh Hasan Maolani yang Merdeka.com rangkum dari berbagai sumber.
Tak Pernah Memiliki Pakaian Lebih dari Tiga Pasang
Salah satu hal menarik dari sosok Hasan Maolani adalah pribadinya yang sederhana. Bahkan dalam uraian yang ditulis di fu.uinsgd.ac.id berdasarkan catatan Nina Herlina Lubis, Sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung menyebut jika Hasan merupakan sosok yang begitu sederhana (zuhud).
Saking sederhananya ia tak pernah memiliki pakaian lebih dari tiga pasang. Ketika mendapatkan lebih dari angka tersebut, dirinya langsung memberikan kepada yang membutuhkan.
Disebutkan juga ia tidak pernah memakan makanan dari sumber yang bernyawa, dan senang berbagi terhadap orang lain. Konon hal itulah yang menjadi daya tarik mengapa pondok pesantrennya dahulu selalu ramai dikunjungi oleh lapisan masyarakat.
Melawan Belanda Tanpa Perang Fisik
Selain sebagai ulama, sosok Hasan Maolani juga turut melakukan perlawanan terhadap kekejaman tentara Belanda yang menjajah di Kuningan maupun Jawa Barat.
Namun tak seperti kebanyakan tokoh perlawanan, ia tak menggunakan kekuatan fisik untuk memerangi kesewenang wenangan penjajah Eropa tersebut. Pendekatannya hanya menggunakan spiritual yang ia aplikasikan melalui wirid.
Sebagai tokoh pengamal Tarekat Syattariah, pendekatan tersebut begitu digiatkan. Sebagai contoh, ia mengajarkan kepada para petani bahwa hasil yang ia tanam tentunya berhak ia nikmati hasilnya (baik berupa uang setelah dijual, maupun langsung) tanpa harus lewat perantara taktik licik Belanda.
Masyarakat, khususnya muridnya pun banyak yang mengamalkan ajaran tersebut hingga mengancam rencana Belanda untuk menguasai hasil upeti dari pertanian maupun usaha perdagangan masyarakat.
Belanda Dibuat Repot Muridnya hingga Hasan Pun Difitnah
Dengan perkembangan ajaran Syattariyah yang diajarkan oleh Hasan Maolani, hingga berkembang ke wilayah Jawa Tengah, Timur hingga Banten membuat tentara belanda semakin terancam secara politik.
Menurut penuturan dari Yusron Kholid, cicit ke-6 dari nasab Hasan Maolani di artikel yang diterbitkan dialektikakuningan.com, ajaran tersebut membuat Belanda menyebar isu miring terhadap sosok Hasan Maolani.
Di masa perjuangannya, sekitar tahun 1196 – 1291 H/1782 – 1874 M pemerintah kolonial melalui tangan kanannya di Kabupaten Kuningan mengatur strategi melawan ajarannya, dengan menyebar kabar bahwa ajaran Syattariyah dari Hasan Maolani mengandung unsur kesesatan dan tak sesuai dengan syariat Islam.
Berdasarkan tuduhan tersebut ia lantas dijadikan tawanan Belanda di wilayah Cirebon, Jawa Barat, hingga ke wilayah Manado, Sulawesi Utara. Konon hal itulah yang membuat ia dikenal juga sebagai Kyai Manado.
Informasi tentang penahanan Hasan pun menjadi ramai, hal itu membuat masyarakat berduyun-duyun datang menemui sang ulama. Bahkan saking banyaknya masyarakat yang menjenguk dan belajar agama, Belanda dibuat repot dan residen Priangan membuat keputusan pengasingan terhadapnya.
Masyarakat Lebih Mematuhi Hasan Maolani Daripada Bupati
Tindakan pengasingan tersebut berdasar pada taktik Belanda melalui Residen Priangan yang membuat narasi bahwa masyarakat, dalam hal ini murid-muridnya lebih mematuhi sosoknya daripada pemimpin daerah setempat (Bupati Kuningan).
“Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para Bupati. Mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan Kiai Lengkong dari Pulau Jawa”. Narasi pengasingan Hasan Maolana atas politik Belanda dan Residen Priangan yang tak suka dengan cara dakwahnya dilansir dari laman al-ghoffaar.or.id
Sehingga Hasan Maolani pun terpaksa diasingkan ke wilayah Manado, Sulawesi Utara dengan harapan agar tidak ada lagi masyarakat yang mengunjunginya. Pengasingan tersebut berdasarkan surat keputusan tanggal 6 Juni 1842, yang menyatakan bahwa dirinya merupakan tahanan negara.
Wafat di Manado dan Cerita Rambutnya yang Dikubur di Kuningan

Makam K.H. Hasan Maulani/ Hasan Maolani di Sulawesi Utara
©2020 panjimasyarakat.com/editorial Merdeka.com
Seperti dilansir dari panjimasyarakat.com, di akhir hayatnya ia terus mengajarkan ilmu Agama Islam di Kampung Jawa Manado. Menurut sumber tersebut Hasan Maolani turut mengajar bekas pasukan dari Pangeran Diponegoro. Selain itu disebutkan juga jika banyak dari kalangan masyarakat setempat yang juga tertarik berkat caranya berdakwah.
Hasan Maolani sendiri meninggal pada tanggal 3 Mei 1874, namun terdapat versi lain yang menyebut jika dia meninggal di tanggal 29 April pada tahun yang sama. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kyai Mojo, Wulauan, Tondano Minahasa, Sulawesi Utara.
Sebelum wafat beliau mengirimkan beberapa helai rambutnya untuk dimakamkan di tanah kelahirannya di Lengkong, Kuningan, Jawa Barat, dengan maksud agar keturunannya tidak kesulitan untuk berziarah ke Sulawesi Utara.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya