Intip Keunikan Talas Beneng, Si Umbi Raksasa Asal Pandeglang yang Mendunia
Merdeka.com - Jika mendengar kata ‘talas’, sontak kita langsung mengaitkannya dengan salah satu kota di Jawa Barat, yaitu Bogor. Namun jangan salah, di Kabupaten Pandenglang, talas juga menjadi salah satu komoditas yang diperhitungkan di wilayah tersebut, yaitu Talas Beneng (Xanthosoma undipes k.koch).
Melansir dariwww.litbang.pertanian.go.id, talas beneng merupakan singkatan dari besar dan koneng (kuning dalam bahasa Indonesia). Hal tersebut terlihat dari ukurannya yang di atas rata-rata talas pada umumnya, yaitu 120 cm, bobot 42 kg dan ukuran lingkar luar batang mencapai 50 cm.
Talas beneng awalnya merupakan tanaman liar yang sudah 12 tahun menjadi budi daya yang menguntungkan bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Memiliki Nutrisi Tinggi

https://www.pertanianku.com/ ©2020 Merdeka.com
Talas beneng disebut memiliki nutrisi yang cukup tinggi dengan hitungan 100 gram setara dengan Energi 83,7 kkal, Protein 2 gr, Lemak 0.27 gr, Karbohidrat 18,3 gr, Pati 15,2 %.
MElansir dari dkp.pandeglangkab.go.id, talas juga mengandung beberapa kimia alami, yaitu kadar air 84,65, kadar pati 6,97, kadar protein 8,77, kadar abu 8,53, kadar lemak 0,43, oksalat 61,783,75 ppm dan rendaman tepung sebanyak 10,24.
Diolah Jadi Beragam Varian
Bagi masyarakat di Pandeglang, talas beneng biasanya diolah menjadi beragam makanan dengan cara pengolahan menjadi beragam varian makanan seperti brownies, bakpao dan kue kering melalui cara memasak yang masih konvensional (dikukus dan digoreng).
Namun, banyak juga dari kalangan masyarakat yang mengelolanya menjadi tepung dan selanjutnya dikirim ke industri-industri makanan sebagai bahan campurannya.
Tembus hingga Pasar Belanda dan Australia

http://www.litbang.pertanian.go.id/ ©2020 Merdeka.com
Saat ini, talas kebanggaan masyarakat Kabupaten Pandeglang tersebut telah tembus hingga ke pangsa pasar mancanegara. Melansir dari ANTARA, talas yang memiliki warna kuning mencolok tersebut bahkan telah tembus hingga Belanda dan Australia.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid bahkan menjelaskan, dalam sekali ekspor talas beneng, para pengolah lokal bisa mengirim hingga 16 ton per minggu dalam bentuk tepung.
"Kita menjual produk mentahnya ke Malang, saat ini per minggu sekitar 16 ton. Kemudian, di Malang diolah menjadi bubur dan kemudian di ekspor ke Belanda," kata Agus di Serang beberapa waktu lalu.
Dijadikan Produk Tembakau
Agus menambahkan, selain dalam bentuk tepung untuk kebutuhan kosmetik hingga panganan, daunnya pun cukup digemari di Australia. Bahkan masyarakat di negara kanguru tersebut menjadikan daun talas sebagai pengganti tembakau untuk rokok.
"Kalau bubur dari umbi talas beneng itu untuk kosmetik, makanan dan lainnya. Itu yang ke Belanda, kalau ke Australia itu daun talasnya, katanya untuk (pengganti) tembakau," katanya.
Dikembangkan Tidak Hanya di Pandeglang

Youtube Kementerian Pertanian RI ©2020 Merdeka.com
Agus menambahkan, saat ini pihaknya terus berupaya mengembangkan talas beneng hingga ke luar Kabupaten Pandeglang. Sehingga bisa memberikan nilai tambah kepada para petani terutama di wilayah-wilayah yang cocok seperti dataran tinggi di Banten.
"Saat ini di Pandeglang sudah dikembangkan sekitar 200 hektare. Sekarang ini tidak hanya dikembangkan di Pandeglang, tetapi di Lebak dan juga di Padarincang dan Ciomas Kabupaten Serang," terangnya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya