Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

5 Fakta Dalang Jemblung, Teater Lokal Ala Masyarakat Banyumas

5 Fakta Dalang Jemblung, Teater Lokal Ala Masyarakat Banyumas Dalang Jemblung. ©Kemdikbud.go.id

Merdeka.com - Dalang Jemblung merupakan bentuk kesenian lokal yang digemari masyarakat khususnya di kawasan Banyumas. Kata “Jemblung” dalam penamaan kesenian ini berasal dari kata “gemblung” yang artinya gila. Konon, kata itu pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Raja Amangkurat dari Kerajaan Mataram.

Dilansir dari Kemdikbud.go.id, Dalang Jemblung merupakan teater tutur yang beraliran Banyumasan. Pementasannya tidak diiringi peralatan musik tradisional.

Oleh karena itu selain memerankan tokoh dalam cerita, para pemainnya juga melantunkan musik pengiring yang berasal dari suara mereka sendiri.

Di kalangan masyarakat Banyumas, pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun juga memberikan pendidikan dan ajaran moral dalam kehidupan sehari-hari. Berikut selengkapnya:

Asal Usul Dalang Jemblung

dalang jemblung

©Kemdikbud.go.id

Setidaknya ada tiga versi yang menceritakan asal usul munculnya kesenian Dalang Jemblung. Salah satu versi cerita mengatakan kesenian itu muncul pada era Kerajaan Mataram masa kepemimpinan Amangkurat I.

Pada zaman itu hidup seorang dalang bernama Ki Lebdojiwo. Tokoh idola Ki Lebdojiwo adalah Umardadi. Oleh karena itu, Ki Lebdojiwo sering menyebut dirinya dengan nama Jemblung Umarmadi.

Pada saat pemberontakan Trunajaya terhadap Mataram, Ki Lebdojiwo ikut lari bersama Amangkurat I untuk meninggalkan Mataram menuju Batavia. Di suatu persinggahan orang-orang meminta agar Ki Lebdojiwo membuat pertunjukan wayang.

Tapi karena pelarian itu dilakukan dengan terburu-buru, dia tak sempat membawa wayang. Maka terpaksalah Ki Lebdojiwo melakukan pertunjukan tanpa wayang dan tanpa iringan. Karena kemahiran Ki Lebdojiwo, pertunjukan itu malah menarik penonton.

Mulai saat itulah pertunjukan tanpa wayang dan iringan itu disebut Wayang Jemblung. Nama itu diberikan oleh masyarakat karena tokoh ceritanya adalah Jemblung Umarmadi.

Pementasan Sederhana

dalang jemblung

©Kemdikbud.go.id

Pementasan Dalang Jemblung terdiri dari empat orang pemain. Pembagiannya, satu orang berfungsi sebagai juru bicara, dua orang berfungsi sebagai peraga, dan satu orang sebagai pesinden.

Bentuk pementasannya pun terbilang sangat sederhana dan bisa dilakukan di dalam rumah. Saat pementasan, empat orang pemain kesenian itu duduk berkeliling. Kemudian di tengahnya terdapat sebuah meja kecil yang dilengkapi dengan “kudhi”, yaitu semacam pisau khas Banyumas.

Fungsi kudhi yang diletakkan di atas meja itu adalah sebagai peralatan yang digunakan sebagai senjata apabila ada adegan perang. Sementara itu pakaian yang digunakan para pemerannya merupakan pakaian khas Banyumas yang terdiri dari blangkon, jas tutup atau surjan, kain batik, dan sandal selop untuk alas kakinya.

Kesenian Mengolah Suara

dalang jemblung

©Kemdikbud.go.id

Satu hal yang penting dari pementasan kesenian ini adalah kemampuan mengolah suara. Dengan kemampuan suaranya, para pemainnya dapat menggambarkan suasana cerita, kejadian dalam cerita, dan dapat pula menggambarkan berbagai tokoh dan berbagai watak yang dimainkan.

Dengan kemampuan mengolah suara inilah pertunjukan ini dapat menjadi begitu menarik dan tidak membosankan. Selain itu di tengah pertunjukan itu juga diselingi humor yang menjadi kegemaran para penonton. Humor itu merupakan khas Banyumas dan diucapkan dengan dialek Banyumasan.

Cerita Dalang Jemblung

dalang jemblung

©Kemdikbud.go.id

Cerita Dalang Jemblung diambil dari sastra lisan yang memang sudah dikenal masyarakat. Sehingga para pemainnya tinggal melakukan improvisasi memainkan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Secara turun temurun, mereka juga sudah mengikuti pendahulunya dalam membawakan isi cerita.

Dilansir dari Kemdikbud.go.id, cerita yang dihasilkan berasal dari cerita pewayangan. Namun seiring waktu, cerita yang disajikan makin beragam. Tak hanya mengangkat cerita pewayangan, kesenian ini juga mengangkat cerita tentang kisah-kisah seputar Islam dan perjuangan, misalnya kisah-kisah mengenai Sunan Kalijaga, Pangeran Diponegoro, dan Untung Surapati.

Mengalami Perluasan

dalang jemblung

©Kemdikbud.go.id

Seiring waktu, kesenian Dalang Jemblung tak hanya dikenal di kalangan masyarakat Banyumas, namun juga sampai ke daerah Ponorogo. Di tempat itu, kesenian Dalang Jemblung dimodifikasi dengan seni reog.

Sementara itu di Blitar, kesenian Dalang Jemblung dibawakan dengan iringan gamelan yang dikolaborasikan dengan musik organ. Pengembangan ini dilakukan karena minat orang terhadap kesenian Dalang Jemblung semakin menurun. Walau begitu, pementasannya yang tanpa wayang tetap dipertahankan.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP