Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Terharu Lihat Alquran & Basmallah, Tentara Inggris Membelot Berjuang untuk Indonesia

Terharu Lihat Alquran & Basmallah, Tentara Inggris Membelot Berjuang untuk Indonesia Prajurit British Indian Army yang membelot ke kubu Republik saat ditangkap militer Belanda. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekelompok tentara Inggris melakukan pembelotan ke kubu pejuang Republik selama penugasan mereka ke Indonesia. Sebagian besar karena alasan solidaritas agama.

Penulis: Hendi Jo

Alkisah pada suatu siang di tahun 1946. Letnan Abu Nawaz dan 14 anak buahnya sama sekali tak menyangka basis musuh yang harus dihancurkan menurut Letnan Kolonel Loudly (komandan tentara Inggris di Medan) ternyata adalah sebuah masjid, tempat ibadah umat Islam yang juga menjadi agama mereka. Alih-alih segera melakukan pembakaran, mereka semua hanya bisa terdiam.

Merasa tak mampu 'berkhianat' terhadap agamanya, perwira Inggris asal India tersebut malah memilih balik badan dan membelot ke kubu musuh: para pejuang Indonesia. Aksi itu lantas dikuti oleh para anak buahnya.

"Penghancuran Masjid sendiri itu kemudian dilakukan oleh pasukan Inggris yang lain…" ujar Muhammad TWH (86), wartawan senior sekaligus pemerhati sejarah revolusi di Medan.

Terharu Setelah Melihat Alquran dan Basmallah

Konflik batin yang sama dirasakan oleh Prajurit Ghulam Ali saat ditugaskan berpatroli ke sebuah kawasan di utara Jakarta. Awalnya dia sama sekali tak mengerti alasan komandannya yang berkebangsaan Inggris melarang keras para prajurit BIA untuk bergaul dengan penduduk lokal. Ketidakmengertian itu mulai terjawab saat dia memasuki sebuah kampung.

"Ketika kami memasuki sebuah rumah kosong, kami menemukan tulisan basmallah dan sebuah kitab Alquran di sana. Hati kami menjadi haru dan muncul keinginan untuk membantu orang-orang Indonesia…" kenang pensiunan Polri itu seperti ditulis dalam Buletin Badan Kontak Purnawirawan/Warakawuri-Polri Mabes edisi Agustus 1986.

Berbagai pengalaman itu menjadikan para prajurit BIA cepat sadar jika mereka tengah 'diadudomba' dengan sesama saudara muslim. Muncul insiatif di kalangan mereka untuk mencari sendiri pemuka agama atau tokoh Islam yang bisa memberikan penjelasan lebih mendalam terkait perjuangan orang-orang Indonesia.

Tentara Inggris di rumah Tabib

Di Batavia (Jakarta), para prajurit BIA yang beragama Islam menemukan seorang pemuka Islam berkebangsaan India yang bisa dipercaya oleh mereka. Namanya N.M. Sher, seorang tabib yang tinggal di Jalan Senen Raya.

Setiap akhir pekan, rumah sang tabib biasanya dipenuhi oleh tentara Inggris muslim. Selain dapat menikmati makan dan minum khas negeri mereka, di rumah Tabib Sher orang-orang Hindustan itu pun bisa mendapatkan informasi terpercaya mengenai perjuangan orang-orang Indonesia. Terutama mengenai Sukarno-Hatta, dua pemimpin gerakan pembebasan Indonesia.

Berkat informasi dari Tabib Sher banyak prajurit BIA muslim yang kemudian jatuh simpati terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Mereka merasa senasib sepenanggungan dengan orang-orang Indonesia dan marah kepada Belanda yang memiliki niat menjajah kembali Indonesia.

"(Para prajurit Inggris itu pada akhirnya) sering menyerahkan senjata, granat, peluru kepada saya untuk diteruskan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia di pedalaman," ungkap Sher dalam otobiografi dokter R.Soeharto, Saksi Sejarah:Mengikuti Perjuangan Dwitunggal.

Rasa Solidaritas Sesama Tentara Muslim

Suatu hari Tabib Sher diberitahu jika Presiden Sukarno tengah dikepung oleh serdadu-serdadu Belanda di depan rumah Soeharto. Dia sama sekali tak bisa keluar dari mobil karena para serdadu itu mengancam akan membunuhnya. Soeharto sendiri sebagai tuan rumah tak bisa berbuat apa-apa.

Demi mendengar kabar tersebut, Sher lantas memberitahu kepada prajurit-prajurit BIA yang tengah berkumpul di rumahnya saat itu. Tanpa banyak pertimbangan, berangkatlah mereka ke Jalan Kramat Raya, tempat rumah Soeharto berada. Begitu tiba, salah seorang prajurit BIA itu berteriak agar serdadu-serdadu Belanda tersebut menghentikan aksinya.

Alih-alih patuh, serdadu-serdadu itu malah semakin beringas dan menyatakan bahwa mereka tak akan melepaskan musuh besarnya yang sudah terjebak di depan mata. Penolakan itu direspon dengan keras oleh para prajurit BIA. Tanpa diperintah, mereka kemudian membentuk posisi stelling, siap bertempur dengan kelompok tentara Belanda itu.

Melihat keseriusan tentara Inggris tersebut, serdadu-serdadu Belanda pun akhirnya keder. Mereka pun mundur sambil mengucapkan sumpah serapah. Saat mereka melakukan gerakan mundur itulah, Soeharto kemudian datang menjemput Bung Karno dan membawanya cepat ke rumahnya. Maka selamatlah presiden RI dari teror tentara Belanda.

Selama 1945-1946, rasa solidaritas sebagai sesama muslim semakin menguat di kalangan prajurit BIA beragama Islam yang ditugaskan di Jawa dan Sumatra. Sebagai contoh, saat mereka akan ditugaskan untuk berperang ke Surabaya pada 15 November 1945 terjadi aksi pembangkangan massif yang berujung penahanan sekira 600 prajurit muslim.

"Mereka lantas dikirim ke penjara militer di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu," tulis Muhammad Rivai dalam Merdeka atau Mati.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP