Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sosok Orang-orang Tionghoa di Balik Kemunculan Bakpia di Yogya

Sosok Orang-orang Tionghoa di Balik Kemunculan Bakpia di Yogya Sosok Orang-Orang Tionghoa di Balik Bakpia Jogja. ©Merdeka.com/Shani Rasyid

Merdeka.com - Siang terik di akhir pekan pada Sabtu (29/1), Merdeka.com berkesempatan mengunjungi toko Bakpia 75 di Jalan KS Tubun, Kota Yogyakarta. Sudah berdiri sejak tahun 1948, toko itu disebut-sebut sebagai toko bakpia tertua di Yogya.

Sesampai di ruang tunggu tamu, sosok perempuan baya menyambut dengan senyuman. Dia bernama Mak Tin. Warga sekitar lebih mengenalnya dengan nama Bu Yenny. Usianya 80 tahun. Dia merupakan penerus generasi kedua Bakpia 75. Dia lah sosok di balik besarnya bakpia di Jogja.

“Mak Tin ini termasuk orang yang memperjuangkan bakpia hingga saat ini, makanya sekarang banyak warga yang kemudian membuka toko bakpia,” kata Mareta Epon, Penanggung Jawab Bakpia 75 yang saat itu duduk mendampingi Mak Tin.

sosok orang orang tionghoa di balik bakpia jogja©Merdeka.com/Shani Rasyid

Kemunculan bakpia di Yogya tak lepas dari sosok orang-orang Tionghoa yang berada di belakangnya. Sosok pertama adalah Kwik Sun Kok. Dalam bukunya yang berjudul Bakpia: Si Bulat Manis yang Selalu Dicari, Pakar Kuliner Nusantara Murdjiati Gardjito menulis bahwa Kwik Sun Kok merupakan warga Tionghoa yang berasal dari Wonogiri. Pada waktu itu, tepatnya pada akhir dekade 1940-an, belum banyak variasi kudapan k ecil yang ditemui di Yogya.

“Saat itu belum ada bakpia yang lain. Kalau sama Pathuk masih duluan sini. Aslinya minyaknya pakai minyak babi. Karena di sini banyak orang muslim, maka tidak pakai minyak babi,” kata Jumikem, menantu Kwik Sun Kok, seperti tertulis dalam buku Bakpia: Si Bulat Manis yang Selalu Dicari.

Mengenai sosok Kwik Sun Kok, Murdjiati tak bisa memastikan apakah dia imigran China atau warga keturunan. Asal muasal keluarganya sulit dilacak hingga sekarang. Kwik Sun Kok mengembangkan bisnis bakpia-nya di kawasan Tamansari.

Menurut Jumikem, Kwik Sun Kok memang dikenal menjaga rahasia pembuatannya dengan sangat ketat agar tidak tersebar. Seiring waktu, bisnis bakpia di Tamansari berkembang di era 1940-an hingga muncul istilah Bakpia Tamansari.

Pada dekade 1980-an, ketenaran Bakpia Tamansari mulai surut. Menurut Murdjiati, kini sentra bakpia di sana hanya menyisakan dua toko yang aktif, yaitu Bakpia Nitiguritno dan Bakpia Lestari. Berbeda dengan sentra bakpia di Pathuk yang berkembang pesat hingga kini. Di sana, ada satu toko bakpia tertua, yaitu Bakpia 75 yang juga didirikan oleh seorang Tionghoa bernama Liem Bok Sing.

sosok orang orang tionghoa di balik bakpia jogja

Liem Bok Sing (paling kiri), di pernikahan putranya, Pak Yen (kedua dari kanan) dan Mak Tin (kedua dari kiri). ©Bakpia 75

Dalam menjajakan dagangan bakpia, Kwik Sun Kok punya hubungan dagang dengan pendiri Bakpia 75, Liem Bok Sing. Saat itu, Kwik Sun Kok sering bertemu Liem Bok Sing untuk membeli arang yang akan digunakan untuk bahan bakar memanggang bakpia.

“Dulu Bah Sun (Kwik Sun Kok) beli arang di sana. Liem Bok Sing kan dulu jual arang,” kata Jumikem seperti dikutip dalam buku Bakpia: Si Bulat Manis yang Selalu Dicari. Mak Tin, pemilik Bakpia 75 sekaligus anak menantu dari Liem Bok Sing, tidak tahu persis apakah ayah mertuanya dulu memiliki hubungan dagang dengan Kwin Sun Kok. Hanya dia mengiyakan pada saat itu Liem Bok Sing sempat berjualan arang.

Mak Tin mengatakan, Liem Bok Sing pertama kali membuka toko Bakpia 75 pada tahun 1948. Nama “75” sendiri dipilih sesuai nomor rumah tempat ia membuka jualan itu.

“Dulu kan di sini namanya Jalan Pathuk. Di jalan ini kami membuka toko pertama kami di rumah nomor 75. Karena dulu orang membuat brand itu se-simple itu. Jadi bakpia yang sudah ada dari dulu kebanyakan namanya diambil dari nomor-nomor rumah. Kalau sekarang yang baru-baru kebanyakan bukan nomor rumah,” kata Mareta.

“Orang zaman dulu kalau buat brand kan nggak bagus-bagus gitu lo. Asal lah,” sambung Mak Tin.

sosok orang orang tionghoa di balik bakpia jogja

Mak Tin, Owner sekaligus penerus generasi kedua Bakpia 75 ©Merdeka.com/Shani Rasyid

Berbeda dengan Kwik Sun Kok yang asal-usulnya belum jelas, Mak Tin mengatakan kalau Liem Bok Sing merupakan imigran dari China. Ia datang ke Yogya bersama sahabatnya, Chek Gek U. Di Yogya, mereka berdua membuka usaha penjualan kue jajanan.

Dalam berjualan kue jajanan, Liem Bok Sing dibantu oleh dua karyawannya. Mereka berkeliling membawa dagangan dan berkeliling dari rumah ke rumah serta dari pasar ke pasar. Di antara kue-kue yang dijual itu, bakpia yang paling laku.

“Jadi kemungkinan mereka berdua sudah membuat bakpia waktu mereka tinggal di China,” kata Mak Tin.

Saat pertama-tama berjualan, Liem Bok Sing sudah menjual bakpianya dengan resep rasa kacang hijau. Mengenai resep daging babi, Mak Tin mengatakan sejak kedatangannya ke Yogya Liem Bok Sing sudah tidak menggunakan resep itu.

“Karena saat tinggal di sini, dia menikah dengan orang Jawa. Jadi istrinya itu orang Jawa. Mungkin takut,” ujar Mak Tin menceritakan sosok ayah mertuanya itu.

Saat ditanya mengenai kenapa Liem Bok Sing datang dari China ke Yogya waktu itu, Mak Tin mengaku tidak tahu. Ayah kandungnya sendiri sebenarnya juga merupakan pendatang dari China. Saat tinggal di Yogya, dia bekerja sebagai dokter. Namun setelah menikah dan memiliki anak, dia kembali pulang ke China. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa ayahnya datang dan tinggal di Yogya waktu itu.

“Nggak tahu, mungkin dolan atau apa. Tapi kok punya istri, punya anak saya dan ternyata perempuan. Kalau perempuan dia nggak mau. Kalau laki-laki mungkin dibawa pulang ke China,” ungkap Mak Tin.

sosok orang orang tionghoa di balik bakpia jogja

bangunan toko Bakpia 75 pertama kali yang sekarang sudah pindah di sebelahnya ©Merdeka.com/Shani Rasyid

Sepeninggal Liem Bok Sing, usaha Bakpia Pathuk 75 diteruskan oleh Mak Tin dan suaminya, Pak Yen. Jika hanya digunakan sebagai tempat produksi bakpia, mereka mulai membuka rumahnya sebagai toko jualan bakpia.

“Jadi dulunya hanya rumah tertutup. Tapi setelah papahnya nggak ada, suami saya berpikir buka toko untuk jualan bakpia ini. Soalnya kalau umpama bakpia yang dijual keliling habis, banyak orang tanya, buatnya di mana? Makanya kami memperbolehkan para pembeli datang ke rumah. Jadi makin hari makin terbuka,” kata Mak Tin.

Seiring berjalannya waktu, makin banyak warga yang suka bakpia. Produk bakpia buatan Mak Tin dan suaminya mulai dikenal orang-orang luar kota. Pemerintah Kota Yogya waktu itu mulai mempromosikan bakpia sebagai oleh-oleh khas Jogja.

Saat Presiden Soeharto berkantor di Istana Negara Yogyakarta, para tamu presiden biasanya akan dijamu suguhan bakpia. Belum lagi para artis masa itu saat datang ke Yogya hampir selalu mampir di Bakpia 75. Pada waktu itu, tepatnya awal tahun 1990-an, usaha bakpia 75 memasuki era kejayaan. Karena hal ini, Mak Tin mengaku pernah ditawari untuk membuka toko cabang bakpia di Jakarta. Tapi tawaran itu dia tolak.

“Dulu ada yang pernah bilang sama saya,’tante kenapa kalau orang Jakarta itu pada suka, nggak pindah sana saja?’ Saya bilang, kalau pindah sana nanti kalau ke Jogja sudah nggak beli bakpia lagi,” ujar Mak Tin.

Karena makin terkenalnya bakpia hingga ke luar kota, banyak warga di Pathuk mulai membuka usaha yang sama. Yani misalnya, dia membuka usaha bakpia sejak tahun 2003.

“Usaha bakpia di sini terus berkembang hingga sekarang sudah banyak UMKM seperti saya,” kata Yani saat ditemui Merdeka.com di rumahnya pada Jumat (21/1).

Mengenai persaingan dengan para warga Pathuk yang mulai banyak menjual bakpia, Mak Tin tidak pernah mempermasalahkannya. Bahkan ia mendukung mereka untuk mengembangkan usahanya karena dengan begitu jajanan bakpia bisa makin berkembang.

“Saya kan sering keliling ke rumah-rumah mereka. Malahan mereka minta saya mampir lalu mencicipi bakpia buatan mereka. Terus mereka minta saran kira-kira kurang apa. Mereka baik semua sama saya,” ujar Mak Tin.

sosok orang orang tionghoa di balik bakpia jogja

Resep bakpia yang tak berubah dari awal ©Merdeka.com/Shani Rasyid

Tak hanya di Pathuk dan Tamansari, kini sentra-sentra bakpia juga bisa ditemukan di tempat lain seperti di Minomartani, Sleman, dan ada pula di Srandakan, Bantul. Selain itu, sentra penjualan bakpia juga bisa ditemukan di Jalan Mataram, Jalan A.M Sangaji, dan Jalan Solo.

Kini, banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada kudapan mungil itu mulai dari pemilik dan keluarganya, buruh, juru parkir, calo, penyedia jasa wisata, warung makan, pedagang asongan, dan lain sebagainya.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP