Sepak Terjang Pasukan Siluman Merah: Mematikan saat Menyerang, Lalu Menghilang
Merdeka.com - Achmad Wiranatakusumah membentuk pasukan yang kelak sangat disegani militer Belanda. Simbolnya terinspirasi dari kesatuan elite tentara Inggris.
Penulis: Hendi Jo
Perjuangan kemerdekaan di tanah Pasundan, tidak lepas dari peran sebagian para menak (bangsawan). Kendati ada dari mereka yang berada di pihak Belanda, namun terdapat juga menak-menak yang memutuskan untuk bersam-sama rakyat mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Salah satunya adalah Achmad Wiranatakusumah.
Meskipun seorang priyayi, dalam keseharian Achmad dikenal sebagai seorang menak yang tidak pernah membeda-bedakan kawan. Lahir di Bandung pada 11 Oktober 1925, putra pertama dari Dalem Bandung R.A.A. Haji Muharam Wiranatakusumah dengan Raden Ayu Sangkaningrat itu sejak remaja bergaul dengan siapa pun tanpa memilah-milah kasta. Bisa jadi itu disebabkan oleh pengaruh sang ibu yang seorang nasionalis sekaligus tokoh perempuan Sunda yang merakyat.
"Dia cerita kepada saya bahwa kebenciannya kepada kolonialisme karena cerita-cerita ibunya," ungkap sejarawan Rushdy Rushdy yang pernah mewawancari Achmad pada era 1990-an.
Sewa Sersan Belanda Latih Militer
Pada saat menginjak usia remaja, Achmad bersama saudara dan kawan-kawannya mendirikan sebuah organisasi kepanduan bernama PJT (Padjadjaran Jeugd Troep). Berbeda dengan organisasi kepanduan lainnya di era itu, PJT lebih mengutamakan keterampilan militer bagi para anggotanya. Secara rutin, PJT mempelajari cara menggunakan senjata, taktik pertempuran dan survival.
"Achmad menyewa seorang sersan Belanda bernama Schouten untuk melatih kemiliteran," tulis Aam Taram, R.H. Sastranegara, Iip D. Yahya dalam Letjen (Purn) Achmad Wiranatakusumah: Komandan Siluman Merah.
Ketika bala tentara Jepang menyerang Jawa pada Maret 1942, PJT diperbantukan sebagai pasukan bantuan. Tugas utama mereka adalah memantau pergerakan tentara Jepang di sekitar Bandung. Saat itulah, Achmad sempat memergoki sepasukan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang sudah putus asa dan membuang senjata-senjata itu ke sungai.
"Setelah prajurit-prajurit KNIL itu pergi, Achmad dan kawan-kawannya kemudian mengambil senajata-senjata tersebut dan kemudian menyembunyikannya di beberapa gua dan sebagian dikubur di tempat-tempat tersembunyi," tutur Rushdy.
Pasukan Karung Menjadi Siluman Merah
Singkat cerita, pemerintah Hindia Belanda tak kuat bertahan lama melawan militer Jepang. Achmad sempat ditahan oleh Bepang, sejenis unit intelijen militer Jepang, karena ketahuan menyembunyikan senjata. Untunglah senjata-senjata tersembunyi yang diketahui militer Jepang itu hanya sebagian kecil saja. Sebagian besar tetap ada di tempat aman.
Senjata-senjata itu baru dibongkar oleh Achmad ketika militer Jepang sudah bertekuk lutut kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Bermodalkan senjata-senjata itulah, Achmad membentuk sebuah pasukan di Ciwideuy pada 7 Oktober 1945, lengkap dengan seragamnya yang terbuat dari karung goni 'kualitas terbaik'. Karena seragam unik itulah ketika pasukan Achmad berbaris menuju Soreang, Bandung, orang-orang menjulukinya sebagai 'Pasukan Karung'.
Pasukan Karung kemudian banyak terlibat dalam kontak senjata melawan tentara Jepang dan tentara Sekutu di Bandung. Akhir 1946, saat proses evakuasi para prajurit Jepang dan masalah para interniran (tawanan Jepang) sudah selesai, pasukan ini juga terbilang aktif menyerang kedudukan pasukan Belanda. Termasuk ketika mereka menyandang nama baru: Batalyon 26 Brigade Guntur Divisi Siliwangi.
Kendati berkedudukan sebagai seorang komandan, Achmad tak pernah absen di garis depan. Namun kedekatan itu tak membuat dia melonggarkan aturan. Tradisi disiplin tetap berlaku tanpa kompromi, sehingga ttak heran jika Batalyon 26 yang dipimpin Mayor Achmad Wiranatakusumah disegani oleh militer Belanda.
Para serdadu Belanda mengenal batalyon yang dipimpin Achmad sebagai suatu pasukan yang tak pernah terdeteksi ketika akan menyerang. Pada saat lengah, secara mendadak mereka muncul dengan serbuan yang dahsyat dan mematikan. Sebelum pasukan Belanda sadar dan bisa berkoordinasi, anak buah Achmad sudah menghilang. Itulah yang menyebabkan militer Belanda menjuluki pasukan Achmad sebagai pasukan siluman.
Menghadapi gerakan Batalyon 26 di wilayah Soreang dan sekitarnya, militer Belanda tak mau lagi kecolongan. Mereka lantas berinsiatif memburu kedudukan pasukan Achmad dengan dukungan banyak pasukan dan persenjataan lengkap nan mutakhir. Akibatnya, Batalyon 26 harus mundur ke Gunung Sadu.
Di Gunung Sadu, Achmad lantas menasbihkan nama pasukannya dengan nama 'Siluman Merah'. Kata 'merah' ditambahkan Achmad dari Red Devil. Itu nama kesatuan baret merah resimen pasukan para Inggris. Sebagai lambang, dipilih gambar kepala siluman berwarna merah dengan dasar bintang kuning dan latar hijau. Ster (lambang bintang) mengikuti lambang 2rd Infantry Division Indianhead.
Berbeda dengan unit pasukan elit Inggris itu yang berupa kepala ketua suku Indian, simbol pasukan Achmad bergambar kepala siluman merah. Lambang itulah yang kerap tergambar di tembok-tembok sekitar Sorean dan meneror mental pasukan Belanda.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya