Robohnya Kekuatan Daud Beureuh, Pimpinan Pemberontakan di Aceh

Sabtu, 15 Oktober 2022 07:08 Reporter : Merdeka
Robohnya Kekuatan Daud Beureuh, Pimpinan Pemberontakan di Aceh Daud Beureuh, Pimpinan Pemberontakan di Aceh. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak serta merta memperkokoh persatuan di seluruh kalangan masyarakat. Masih terdapat kelompok-kelompok yang berusaha membuat negara sendiri. Salah satu contoh kasusnya adalah Perang Cumbok yang terjadi di Aceh pada akhir 1945.

Perang ini menjadi bukti, proklamasi kemerdekaan Indonesia bukan merupakan akhir dari perjuangan. Melainkan awal dari perjuangan bangsa Indonesia.

Perang Cumbok dilatarbelakangi perseteruan kelompok Uleebalang dan kelompok agama di Aceh. Perseteruan ini bermula ketika para Uleebalang di daerah Pidie mengembangkan sikap anti-RI. Mereka memiliki penafsiran berbeda terhadap kekalahan Jepang di tangan Sekutu.

Bagi mereka, ini sebagai tanda kembalinya pemerintahan Belanda di Indonesia yang dapat mengantarkan kelompok Uleebalang kembali ke kedudukan tinggi dan menyenangkan seperti masa sebelum pendudukan Jepang.

Salah seorang Uleebalang dari daerah Pidie yakni Daud Beureuh segera mengirim utusan kepada pejabat-pejabat Belanda yang masih menjadi tawanan di kamp Rantau Prapat pada 25 September 1945. Menurut Anthony Reid, Daud mengucapkan selamat kepada orang-orang Belanda dan mengharapkan kedatangan mereka ke Aceh.

2 dari 5 halaman

Sepak Terjang Daud Beureuh

Daud Beureuh atau Daud Cumbok sudah menunjukkan sikap anti-RI ketika masih menjabat sebagai Gunco (Wedana) daerah Lam Meulo pada masa pendudukan Jepang. Seperti yang diungkapkan dalam buku Sejarah TNI Jilid I, Daud menurunkan bendera merah putih yang dikibarkan anggota Pemuda Republik Indonesia (PRI) di depan kantornya.

Bahkan, secara terang-terangan menyuruh para pengikutnya membuang poster-poster yang mendukung RI. Lebih lanjut lagi, dia juga menangkap tiga orang pemimpin Lam Meulo, menggerebek markas PRI dan mengusir PRI dari daerah Lam Meulo.

Para pemuda yang termasuk ke dalam PRI adalah mereka yang berada di bawah naungan Pusat Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Tindakan Daud Beureuh mengundang reaksi dari kalangan ulama. Di daerah Pidie, PRI membentuk kesatuan yang disebut dengan nama Hisbullah, sedangkan di Aceh Besar mereka membentuk Laskar Mujahiddin. Daud mempertebal kekuatan dengan merekrut sejumlah orang Jepang dan bekas tentara KNIL yang dibagi ke dalam tiga pasukan (Cap Bintang, Cap Tumbak, dan Cap Sauh).

Pasukan Daud memperoleh senjata dengan jalan melucuti pasukan Jepang yang ada di Lam Meulo. Selain itu, mereka juga memperoleh sejumlah senjata dari Residen Nyak Arief secara resmi.

3 dari 5 halaman

Ketegangan Memuncak

Ketegangan antara PRI dan pengikut Daud Cumbok memuncak dalam peristiwa pengambilalihan senjata Jepang di kota Sigli. Sementara itu, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berencana melakukan operasi pengambilalihan senjata Jepang pada 5 Desember 1945. Rencana tersebut diketahui oleh kubu Daud dan berkeinginan untuk menguasai senjata tersebut.

Komandan TKR Syamaun sudah tiba di Sigli pada tanggal yang ditetapkan tadi. Namun, pada malam sebelumnya pasukan Daud sudah menempati tempat-tempat strategis di daerah tersebut. Mendengar kabar tersebut, anggota PRI segera menggerakkan massa menuju Sigli. Kemudian, diadakan perundingan antara Syamaun Gaharu dan Komandan Jepang sehingga dicapai kesepakatan bahwa Jepang akan menyerahkan senjata mereka.

Lalu Syamaun menghubungi pihak Daud dan meminta mereka mengundurkan diri dari kota. Hal serupa dilakukan pula oleh staf Syamaun. Ketika pembicaraan berlangsung, pasukan Daud melepaskan tembakan ke arah konsentrasi PRI dan massa rakyat. Pertempuran tidak terelakkan. Syamaun lantas menghubungi pemerintah di Banda Aceh. Sebagai tindak lanjut, Residen mengirim kesatuan TKR dan Polisi istimewa di bawah pimpinan Kepala Staf TKR Teuku Hamid Azwar.

Pada 6 Desember 1945, pasukan uleebalang dan pasukan PRI menarik diri dari kota setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara pihak uleebalang dan pihak PRI yang diwakili oleh Hasan Aly. Akhirnya, kota Sigli kembali dikuasai pemerintah RI. Semua senjata Jepang diangkut ke Banda Aceh untuk diserahkan kepada TKR.

4 dari 5 halaman

PRI Balas Dendam

Banyaknya korban yang jatuh dari pihak PRI, PUSA, dan kalangan penduduk menimbulkan dendam terhadap uleebalang. Pihak golongan uleebalang mencemaskan balas dendam dari lawan-lawannya. Pada pertemuan tanggal 10 Desember 1945, kelompok Uleebalang sepakat memperkuat pasukan Daud Cumbok.

Upaya tersebut dilakukan dengan membangun kubu pertahanan utama di Lam Meulo, sebagian lagi membangun pertahanan di rumah masing-masing. Pasukan yang dibentuk oleh Daud digabungkan ke dalam Badan Penjaga Keamanan (BPK) dengan dirinya sebagai pemimpin. Dalam situasi tersebut, Gubernur Sumatera Teuku Moh. Hassan berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Tetapi usahanya gagal.

Daud Cumbok secara terang-terangan menolak menemui Gubernur. Dia juga menolak bertemu utusan yang dikirim oleh Residen. Daud percaya, keselamatan golongan uleebalang hanya dapat dijamin dengan jalan kekerasan.

Pada 11 Desember 1945, Daud dan pasukan mulai menangkapi semua tokoh penting PRI, PUSA, dan tokoh-tokoh perlawanan yang ditemuinya. Namun, sebagian besar dari mereka berhasil menyelamatkan diri ke Me Tareum. Lima hari setelahnya, pasukan Daud Cumbok menyerang dengan tembakan mortar dan menimbulkan banyak kerusakan. Serangan tersebut menimbulkan amarah rakyat sampai ke luar distrik Lam Meulo. Dengan kata lain, kelompok penentang uleebalang bertambah.

Kini giliran pihak PRI yang berada di bawah pimpinan Hasan Aly menyerang pertahanan Daud Cumbok pada 25 Desember 1945. Tetapi gagal. Sebagai balasannya, pasukan Daud Cumbok membubarkan semua kantor PRI, pesantren dan rumah dari para pimpinan PUSA, PRI di distrik Ma Tareum.

Dilanjutkan menyerang Garot. Tetapi berhasil ditahan pasukan dari wilayah di luar Pidie. Pasukan penentang Uleebalang yang datang dari luar daerah Pidie bertambah banyak. Beberapa diantaranya seperti; pasukan yang dipimpin oleh Juned Effendi dan Laskar Mujahiddin di bawah pimpinan Teungku Abdul Wahab. Selain itu, terdapat pula pasukan di bawah pimpinan Hasballah T. Rieng Gading.

Sasaran pertama mereka adalah benteng pertahanan uleebalang di Meureude. Selanjutnya, mereka bergerak ke Leung Putu. Meskipun dengan susah payah, pertahanan uleebalang berhasil dikalahkan. Selanjutnya, mereka bersiap untuk menyerang markas Daud di Lam Meulo.

5 dari 5 halaman

Penangkapan Daud Beureuh

Panglima Polim dan Kolonel Syamaun Gaharu atas nama TKR mengultimatum Daud Beureuh atau Daud Cumbok. Agar mereka menyerah pada pada pukul 12.00 tanggal 10 Januari. Untuk mendukung ultimatum tersebut, TKR menyiapkan pasukan yang diberangkatkan dari Banda Aceh.

Pasukan ini dibantu oleh Polisi Istimewa. Syamaun Gaharu juga mengerahkan para pemimpin laskar TKR di Pidie dan Aceh Utara untuk membantu dan menyerang Leung Putu dan Bireunen.

Daud Cumbok menolak ultimatum tersebut. Kemudian, pada 12 januari 1946 TKR, Polisi Istimewa dan para laskar melancarkan serangan besar-besaran. Dalam serangan tersebut, laskar mujahiddin memegang peranan penting.

Pertempuran berkecamuk dari siang hingga malam hari. Baru pada esok harinya pertahanan Daud Cumbok berhasil dirobohkan. Daud dan pasukannya segera melarikan diri menuju Sabang, tetapi tertangkap di lereng Gunung Seuwalah tanggal 16 Januari 1945. Daud Cumbok dibawa ke Banda Aceh dan dijatuhi hukuman mati.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini