Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pasukan Harimau Liar: Eks Tentara Jepang Perang Demi RI, Bantai 3.000 Tawanan Sekutu

Pasukan Harimau Liar: Eks Tentara Jepang Perang Demi RI, Bantai 3.000 Tawanan Sekutu Para desersi Jepang diamankan tentara Belanda di Medan. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Usai Jepang menyerah kepada Sekutu, ribuan tentara dari negara matahari terbit melakukan desersi. Salah satunya adalah seorang perwira yang bergabung dengan gerakan perjuangan Indonesia di Tapanuli.

Penulis: Hendi Jo

Selasa, 14 Agustus 1945. Kekaisaran Jepang secara resmi menyatakan takluk kepada Sekutu. Dengan demikian, nasib para serdadu Jepang di Indonesia mengalami ketidakjelasan.

Resminya, mereka harus menyerahkan diri kepada Sekutu sebagai pemenang perang. Namun faktanya ada dari mereka yang memilih untuk membelot ke kubu pejuang Indonesia dan terlibat aktif dalam perlawanan terhadap Belanda pada 1946-1949.

Menurut catatan dokumen yang pernah dikeluarkan Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepang yang berkedudukan di Jakarta, usai Perang Dunia II terdapat 903 eks serdadu Jepang yang ikut andil dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Namun menurut peneliti sejarah asal Jepang Eiichi Hayashi, jumlah sebenarnya bisa jadi lebih banyak dari itu.

"Pada kenyataannya terdapat sekitar 1000-an orang (eks tentara Jepang) yang masih berada di Indonesia. Sampai akhirnya, mereka pun tetap tinggal di Indonesia," ungkap Hayashi dalam Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono.

Cikal Bakal Barisan Harimau Liar

Pada Juli 1948, Kapten Machmud dari Komisi 5 (tim yang dibentuk TNI untuk mendata keberadaan eks tentara Jepang di Indonesia) menemukan kenyataan ada sekira 100 eks tentara Jepang di Tapanuli dan Sumatera Tenggara. Mereka yang terdiri dari opsir, prajurit dan warga sipil kebanyakan tergabung dengan berbagai badan kelasykaran.

Salah satu opsir Jepang yang membelot itu adalah Kapten Tetsuro Ino’e. Menurut sejarawan Aiko Kurasawa, sejatinya Ino’e merupakan sekretaris komandan pasukan di teritorial Letnan Kolonel Matsuma. Dia kemudian diangkat menjadi Kepala Bagian Polisi Sumatera lalu didapuk menjadi bunshutjo (regent) Serdang.

Saat menjabat sebagai bunshutjo Serdang itulah, Ino’e membentuk teishintai (pasukan sukarela). Di kalangan orang Sumatera Utara, pasukan itu lebih dikenal sebagai Barisan Harimau Liar (BHL).

"(Ino’e) menunjuk Yakob Siregar sebagai salah satu komandannya," ungkap Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia.

Bantai 3.000 Tawanan Sekutu

Ketika militer Jepang menyerah kepada Sekutu, Ino’e melarikan diri dari kedudukannya dan menggabungkan diri dengan BHL. Dia lantas mengambilalih secara langsung organ bersenjata yang dibentuknya tersebut dan memimpin perlawanan terhadap Belanda di pegunungan Karo.

Sebagai badan kelaskaran yang tidak terhubung dengan TNI, BHL menjalankan program perjuangannya secara mandiri. Sayangnya, mereka bertindak tidak simpatik. Bahkan di kalangan orang-orang Karo saat itu, BHL identik sebagai organ liar yang para anggotanya berperilaku sangat brutal dan kerap melakukan berbagai praktik kriminal.

"Hal itu terbukti saat mereka membantai 3.000 tawanan Sekutu yang dibebaskan dari kamp Sumatera Timur," ungkap Kurasawa.

Sejak itulah, intelijen Inggris dan Belanda mengincar keberadaan Ino’e. Setelah beberapa kali lolos dan terlibat kucing-kucingan dengan intelijen Belanda, pada sekitar akhir 1948, lelaki berparas tampan itu akhirnya menyerah.

Uniknya, Ino’e tidak mau menyerahkan dirinya kepada pihak Belanda. Dua hanya bersedia ditangkap oleh Polisi Militer Tentara Indonesia. Kendati diminta oleh pihak Belanda, nyatanya Ino’e tetap berada dalam 'perlindungan' militer Indonesia. Barulah setelah lima tahun mendekam di tahanan aparat RI, dia mau dipulangkan ke tanah airnya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP