Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Pesawat Mustang Inggris Tabrak Pohon Kelapa dan Jatuh di Tengah Pasar

Kisah Pesawat Mustang Inggris Tabrak Pohon Kelapa dan Jatuh di Tengah Pasar Sebuah Mustang milik RAF. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Setelah melakukan aksi balas dendam, sebuah pesawat pemburu milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) malah jatuh karena kecelakaan.

Penulis: Hendi Jo

Hari pertama tahun 1946, iring-iringan konvoi tentara Inggris diadang para pejuang Indonesia di Pongpoklandak, sebuah kawasan hutan dekat jembatan Citarum lama. Konvoi yang akan menuju Sukabumi tersebut, akhirnya berbalik lagi ke Bandung karena tak berdaya menghadapi gencarnya serangan mendadak itu.

"Banyak tentara Gurkha yang mati dalam pertempuran itu," kenang Raden Makmur, salah satu eks anggota laskar Barisan Banteng di Ciranjang.

Kesaksian Tukang Cukur

Merasa berang atas pengadangan itu, Brigadier N. MacDonald (panglima tentara Inggris di Bandung) meminta wilayah sekitar Jembatan Citarum 'dibersihkan'. Maka sekira dua hari usai peristiwa tersebut, bergeraklah dua pesawat pemburu jenis Mustang milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris).

Selain melakukan pemboman di beberapa titik yang dianggap sarang 'ekstrimis' Indonesia, dua Mustang tersebut juga menembaki mobil-mobil sipil yang tengah melaju di jalan raya Ciranjang-Bandung.

"Termasuk menembaki sedan yang ditumpangi oleh Pak Nata Mihardja, Kepala Polisi Ciranjang, namun tidak sempat kena," ungkap Makmur.

Hampir dua jam, pesawat-peasawat pemburu yang diawaki pilot-pilot berpengalaman dalam Perang Dunia II itu melakukan aksinya di atas langit Ciranjang. Namun saat bermanuver di ats wilayah Curug, karena terbang terlalu rendah, salah satu sayap pesawat itu membentur sebatang pohon kelapa higga oleng.

Kendati sempat berupaya mengendalikan pesawatnya, sang pilot pada akhirnya tak berdaya. Tanpa bisa dicegah, pesawat jatuh di dekat pasar Ciranjang. Maka hancur leburlah pesawat legendaris pada Perang Dunia II itu.

Pendapat Makmur berkelindan dengan sebuah dokumen berjudul 'Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Mempertahankan Kemerdekaan NKRI (1942-1949)' yang disusun oleh DHC (Dewan Harian Cabang) Angkatan 45 Kabupaten Cianjur.

Dalam dokumen setebal 137 halaman itu, salah seorang veteran bernama Abu Bakar (terakhir berpangkat kolonel) bersaksi bahwa pesawat pemburu itu sempat menembaki Ciranjang pada sekira jam 11.00.

Abu Bakar juga membenarkan Mustang itu jatuh karena salah satu sayapnya mengenai batang pohon kelapa yang banyak tumbuh di wilayah Curug. Dalam situasi hilang keseimbangan, pesawat tersebut meluncur tak terkendali dan jatuh di sekitar halaman gedung Kewedanaan Ciranjang persis dekat pasar.

"Seorang tukang cukur rambut dan seorang serdadu Jepang tewas seketika tertimpa pesawat yang jatuh itu," ujar salah satu tokoh terkemuka LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Cianjur tersebut.

Salah Tulis di Monumen

Berbeda dengan versi Makmur yang menyatakan pesawat itu langsung hancur lebur saat jatuh, Abu Bakar menyatakan pesawat itu masih agak utuh ketika mendarat secara keras. Bahkan sekelompok anggota TKR (Tentara Keamanan Rakjat) dari Kompi III Batalyon III sempat mengepung bangkai pesawat tersebut dan menembaki pilotnya hingga tewa lalu merampas senapan mesin 12,7 dan sebuah pistol buatan Jerman.

"Pesawat itu lalu ditembaki secara gencar dan meledak berkeping-keping," ungkap Abu Bakar.

Guna memperingati insiden itu, saat ini di bekas tempat kejadian telah didirikan sebuah monumen. Sayangnya, monumen berbentuk pesawat tersebut 'tidak nyambung' dengan kisah sejarahnya karena replika pesawat adalah jenis Boeing bukan Mustang.

Selain itu di badan pesawat bercorak loreng tersebut, tertera nama 'KLM', maskapai sipil penerbangan Belanda. Padahal jelas data-data sejarah yang ada menyebut aksi pemboman dilakukan oleh RAF.

"Itu karena yang membuat, mengalami 'buta huruf sejarah' dan tak mau bertanya kepada para sejarawan. Semaunya saja saat membuat monument itu," ungkap Helmy Adam, penggiat komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer.

Hingga kini, tak ada masyarakat yang berupaya “memperbaiki” informasi yang tertera di monumen itu. Termasuk pemerintah setempat yang seolah tutup mata terhadap sejarah penting yang pernah terjadi di kotanya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP