Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ketika Pemuda Pejuang Bandung Diancam Inggris: Mereka Pikir Kami Takut!

Ketika Pemuda Pejuang Bandung Diancam Inggris: Mereka Pikir Kami Takut! Para pemuda Indonesia berpatroli di jalanan kampung kota Bandung. IPPHOS ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Dianggap sebagai biang kekacauan, para pemuda Bandung digertak militer Inggris agar menyingkir ke luar kota. Ancaman yang malah meningkatkan kebencian pejuang Indonesia.

Penulis: Hendi Jo

Hari ke-23 bulan Maret, 1946. Para pemuda dikejutkan dengan sebuah pesawat dakota Inggris yang melayang di atas kota Bandung. Alih-alih menjatuhkan bom, dakota tersebut malah menyebarkan ribuan kertas. Isinya: ancaman militer Inggris supaya Bandung bagian selatan secepatnya dikosongkan dari unsur-unsur kaum bersenjata dalam waktu 24 jam.

Tentu saja para pemuda Bandung marah dengan ultimatum itu. Beberapa jam usai kertas-kertas berisi ancaman tersebut menyebar, para pemuda Bandung serentak berkumpul di berbagai sudut kota. Mereka memutuskan menolak ancaman tersebut dan melawannya. Termasuk Asikin Rachman, anggota laskar Hizbullah.

"Untuk kesekian kali, Inggris mengancam kami. Mereka pikir kami takut?!" ungkap lelaki kelahiran tahun 1927 itu.

Inggris Ancam Ratakan Bandung Selatan

Begitu sampai ke Bandung pada 17 Oktober 1945, Brigade Infanteri India ke-37 pimpinan Brigadir N. MacDonald sejatinya sudah ketar-ketir. Berbeda dengan orang-orang Burma, Malaysia dan Singapura, masyarakat Indonesia memandang kehadiran mereka dengan sikap dingin saja.

"Kami datang ke Jawa yang tengah bermasalah, ibarat memasuki sebuah gedung mesiu...," ungkap Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock: The Story of 23RD Indian Division.

Ketidaknyamanan itu memang terbukti setelah beberapa minggu mereka tinggal di Bandung. Kendati sudah mengisolasi kekuatan kaum nasionalis Indonesia ke bagian selatan, tak pelak ancaman-ancaman tetap berdatangan. Itu terjadi setiap mereka berupaya untuk menembus wilayah-wilayah kekuasaan TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) dan laskar-laskar bersenjata, dengan dalih mengevakuasi kaum interniran dan tentara Jepang.

"(Sebenarnya) Inggris berniat menyapu bersih wilayah selatan Bandung juga," ungkap John R.W. Smail dalam Bandung in The Early Revolution, 1945-1946.

Namun, menurut Smail, sikap agresif Sekutu tersebut sebenarnya dipicu oleh manuver-manuver pihak Indonesia sendiri di sepanjang jalur antara Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung. Banyaknya korban berjatuhan dari pihak Sekutu di sepanjang wilayah itu menjadi indikasi betapa rentannya posisi mereka.

Ancaman yang dilontarkan pihak Inggris merupakan kedua kalinya. Pada Desember 1945, mereka memang pernah mengancam para pejuang Indonesia namun itu semua dianggap angin lalu. Ultimatum itulah yang pada siang 23 Maret 1946 disebarkan lewat sebuah pesawat dakota di atas Bandung. Bahkan tidak cukup lewat selebaran, Panglima Divisi India ke-23 Mayor Jenderal D.C. Hawthorn juga mengumumkan ultimatum tersebut lewat radio.

"Jenderal Inggris itu malah menegaskan jika kita melanggar batas waktunya yakni sampai besok hari (24 Maret 1946) jam 24.00, maka Bandung selatan akan diratakan dengan tanah," kenang Asikin.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP