Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kesaksian Mantan Intel Jepang Sembunyikan Supriyadi

Kesaksian Mantan Intel Jepang Sembunyikan Supriyadi Patung Supriyadi di Museum PETA. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada akhir bulan Februari 1945, Supriyadi berpamitan dengan Harjomiarso, lantas menuju Trenggalek. Informasi lain mengenai keberadaan Supriyadi kembali didapatkan dari keterangan Ronomejo yang mengaku bertemu pemuda bernama Supriyadi di sekitar Gunung Gemarakandang, Jawa Tengah.

Ada informasi lain yang datang dari bekas pelatih Supriyadi yakni Tuan M.Nakajima. Dia adalah bekas Beppan atau Dinas Intel Tentara Jepang. Nakajima menjelaskan, pada akhir Februari atau awal bulan Maret 1945, Supriyadi bersama dua orang teman datang ke kediamannya di Jalan Jangkongan, Salatiga, Jawa Tengah.

"Menurut Tuan M. Nakajima, mereka datang dengan berpakaian seperti orang kampung biasa. Mereka kelihatan lelah sekali, tetapi tetap penuh semangat. Ia (Supriyadi) datang sebagai seorang kawan," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi karya Ratnawati Anhar.

Supriyadi datang ke kediaman Nakajima pada malam hari dalam keadaan waspada. Melihat tamunya kelaparan, Nakajima hanya bisa memberikan singkong goreng. Karena hari sudah malam. Sehingga tidak ada yang bisa disajikan.

Supriyadi bermalam di rumah Nakajima. Keesokan harinya, seorang Kampetai bertanya kepada Nakajima apakah dirinya menerima tamu. Saat itu, Supriyadi bersembunyi di kamar Nakajima. Kampetai tidak lanjut mengeledah rumah Nakajima karena tidak membawa surat perintah.

Setelah Kampetai pergi, Nakajima segera menemui Supriyadi agar bersembunyi ke tempat lain. Menurut Nakajima, Kampetai akan mencurigai semua anggota Peta dan pelatihnya.

Curhat Supriyadi

Selama di rumah Nakajima, Supriyadi menyampaikan kekesalannya terhadap janji Jepang perihal kemerdekaan Indonesia. Supriyadi kesal, sebab Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia tanpa adanya penderitaan.

Mendengar kekesalan Supriyadi, Nakajima menjelaskan bahwa janji kemerdekaan orang Jepang terbagi atas dua golongan. Golongan yang memang pro dan jujur menyetujui kemerdekaan Indonesia. Sementara, ada juga golongan yang menganggap janji kemerdekaan adalah janji kosong semata.

"Tetapi Yanagawa dan Nakajima serta kawan-kawan pelatih di seinendoyo lainnya tidak senang dikatakan sebagai orang-orang yang berlidah dua, apalagi terhadap murid-muridnya, bekas asuhannya di Seinendoyo Tangerang seperti Supriyadi," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi.

Selain itu, sebagai seorang anggota Beppan, Nakajima menerima informasi bahwa Pemberontakan Peta Blitar pada 14 Februari 1945 didalangi oleh orang-orang komunis.

Mendengar informasi tersebut, Nakajima tidak langsung mempercayainya. Nakajima berusaha mendapatkan informasi secara menyeluruh. Kemudian, Nakajima mengetahui bahwa pemimpin Pemberontakan Peta di Blitar merupakan Supriyadi.

Nakajima mengenal betul sosok Supriyadi. Sudah pasti informasi mengenai orang-orang komunis sebagai dalang pemberontakan merupakan berita bohong.

Supriyadi Berakhir di Bayah?

Akhirnya, Supriyadi mengatakan kepada Nakajima bahwa dirinya ingin pergi ke tempat kawannya di Bayah, Banten. Bayah merupakan daerah pertambangan yang pada masa Pendudukan Jepang merupakan tempat bekerja para romusha.

Di Bayah, terdapat informasi bahwa Supriyadi meninggal dunia karena sakit. Ini keterangan Haji Mukandar, seorang yang memiliki tugas mengurusi pemakaman para romusha.

"Pada waktu akan berangkat Nakajima sempat memberikan Supriyadi sebagai bekal berupa uang dan sebuah senjata Colt 45 yang tidak didaftarkan, serta memberi pakaian Seinendan Salatiga yang berwarna biru atau ungu," seperti dikutip dalam buku Pahlawan Nasional Supriyadi.

Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP