Intelijen Belanda Curiga eks AL Jerman Bergabung dengan Gerilyawan Indonesia
Merdeka.com - Usai kekalahannya dari Sekutu, sebagian awak kepal selam Jerman yang ditugaskan di Jawa menolak untuk menyerah. Intelijen Belanda mensinyalir mereka menggabungkan diri dengan pasukan Republik.
Penulis: Hendi Jo
Enam eks anggota Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) terlihat kusam dalam foto hitam putih yang dikeluarkan Arsip Nasional Belanda. Disebutkan juga dalam keterangannya, anggota Kriegsmarine yang sebagian adalah perwira itu tertangkap di wilayah Pesing, Jakarta pada September 1947.
Ketika mereka tengah mencari jalur untuk bergabung dengan gerilyawan Indonesia. Selanjutnya mereka ditahan di Penjara Glodok, sebelum dikirim ke Pulau Onrust (Kepulauan Seribu) dan sebuah penjara di Malang.
Sejak awal 1946, pihak NEFIS (Badan Intelijen Pasukan Ekspedisi Belanda) sudah mencurigai kecenderungan tentara Jerman yang pernah ditugaskan di wilayah Indonesia. Sebagai bentuk kekecewaan atas kekalahan negaranya dalam Perang Dunia II, mereka memutuskan untuk bergabung dengan kekuatan Republik Indonesia (RI) melawan Belanda.
Tentunya kecurigaan itu bukan tanpa dasar. Sumber-sumber NEFIS sendiri membenarkan adanya orang-orang Jerman yang terlibat aktif membantu gerilyawan Indonesia dalam Perang Kemerdekaan (1945-1949).
Bahkan jumlahnya tidak hanya satu-dua orang, tapi puluhan orang. Dalam biografinya yang ditulis sejarawan militer Belanda J.A. de Moor, Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima KNIL yang mantan Kepala NEFIS) menceritakan adanya orang-orang Jerman dalam berbagai pertempuran yang melibatkan tentaranya dengan gerilyawan RI.
"…Sepuluhan orang Jerman katanya memperdengarkan diri dengan keras dan jelas di dalam semak, tanpa pernah secara fisik menampakan diri," ungkap Spoor dalam buku yang berjudul Jenderal Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia.
Sejarawan militer Nino Oktorino menyebutkan kehadiran para prajurit Jerman terjadi saat Jepang berkuasa di Indonesia (1942-1945. Mereka rata-rata adalah awak puluhan kapal selam Kriegsmarine yang kerap berpatroli di perairan Indonesia. Saat kontak dengan orang-orang Indonesia, banyak dari perwira mereka diam-diam menyimpan simpati terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
"Saat berkumpul, mereka kerap mendiskusikan tentang kemerdekaan Indonesia," tulis Nino dalam Nazi di Indonesia, Sebuah Sejarah yang Terlupakan.
Soal ini juga diakui oleh sejarawan Jerman Herwig Zahorka. Dia bahkan menyebut, pasca berakhirnya Perang Dunia II, setidaknya ada dua prajurit Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219 yang bergabung dengan para gerilyawan Indonesia untuk memerangi militer Belanda.
"Nama mereka adalah Warner dan Losche…" ungkap ahli sejarah militer Jerman di Indonesia tersebut.
Zahorka menyebut begitu kedua awak Kapal Selam U-129 itu lolos dari kamp konsentrasi Sekutu di Pulau Onrust, mereka langsung bergabung dengan gerilyawan Indonesia dan ditugaskan menjadi instruktur militer pada sebuah kesatuan tentara Indonesia di pulau Jawa.
"Salah seorang dari mereka yakni Losche malah gugur dalam suatu kecelakan saat melatih para gerilyawan Republik membuat sejenis pelontar api," kata Zahorka.
Jerman Latih Kadet Akademi Militer Yogya
Tidak hanya soal teknis, desersi Kriegsmarine juga terlibat dalam pelatihan para para calon agen BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia). Menurut Ken Conboy dalam buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, para siswa digojlok fisiknya setiap hari oleh tiga orang Jerman di sebuah perkebunan kopi yang masuk dalam wilayah Ambarawa, Jawa Tengah.
"Mereka (para instruktur fisik) itu adalah mantan awak kapal (selam) U-Boat yang sebelumnya menjadi tawanan di Asia Tenggara selama perang dan tak seorang pun yang ingin kembali ke NAZI Jerman yang kalah," ungkap sejarawan militer asal Amerika Serikat tersebut.
Di Sarangan, selama revolusi, orang-orang Jerman pun memiliki andil dalam pelatihan para kadet Akademi Militer Yogyakarta. Mereka mengajarkan berbagai materi penting seperti senam jasmani, atletik, bahasa asing (Jerman, Prancis dan Inggris) dan morse. Bahkan untuk mata pelajaran morse, diajarkan oleh seorang bekas markonis Kriegsmarine yang ahli mengirimkan dan menangkap tanda morse dalam kecepatan tinggi.
Sayidiman Suryohadiprojo masih ingat bagaimana disiplin dan uletnya para instruktur Jerman itu. Dia masih ingat nama salah satu dari mereka yakni Her Hufper, pengajar senam dan atletik.
"Hufper bukan pelatih sembarangan, dia adalah pelatih senam tim Jepang dalam Olympiade tahun 1940 yang kemudian gagal diadakan," ujar tentara yang mengakhiri karir militernya dengan pangkat Letnan Jenderal itu.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya