Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dalam Kesendirian, Inggit Garnasih Memendam Kesedihan: Gusti Allah, Aku Harus Kuat

Dalam Kesendirian, Inggit Garnasih Memendam Kesedihan: Gusti Allah, Aku Harus Kuat ibu inggit dan bung karno. ©buku kuantar ke gerbang/bentang

Merdeka.com - Sukarno, pada masa pergerakan kemerdekaan, selalu berpindah-pindah untuk menghindari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Masa-masa yang sulit bagi Sukarno dan keluarga.

Namun masa sulit itu dapat dilalui bersama istrinya kala itu yaitu Inggit Ganarsih. Inggit sangat mendukung apapun yang Sukarno lakukan. Ini Sebagai wujud cinta pada sang suami.

Saat mendapat kabar bahwa mereka harus pindah lagi ke Bengkulu meninggalkan Endeh, Sukarno menenangkan Inggit. Dia menyakini bahwa Bengkulu tempat yang bagus.

"Jangan khawatir kita akan menjalani kehidupan ini bersama-sama, tidak akan ada yang terpisah dari kita Inggit. Lagi pula Bengkulu justru menguntungkan kita karena dekat dengan Jawa," ucap Sukarno dalam buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dan Bung Karno yang ditulis Ramadhan K.H.

Hati Inggit yang Patah

Di Bengkulu, harapan Inggit tentang kesenangan karena semakin dekat dengan Jawa dan memungkinkan untuk kembali ke Bandung, sirna sudah.

Bengkulu menjadi mimpi buruk bagi Inggit. Di kota ini, hatinya dipatahkan oleh laki-laki yang paling dicintai. Inggit merasa hatinya hancur manakala Bung Besar menyatakan keinginan memiliki keturunan.

Saat itulah air matanya mengalir deras. Kesedihannya terpaksa disembunyikan. Inggit sadar permintaan suaminya tak mungkin dia wujudkan.

"Oh Gusti Allah aku harus kuat menahan tekanan yang ku derita, nasibku, maduku. Allahuakbar," kata Inggit dalam hati.

Kesedihan itu Inggit simpan rapat-rapat sendiri tanpa bercerita kepada siapapun. Karena Omi, anak angkatnya yang biasa menjadi tempatnya berkeluh kesah, tidak berada di sampingnya saat itu.

Kesedihan Makin Dalam

Tak disangka kesedihan kembali menghampiri Inggit. Sukarno kembali mengutarakan keinginannya memiliki keturunan. Ada permintaan lain yang disampaikan.

Permintaan yang membuat hati Inggit semakin hancur. Sukarno mengutarakan keinginannya menikahi Fatmawati. Seorang gadis yang selama ini disayangi seperti anak kandungnya sendiri.

Inggit tidak menyangka. Koesno-nya tega melakukan itu padanya. Sukarno tetap bersikeras menikahi Fatmawati tanpa meninggalkan Inggit. Tentu saja keinginan itu sangat ditentang Inggit.

Pada akhirnya Sukarno menceraikan Inggit demi untuk menikahi Fatmawati. Sukarno lupa bahwa Inggit yang telah menemaninya melalui berbagai masa sulit.

Perceraian itu terjadi ketika Inggit sudah kembali ke Bandung. Inggit tetap tidak ingin meninggalkan Sukarno saat masih di pengasingan.

Reporter Magang: Ita Rosyanti

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP