Visa Haji Furoda 2025 Batal Terbit, Nasib Jemaah Gagal Berangkat, Uang Kembali atau Tunggu Tahun Depan?
Haji Furoda adalah solusi haji tanpa antre, tapi bagaimana jika visa gagal terbit? Nasib jemaah haji furoda 2025, antara uang kembali atau tunggu tahun depan.
Kabar mengejutkan datang dari penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025. Ribuan calon jemaah haji furoda asal Indonesia harus gigit jari setelah pemerintah Arab Saudi memastikan tidak menerbitkan visa mujamalah atau visa haji furoda tahun ini. Keputusan ini bukan hanya memukul mental calon jemaah, tapi juga membuat penyelenggara travel mengalami kerugian finansial besar.
Apa Itu Haji Furoda?
Haji furoda atau yang dikenal juga dengan istilah "visa mujamalah" merupakan jalur haji non-kuota yang sah secara hukum di Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Berbeda dengan haji reguler dan haji plus, haji furoda memungkinkan jemaah berangkat ke Tanah Suci tanpa perlu menunggu antrean yang bisa mencapai 10 hingga 30 tahun.
Visa furoda dikeluarkan langsung oleh pemerintah Arab Saudi kepada individu atau kelompok tertentu, biasanya atas dasar undangan atau hubungan khusus. Namun, biaya yang dibutuhkan untuk jalur ini cukup tinggi, berkisar antara US$17.500 hingga US$25.900 atau sekitar Rp290 juta hingga Rp400 juta per orang.
Mengapa Visa Furoda Tidak Terbit Tahun Ini?
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief, menyatakan bahwa visa haji mujamalah secara resmi ditutup oleh Arab Saudi pada 26 Mei 2025 pukul 13.50 waktu setempat. Penutupan ini merupakan bagian dari reformasi digital dan penataan sistem penyelenggaraan ibadah haji agar lebih teratur dan terpantau.
Visa furoda memang bersifat opsional dan bukan bagian dari kuota resmi yang diberikan Arab Saudi kepada Indonesia. Penerbitannya bersifat prerogatif penuh dari Kerajaan Arab Saudi dan tidak bisa dijamin tersedia setiap tahun.
Travel Haji Merugi Hingga Miliaran Rupiah
Tak hanya jemaah, penyelenggara travel haji juga terkena imbas besar. Ketua Bidang Humas dan Media DPP AMPHURI, Abdullah Mufid Mubarok, menyebut kerugian yang dialami travel bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar bahkan hingga Rp2 miliar, tergantung jumlah jemaah dalam satu kelompok.
"Para travel sudah menginput data dan membayar layanan Masa'ir (Arafah, Muzdalifah, Mina). Mereka juga sudah booking hotel, tiket pesawat, bahkan ada yang meng-upgrade hotel dari bintang 3 ke bintang 5. Akhirnya rugi besar," kata Mufid.
Beberapa travel bahkan nekat membawa jemaah ke Jakarta dengan harapan visa bisa turun di detik-detik terakhir. Namun, harapan itu kandas setelah visa tak kunjung diterbitkan.
Apa Solusi untuk Jemaah Haji Furoda?
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia masih berupaya melakukan komunikasi dengan pihak Arab Saudi. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyatakan siap turun tangan dan membantu mencari solusi. "Kami akan bantu, insya Allah," katanya.
Namun, karena penerbitan visa furoda berada di luar kewenangan pemerintah RI, penyelesaian kasus ini menjadi rumit. Opsi yang bisa diambil oleh calon jemaah antara lain:
- Menunda Keberangkatan ke Tahun Depan
- Jika Arab Saudi kembali membuka jalur furoda tahun depan, calon jemaah bisa diprioritaskan berangkat, dengan catatan visa kembali diterbitkan dan travel bersedia menanggung proses ulang tanpa biaya tambahan besar.
- Pengembalian Dana
- Sejumlah calon jemaah mengharapkan pengembalian dana penuh. Namun, banyak travel yang menyatakan tidak mampu mengembalikan secara utuh karena sebagian dana sudah digunakan untuk membayar komponen layanan.
AMPHURI sendiri berharap penyelenggara travel transparan kepada jemaah terkait alokasi dana dan proses pengembalian. "Harus ada komunikasi terbuka antara travel dan jemaah agar tidak ada saling menyalahkan," ujar Mufid.
Imbauan untuk Calon Jemaah di Masa Depan
Kementerian Agama mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih jalur keberangkatan haji. Meski haji furoda sah secara hukum, tetapi risikonya tinggi karena sangat bergantung pada kebijakan Arab Saudi. Calon jemaah disarankan untuk memprioritaskan jalur resmi seperti haji reguler dan haji khusus yang dijamin oleh kuota pemerintah, meski harus menunggu lebih lama.
Waspada, Bijak, dan Sabar
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi calon jemaah dan penyelenggara travel untuk selalu mengedepankan kehati-hatian dan komunikasi terbuka. Jalur haji furoda memang menarik karena menawarkan keberangkatan cepat, tetapi risikonya tidak kecil. Ketiadaan visa tahun ini menunjukkan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah Arab Saudi, dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Bagi jemaah yang gagal berangkat, harapan belum sepenuhnya padam. Tahun depan mungkin menjadi waktu yang lebih baik. Sementara itu, proses refund atau negosiasi penjadwalan ulang keberangkatan harus terus dikawal agar tidak menambah luka di tengah kecewa yang sudah mendalam.
Semoga ada solusi terbaik bagi semua pihak. Dan semoga setiap niat ibadah yang tertunda tetap mendapat pahala dari Allah SWT. Aamiin.