Mengintip uniknya tradisi pasar jodoh di berbagai belahan dunia

Mengintip uniknya tradisi pasar jodoh di berbagai belahan dunia. Ada festival mempelai bagi para pemuda gipsi Bulgaria, pasar mempelai China yang mirip bursa lowongan kerja, bursa jodoh India yang melibatkan pialang dan beromzet jutaan rupee, hingga tradisi jaringan di pasar jodoh Indramayu.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Mengintip uniknya tradisi pasar jodoh di berbagai belahan dunia
Festival mempelai di Stara Zagora, Bulgaria. © Vocativ/Jodi Hilton

Mungkin banyak orang yang sudah familiar dengan istilah pasar jodoh. Pada dasarnya ini adalah tempat di mana para lajang berkumpul untuk mencari pasangan hidup. Dalam beberapa tradisi, bentuknya memang persis seperti pasar atau bursa lowongan kerja. Para orangtua 'menawarkan' anak mereka kepada orang-orang yang berniat mencari mempelai untuk anak mereka atau malah untuk diri sendiri. Di beberapa tempat, pasar jodoh mengambil bentuk yang lebih modern, melibatkan biro jodoh atau bahkan pialang.

Apapun bentuknya, pasar jodoh akan selalu menjadi tradisi unik yang mungkin bakal bertahan hingga abad berganti. Karena meskipun zaman sudah bergeser ke era digital, mencari jodoh tetap menjadi perkara pelik bagi banyak orang.


Festival mempelai Bulgaria, pasar jodohnya para pemuda gipsiBulgaria merupakan salah satu negara di barat yang masih mengenal tradisi pasar jodoh atau pasar mempelai. Ini adalah wadah di mana para pemuda dan pemudi keturunan Rom (gipsi) berkumpul di sebuah ruangan terbuka untuk mendapatkan cinta.Bursa pencarian jodoh dilangsungkan di Stara Zagora, Bulgaria empat kali dalam setahun. Di sini para pemuda Rom yang berasal dari kelas pekerja bertemu, berdansa, dan mencoba untuk saling memikat, kadang ditemani oleh orangtua masing-masing. Tujuan utama mereka adalah menegosiasikan perjodohan yang bakal menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Festival mempelai di Stara Zagora, Bulgaria. © 2014 Vocativ/Jodi Hilton

Festival mempelai di Stara Zagora, Bulgaria. © 2014 Vocativ/Jodi Hilton

Mereka yang berkumpul di Stara Zagora saat festival mempelai dilangsungkan adalah bagian dari komunitas Kalaidzhi, keturunan imigran Rom yang mencari nafkah sebagai pengrajin tembaga.

Festival mempelai di Stara Zagora, Bulgaria. © 2014 Vocativ/Jodi Hilton

18.000 Rom Kalaidzhi dikenal sebagai golongan ekonomi bawah yang tinggal di daerah-daerah kumuh. Karena itu, mendapatkan jodoh dengan harga yang pantas dianggap lebih penting daripada sekadar cinta.Dilansir Vocativ, seorang pemuda atau duda bisa mendapatkan istri perawan dengan mahar sekitar 9.000 lev. Gadis-gadis berkulit terang, berambut pirang, dan bermata biru dianggap lebih atraktif dan bisa mendapatkan jodoh yang lebih layak.


Ratusan CV calon mempelai berjajar di pasar jodoh ChinaPasar jodoh di China memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan Stara Zagora. Di sini, para orangtua memajang CV anak mereka agar dilirik oleh para pencari jodoh.Jika kita melihat keadaan pasar jodoh di Shanghai maupun Beijing, kondisinya sama saja. Data diri para pemuda dan pemudi bertebaran di mana-mana. Ditempel pada payung, dinding, dan plakat kayu agar mudah dibaca. Kadang dibeberkan di pinggir jalan untuk menarik minat para pejalan kaki.

Pasar pernikahan. ©2014 Flickr.com/thaths

Umumnya data diri calon mempelai berisi keterangan mengenai pekerjaan, zodiak, pendidikan, tinggi badan dan karakteristik fisik lainnya, keahlian yang dimiliki, serta kendaraan seperti apa yang dipunyai.

Pasar jodoh China. © Jeffrey Donenfeld

Keberadaan pasar jodoh di China telah menjadi sorotan dunia, terutama pasar jodoh yang berada di Beijing. Bursa pencarian mempelai ini dilangsungkan di Taman Rakyat setiap akhir pekan. Di sini para orangtua akan 'menawarkan' anak mereka yang masih sendiri dari pagi hingga pukul lima sore.


Bursa mempelai India, bisnis asmara beromzet jutaan rupeeDi India, pasar jodoh mengambil bentuk yang berbeda lagi. Di sini pencarian calon mempelai sudah melibatkan pialang pernikahan dan biro jodoh. Menurut laporan Hindustan Times, pada tahun 2011 saja pasar jodoh di India sudah berkembang menjadi bisnis menggiurkan dengan keuntungan mencapai jutaan rupee. Sebuah biro jodoh sukses di New Delhi bisa meraup pendapatan 5 juta hingga 50 juta rupee.

Iklan biro jodoh di India. © PhotoShelter/Paul Jeffrey

Jika di Bulgaria dan China para pria yang harus membayar mahar, di India justru sebaliknya. Meskipun zaman sudah modern, para wanita diharapkan memasuki rumah suami dan keluarga dengan bekal perhiasan, mobil, atau setidaknya sejumlah uang. Sebaliknya, para wanita akan mengharapkan suami yang berasal dari strata ekonomi lebih tinggi darinya.

Kondisi ini menyebabkan kesulitan tersendiri bagi para pria modern di India. Semakin banyak wanita India yang memiliki gelar pendidikan tinggi dan status ini membuat mereka semakin pilih-pilih dalam mencari suami. Apalagi jumlah wanita yang ada semakin sedikit. Menurut laporan The New York Times, banyak pria India dari golongan menengah ke bawah yang akhirnya tersisih dari bursa perjodohan.


Menjerat cinta lewat tradisi jaringan di pasar jodoh Indramayu

Indonesia juga mengenal tradisi pasar jodoh yang masih ada sampai sekarang, meskipun nyaris ditinggalkan sama sekali. Ada pasar jodoh di Pasar Parean, Jalan Pantai Utara, Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di sinilah tradisi jaringan tumbuh. Jaringan adalah tradisi di mana pemuda mengalungkan sarung ke leher perempuan yang disukai untuk menunjukkan maksud.

Pasar Jodoh di Indramayu. ©2015 Merdeka.com/Arbi Sumandoyo

Menurut hasil penelusuran tim Merdeka.com, awalnya pasar jodoh hanya ajang berkumpul para pemuda dan pemudi Kandanghaur. Biasanya mereka berkumpul di Pasar Parean setiap malam minggu untuk mencari hiburan. Lambat laun, tempat ini menjadi ajang untuk mencari jodoh.

Sekarang tradisi ini sudah tergerus perkembangan zaman. Namun masih banyak warga lokal yang tetap mengenangnya.

Rekomendasi