Anak-anak kini tak lagi malu dan minder tinggal di kawasan Dolly

Banyak hal positif yang hadir setelah bisnis lendir di kawasan Dolly ditutup.

Tim Merdeka
Oleh Tim Merdeka - Reporter
Anak-anak kini tak lagi malu dan minder tinggal di kawasan Dolly
Suasana Jarak dan Dolly setahun setelah penutupan. ©2015 Merdeka.com/Tantri Setyorini

Setahun setelah Dolly ditutup, banyak hal yang telah berubah dari kawasan yang dulunya kondang sebagai salah satu kawasan prostitusi terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling kentara dirasakan warga yang tinggal di kawasan Dolly dan juga Jarak adalah hilangnya citra negatif tempat ini.

Hal ini juga diungkapkan salah satu warga saat merdeka.com melakukan inspiratrip di kawasan Dolly-Jarak (29/10). Ibu Yayuk, salah satu warga yang dulunya menggantungkan hidup dari ramainya kegiatan prostitusi di kawasan ini kini justru mengaku senang setelah kegiatan bisnis lendir di kawasan ini diberangus pada pertengahan 2014 lalu.

Tetap produktif dengan beralih ke usaha UMKM, Ibu Yayuk juga bersyukur kini anak-anaknya tak lagi malu tinggal di kawasan Dolly.

"Anak-anak saya senang setelah Dolly ditutup. Sekarang sedikit-sedikit ada temannya yang datang ke rumah." ujar wanita separuh baya ini sambil meneteskan air mata.

Dulu anak-anak Ibu Yayuk sempat merasa minder karena mereka tinggal di daerah lokalisasi.

"Sebenarnya saya setuju ditutup. Anak-anak banyak meniru kata-kata kotor, ikut dandanan mbak-mbaknya (PSK)." ungkap Ibu Yayuk.

Dampak positif lainnya dari penutupan tempat prostitusi di kawasan Dolly dan Jarak adalah kini warga sekitar lebih disibukkan dengan kegiatan positif yang bermanfaat.

"Sekarang kegiatannya positif, ke gereja, ngaji." imbuhnya.

Kini, jalanan Kampung yang terletak di jalan Putat Jaya Gang IIa kini juga telah bertransformasi dengan munculnya berbagai macam usaha kreatif seperti sablon kaos, pembuatan batik, serta pembuatan telur asin, hingga Taman Baca Kawan Kami yang selalu ramai oleh anak-anak dan remaja.

Rekomendasi