Cerita sebelumnya: Seorang mahasiswi Indonesia berkesempatan untuk berpetualang di India selama 3 bulan saat mengikuti sebuah program internship. Perjalanannya dipenuhi oleh cerita suka maupun duka yang layak untuk diselami lebih dalam, termasuk kisah tentang "keganasan" negeri Bollywood.
Baca berita terkait:
Menikmati keindahan matahari terbit di Sungai Gangga
Serunya, berpetualang menjelajah Negeri Bollywood!Puas menikmati sun rise di tepian Sungai Gangga, saya pun bergegas kembali ke penginapan untuk membersihkan diri dan menikmati sarapan. Sekitar pukul 10 pagi, saya pun bersiap untuk kembali mengeksplorasi kehidupan di sekitar sungai Gangga. Sebelum berangkat, tak lupa saya menanyakan kepada pemilik penginapan di mana saya bisa membeli saree (pakaian tradisional India) yang bagus dan berkualitas. Saya sempat menanyakan kepadanya tentang bazaar Varanasi. Namun, ia menyarankan bahwa turis seperti saya lebih baik membeli saree di toko yang sudah ternama daripada membelinya di bazaar Varanasi. Itu dilakukan untuk menghindari aksi tipu-menipu yang biasanya dilakukan oleh penjual.
Ia pun menggambarkan denah menuju Jalaan Retail Shop, sebuah department store yang ia rekomendasikan. Namun tak lupa, di peta itu ia juga mencantumkan beberapa pura yang bisa kami kunjungi saat menuju Jalaan Retail Shop.Beberapa guide book menyebutkan bahwa jalan dan gang di sekitar sungai Gangga bagaikan labirin yang seringkali membingungkan para turis yang melakukan walking tour di sekitaran Sungai Gangga. Tadinya saya mengabaikan tulisan tersebut hingga akhirnya saya mengalaminya sendiri. Baru beberapa langkah keluar dari penginapan, saya dibuat bingung dengan gang yang mirip labirin ini. Nampaknya wajah bingung saya ditangkap oleh seorang pemuda yang sedang duduk di teras rumahnya. Ia kemudian menanyakan tujuan saya. Tetapi saya hanya menjawabnya dengan senyuman karena teringat dengan pemilik penginapan yang menyarankan agar saya berhati–hati dengan trik seperti itu. Sebab, ujung-ujungnya saya akan diantar ke sebuah toko saree dan di sana saya akan dipaksa untuk membelinya. Maka, saya pun berjalan menjauhi pemuda tersebut dan terus berjalan mengikuti insting saya hingga akhirnya saya berada di jalan di tepian sungai Gangga yang dipenuhi dengan ghat atau tempat pembakaran jenasah.
Selain terkenal sebagai tempat untuk membersihkan diri bagi umat Hindu - dengan cara mandi di sungai - ternyata terdapat belasan ghat atau bangunan yang berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah yang berdiri di sungai tersebut. Setelah dibakar, abu jenasah kemudian ditaburkan di sungai Gangga. Ghat-ghat tersebut terlihat begitu megah dan kaya akan nilai sejarah. Saat itu, saya melewati salah satu ghat yang terlihat baru saja dipakai untuk proses pembakaran jenasah. Itu tampak dari bau daging terbakar yang masih menyengat dan keluarga jenasah juga masih mengorek–ngorek abu sisa pembakaran. Pengambilan dokumentasi baik foto maupun video jelas dilarang saat proses kremasi. Apabila Anda secara tidak sengaja melihat peristiwa tersebut saat berkunjung ke sungai Gangga, lebih baik Anda menyimpan hal tersebut di dalam memori Anda sendiri.Puas berkeliling, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di tangga-tangga yang berada di sepanjang tepian sungai Gangga. Saya begitu asyik menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan saya. Para umat Hindu datang dari seluruh penjuru India ke sungai Gangga untuk menyucikan diri mereka dengan membawa tas–tas besar berisi pakaian. Para Brahmin (kaum Brahmana) baik yang asli maupun yang gadungan berjalan berkeliling dengan pakaian oranye dengan bubuk berwarna merah yang menempel di dahinya, sementara para wanita India yang mengenakan saree terlihat sibuk membersihkan pinggiran sungai. Para gadis–gadis India cilik yang menjadi penjual kartu pos, bindi, maupun henna tidak kenal lelah membujuk para turis agar mau membeli dagangan mereka. Pemandangan sungai Gangga juga dipenuhi oleh para pelancong yang berjalan kesana-kemari dengan ransel besar di punggung mereka. Mereka kemungkinan hendak mencari penginapan kosong dan murah atau asyik berinteraksi dengan penduduk di sekitar tepian sungai Gangga dengan bermodalkan gitar. Sungguh pemandangan tersebut terlihat begitu warna–warni di mata saya. Warna–warninya begitu indah dan semarak bagaikan motif selaras seperti yang ada di kain saree, kain khas India ini. Saya begitu menikmati momen tersebut. Momen di mana saya bisa menghela napas panjang dan lagi–lagi mengucap syukur kepada Tuhan bahwa saya telah diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di India, terlebih di tepi sungai Gangga. Bagi saya, sungai Gangga adalah tempat di mana drama kehidupan dan kematian berjalan dengan selaras.
Ikuti terus petualangan mahasiswi Indonesia ini dalam menaklukkan "keganasan" India!
Advertisement