Baca cerita sebelumnya:
Mengikat janji setia di gembok cinta
Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein
Siang itu, langit begitu cerah. Kawanan mega berarak di atas Sungai Rhein yang sangat memesona. Raga saya seperti ikut terlena dibawa semilir angin yang berembus menuju Rhein. Muda-mudi terlihat asyik berjemur di pinggiran sungai, sembari menyeruput segelas minuman dingin.
Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri eksotika Cologne, yang berhasil memanjakan mata-mata petualang yang haus buaian. Kaki saya lalu didorong untuk melangkah lebih jauh. Kali ini, saya diajak untuk menyusuri spot-spot wisata di sekitaran Katedral Cologne. Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, saya dan rombongan berhenti di depan sebuah museum bergaya klasik bernama Koelnisches Stadtmuseum (Museum Kota Cologne). Koleksi museum ini terfokus pada sejarah Kota Cologne. Bagi siapapun yang ingin mengetahui seluk-beluk Cologne, museum ini menyediakan semua yang kita butuhkan. Tanpa perlu berlama-lama, Peter, pemandu saya, segera membagikan tiket untuk kami. Buka dari hari Rabu sampai Minggu, mulai pukul 10.00-17.00 waktu setempat, pengunjung hanya perlu merogok kocek 5 euro (Rp 73.313) untuk tiket masuk. Namun, pada hari Selasa, Koelnisches Stadtmuseum buka lebih lama, dari pukul 10.00 sampai 20.00. Ketika melewati pintu masuk, seorang pria jangkung berambut coklat langsung menyambut kami dengan ramah. Dia kemudian mempersilahkan saya dan rombongan untuk melihat maket Kota Cologne yang berada di tengah ruangan bertembok putih. Jujur, bukannya saya ingin meremehkan pengelolaan museum-museum yang ada di Indonesia. Namun, saya harus mengakui bahwa nilai estetika adalah sesuatu yang penting dalam penataan ruang.
Tidak hanya sekadar menaruh barang antik di sembarang tempat, lalu menempelinya dengan kertas putih berisi informasi sejarah. Bukan itu! Alangkah lebih baik jika penataan ruang dibuat semenarik mungkin sehingga pengunjung tidak jenuh saat masuk museum. Sungguh disayangkan jika generasi muda akhirnya menjadi malas untuk pergi ke museum karena penataannya yang tak menarik. Padahal, museum adalah gudangnya sejarah dan budaya. Setelah diajak berkeliling, saya pun diberi kesempatan untuk mengenal Koelnisches Stadtmuseum lebih dekat. Saya lantas bertukar pandang dengan ratusan koleksi benda-benda dari abad pertengahan dan simbol-simbol NAZI yang ditata rapi di dalam etalase kaca. Saat sedang asyik melihat-lihat, sosok oranye dengan gaya super nyentrik menarik saya untuk memandanginya lama-lama. Pria ganteng itu bernama Ford Taunus 17 M, 1960-1964.
Advertisement
Pada tahun 1960, Ford-Werke GmbH (Ford Jerman) memperkenalkan Ford Taunus 17 M. Ini adalah desain ketiga yang dirancang oleh Ford Jerman yang rencananya saat itu akan diluncurkan setelah perang. Untuk itu, proyek ini pun kemudian dikenal sebagai Ford Project 3 (P3) atau Ford Taunus P3. Menariknya, desain mobil ini dulu sempat dijuluki Badewanne (atau bak mandi) oleh pers. Ikuti terus petualangan saya menjelajahi keindahan Kota Cologne di Jerman.