Terlepas dari isu seksis atau kesetaraan dan perbedaan gender, Yang Mulia Tenzin Gyatso yang menjabat sebagai Dalai Lama saat ini tak menampik kemungkinan adanya Dalai Lama perempuan setelah dirinya.
"Jika keadaannya membuat Dalai Lama perempuan lebih bermanfaat, maka secara otomatis, seorang perempuan bisa menjadi Dalai Lama," tuturnya, seperti dilansir oleh Inc.com (14/06).
Hal ini dikatakan oleh Dalai Lama mengikuti adanya debat panas mengenai gender di Australia. Perdana Menteri Julia Gillard baru-baru ini menuduh Partai Liberal terlalu seksis dan menyerang dirinya setelah dia mendatangi perjamuan makan malam yang mencantumkan bagian tubuhnya dalam menu.
Dalai Lama berpikir bahwa saat ini dunia tengah mengalami krisis moral. Dunia membutuhkan orang yang bisa memberikan simpati terhadap orang yang membutuhkan serta menawarkan bantuan yang berarti tanpa pamrih.
"Mempertimbangkan hal tersebut, secara biologis wanita memiliki potensi yang lebih besar. Wanita memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap orang lain," ungkap Dalai Lama.
Dalai Lama kemudian mencontohkan keadaan keluarganya. Ayahnya adalah orang yang mudah marah, dalam beberapa hal Dalai Lama kecil juga sering dipukuli karena tabiat ayahnya. Namun ibunya adalah wanita yang sangat lembut dan welas asih.
Apakah Anda setuju dengan pendapat Dalai Lama, bahwa seorang wanita bisa menjadi pemimpin yang lebih dibutuhkan oleh dunia karena sifat welas asihnya?