Hari Tasyrik adalah momen penting dalam Islam yang berlangsung selama tiga hari setelah Idul Adha, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah. Meski tak sepopuler Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, Hari Tasyrik menyimpan makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi umat Islam. Uniknya, pada hari-hari ini, umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Mengapa bisa begitu? Dan apa saja amalan yang dianjurkan selama Hari Tasyrik?
Advertisement
Secara etimologis, kata tasyrik berasal dari bahasa Arab syarraqa yang berarti “menjemur di bawah sinar matahari” atau “menghadapkan ke arah timur (tempat matahari terbit).” Penamaan ini erat kaitannya dengan tradisi pada zaman Rasulullah SAW, ketika masyarakat Arab menjemur daging kurban untuk mengawetkannya karena belum adanya alat pendingin seperti kulkas.
Syekh Ibnu Manzur dalam karyanya Lisan al-Arab menyebutkan dua pendapat utama terkait asal penamaan ini:
1. Menjemur Daging Kurban
Setelah Idul Adha, umat Islam di masa Nabi Muhammad SAW biasa mengolah dan menjemur daging kurban untuk dijadikan dendeng. Tujuannya adalah untuk menyimpan daging lebih lama, terutama karena jumlah daging yang melimpah dan ketiadaan teknologi pengawetan.
2. Waktu Penyembelihan Setelah Terbit Matahari
Pendapat lainnya mengaitkan kata tasyrik dengan waktu penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah matahari terbit. Maka, hari-hari tersebut menjadi momen bagi umat Islam untuk menyempurnakan ibadah kurban mereka.
Advertisement
Salah satu hal yang cukup menonjol dari Hari Tasyrik adalah larangan untuk berpuasa. Ini bukan sekadar saran atau anjuran, melainkan ketentuan syar’i yang ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah bersabda:
"Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah." (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Ibnu Umar RA menyampaikan:
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan kurban ketika menunaikan haji.” (HR. Bukhari no. 1859)
Larangan ini ada karena Hari Tasyrik adalah bagian dari perayaan Idul Adha yang penuh suka cita. Momen ini menjadi waktu untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, terutama nikmat bisa berbagi lewat ibadah kurban. Oleh karena itu, kegiatan yang menunjukkan rasa syukur seperti makan, minum, dan berbagi, justru sangat dianjurkan.
Advertisement
Meski tidak boleh berpuasa, Hari Tasyrik justru menjadi waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal ibadah lainnya. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan:
Hari Tasyrik masih menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban, terutama bagi mereka yang belum sempat melakukannya pada hari Idul Adha. Allah berfirman dalam surat Al-Kautsar ayat 2: “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
Ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih, tapi juga tentang ketaatan, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.
Selama Hari Tasyrik, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, terutama takbir, tahmid, dan tasbih. Takbir ini bahkan disyariatkan secara khusus sejak subuh 9 Dzulhijjah (hari Arafah) hingga waktu ashar 13 Dzulhijjah.
Sebagaimana hadits Nabi, hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum. Ini bukan berarti makan berlebihan, tapi menjadikannya sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah, sekaligus berbagi dengan sesama melalui pembagian daging kurban.
Momen ini juga menjadi waktu yang tepat untuk berbagi, khususnya dengan orang-orang yang kurang mampu. Pembagian daging kurban mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan rasa empati antarumat.
Hari-hari Tasyrik juga merupakan waktu yang baik untuk mengunjungi sanak saudara, tetangga, dan sahabat. Silaturahmi dalam Islam tidak hanya dianjurkan, tetapi juga mendatangkan keberkahan dan memperpanjang umur, sebagaimana disebutkan dalam hadits.
Advertisement
Hari Tasyrik bukan sekadar perpanjangan dari Idul Adha. Ia adalah bagian dari rangkaian ibadah yang bermuara pada refleksi spiritual. Momen ini mengingatkan umat Islam akan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah tanpa ragu.
Hari-hari ini juga menjadi kesempatan untuk muhasabah atau introspeksi diri, memperkuat keimanan, dan membangun rasa syukur atas rezeki yang telah Allah berikan. Dalam suasana yang penuh berkah ini, umat Islam diingatkan kembali akan pentingnya hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama manusia).
Hari Tasyrik adalah hari-hari istimewa dalam Islam yang berlangsung selama tiga hari setelah Idul Adha. Hari ini dinamakan Tasyrik karena pada masa lalu umat Islam menjemur daging kurban di bawah sinar matahari untuk diawetkan. Selain menjadi waktu penyembelihan kurban, hari-hari ini juga dikhususkan sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.
Larangan puasa pada hari Tasyrik bukan tanpa alasan. Ia hadir sebagai bentuk penghormatan atas hari-hari raya yang seharusnya diisi dengan rasa syukur dan kebersamaan. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah lain seperti menyembelih kurban, berdzikir, bersedekah, dan mempererat silaturahmi.
Semoga kita semua dapat memaknai Hari Tasyrik dengan penuh kesadaran spiritual dan menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat keimanan serta meningkatkan kepedulian sosial. Wallahu a’lam.