Dua Kota Favorit Jujukan Turis di Asia Tenggara, Punya Risiko Penipuan Turis yang Cukup Tinggi

Hanoi dan Bangkok jadi kota dengan tingkat penipuan turis yang cukup tinggi di Asia Tenggara. Kenali modus penipuan dan cara melindungi diri saat liburan.

adinda nur shyavira
Oleh adinda nur shyavira - Reporter
Dua Kota Favorit Jujukan Turis di Asia Tenggara, Punya Risiko Penipuan Turis yang Cukup Tinggi
Dua Kota Favorit Jujukan Turis di Asia Tenggara, Punya Risiko Penipuan Turis yang Cukup Tinggi (Merdeka.com)

Di balik gemerlap lampu kota, data Mastercard Economics Institute justru memantik alarm: Hanoi dan Bangkok masuk dalam daftar kota yang cukup tinggi tingkat penipuan turisnya di dunia..

Fakta ini menggugah keprihatinan publik, sebab kedua destinasi tersebut selama ini lekat sebagai surga kuliner, budaya, dan belanja yang ramah kantong. Bagi wisatawan, kabar ini menambah lapis kekhawatiran ketika merencanakan liburan keluarga, perjalanan bisnis, hingga wisata petualangan.

Artikel ini menelusuri “medan ranjau” penipuan turis di Asia Tenggara—mulai dari modus taksi hingga “coin scam” di Bali—serta membandingkannya dengan kota-kota berisiko rendah seperti San Francisco dan Seoul, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Gelombang Penipuan di Jantung Pariwisata Asia Tenggara

Laporan Mastercard menempatkan Bangkok dan Hanoi di jajaran kota dengan insiden penipuan tertinggi, bersanding dengan Cancun (Meksiko) dan Dhaka (Bangladesh). Di Bangkok, layanan taksi dan penyewaan mobil menyumbang 48 persen dari kasus penipuan yang dilaporkan. Angka tersebut menunjukkan betapa vitalnya sektor transportasi dalam memengaruhi persepsi keamanan wisata.

Hanoi pun tak kalah mengkhawatirkan. Meski tak disebut secara rinci persentase tiap modus, ibu kota Vietnam ini kerap disorot lantaran praktik “taxi meter tampered” dan “hotel switch” yang menyesatkan turis pemula. Kondisi ini kontras dengan sejumlah kota berisiko rendah—Dublin, Edinburgh, Budapest, Seoul, San Francisco—yang berhasil menjaga reputasi lewat regulasi ketat, edukasi publik, serta penegakan hukum berkelanjutan.

Ilustrasi Taksi di Bangkok
Ilustrasi Taksi di Bangkok Google/Wikimedia Commons

Taksi, Sewa Mobil, dan “Coin Scam”: Ragam Modus yang Mengintai Wisatawan

Dalam lanskap pariwisata Asia Tenggara, transportasi darat sering menjadi sasaran modus penipuan. Laporan itu mengungkap penipuan taksi dan sewa mobil “hanya 2 persen” di kota-kota seperti Hong Kong dan Barcelona, tetapi “66 persen di Jakarta, Indonesia.” Temuan ini memperlihatkan ketimpangan regulasi serta celah pengawasan yang belum tertutup.

Selain transportasi, modus berbasis interaksi personal kian marak. Di penghujung 2024, seorang turis Australia mengunggah peringatan soal “coin scam” di Bali. Ia menulis:

“Pria itu menghampiri kami dan bertanya apakah kami tahu restoran Italia yang bagus untuk dikunjungi. Setelah itu, dia bertanya, ‘Apakah kamu punya koin dolar Australia?’”

Ia langsung menolak permintaan tersebut dan menyadari bahwa itu adalah skema penipuan yang memanfaatkan keramah-tamahan wisatawan. Insiden terjadi di sebuah mal di Badung, dengan pelaku disebut berasal dari Arab Saudi. Pengalaman ini viral di grup perjalanan lokal dan menambah daftar panjang kasus serupa di Pulau Dewata.

Dampak Ekonomi dan Respons Aparat di Lapangan

Kerugian finansial akibat penipuan turis tidak sekadar menghantam wisatawan; citra destinasi pun terguncang. Travel Mole (22 Desember 2022) melaporkan bahwa Thailand telah meningkatkan patroli polisi di zona wisata menyusul lonjakan penipuan.

Komisaris Biro Polisi Pariwisata Thailand, Letjen Pol Sukhun Prommayon, menegaskan, “patroli intensif dilakukan menggunakan sepeda, motor, dan mobil,” untuk membendung skema seperti umpan dan pengalihan taksi, penipuan “objek wisata tutup”, hingga pencurian di pusat kota Bangkok.

Pemerintah Indonesia pun tak tinggal diam. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggencarkan program Safe Travel dengan lini aduan real-time melalui aplikasi mobile.

Sementara itu, Vietnam memperketat sertifikasi transportasi daring dan mewajibkan stiker QR pada kendaraan resmi. Meski demikian, konsistensi penegakan hukum masih kerap dipertanyakan, terutama ketika oknum lokal turut diuntungkan dari alur “komisi” penipuan.

Ilustrasi Patroli Polisi
Ilustrasi Patroli Polisi Pexels/Kindel Media

Kota-Kota “Hijau” dan Pelajaran bagi Destinasi Asia Tenggara

Menariknya, studi Mastercard juga memaparkan kota-kota dengan tingkat penipuan turis terendah: San Francisco, Dublin, Seoul, Budapest, dan Edinburgh. Meski karakter budaya dan struktur ekonominya beragam, ada tiga benang merah: regulasi harga transportasi yang transparan, kanal pengaduan publik berbasis digital, dan kampanye kesadaran wisata secara kontinu.

Sebagai contoh, Seoul mewajibkan pemasangan GPS dan CCTV di taksi, sedangkan Dublin menerapkan “fare estimator” resmi terintegrasi dalam aplikasi nasional. San Francisco menggaet komunitas lokal dalam literasi konsumen, memastikan wisatawan dapat membedakan layanan resmi dan ilegal sejak mendarat. Praktik-praktik baik ini berpotensi diadaptasi di Asia Tenggara, asalkan diimbangi kemauan politik dan pengawasan lintas lembaga.

Ilustrasi Seoul
Ilustrasi Seoul Pixabay/cskkkk

Tips Aman Berwisata: Panduan Praktis Menghindari Penipuan

Agar liburan tetap aman dan menyenangkan, wisatawan perlu waspada terhadap berbagai modus penipuan. Gunakan transportasi resmi seperti taksi berbasis aplikasi atau pemesanan melalui hotel, hindari menerima tawaran dari orang asing yang tidak dikenal.

Waspadai modus “lokasi wisata tutup” yang sering terjadi di Bangkok, serta “coin scam” seperti yang dilaporkan di Bali. Jangan mudah percaya pada orang yang terlalu ramah atau meminta tukar uang asing tanpa alasan jelas.

Periksa kembali tagihan dan uang kembalian saat berbelanja atau makan di restoran. Simpan bukti transaksi dan hindari membagikan data pribadi. Tetap berada di tempat ramai dan hindari berjalan sendirian di malam hari. Dengan bersikap hati-hati dan waspada, wisatawan bisa menikmati perjalanan tanpa menjadi korban penipuan.

Ilustrasi Traveling
Ilustrasi Traveling Pixabay/JESHOOTS-com

Kasus penipuan turis di Hanoi, Bangkok, dan kota-kota besar Asia Tenggara menegaskan bahwa pertumbuhan pariwisata harus dibarengi tata kelola keamanan yang mutakhir. “Sektor perjalanan sangat rentan terhadap penipuan,” tegas Mastercard—dan kerentanan itu meningkat signifikan saat musim liburan.

Dengan memahami modus, angka, serta respons otoritas, wisatawan dapat menyiapkan strategi perlindungan diri, sementara pemerintah dan pelaku usaha dituntut menutup celah penipuan. Sinergi ini niscaya mengembalikan kepercayaan publik, menjaga sirkulasi devisa, dan memastikan bahwa industri pariwisata di kawasan tetap berdaya saing tanpa mengorbankan rasa aman pelancong.

Rekomendasi