Vaksin DBD bermasalah, Filipina denda perusahaan obat Prancis

Kamis, 4 Januari 2018 21:31 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Ilustrasi vaksinasi. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah Filipina memutuskan menunda penerbitan izin penjualan vaksin Demam Berdarah Dengue (DBD) 'Dengvaxia' buatan perusahaan asal Prancis, Sanofi. Penyebabnya adalah vaksin seharusnya meningkatkan sistem kekebalan terhadap DBD, diduga malah mengakibatkan penerimanya jatuh sakit.

Selain menunda penerbitan izin penjualan vaksin Dengvaxia, pemerintah Filipina mengenakan denda sebesar USD 2 ribu (sekitar Rp 27 juta) terhadap Sanofi. Alasannya adalah perusahaan itu diduga menyalahi aturan pendaftaran permohonan izin dan penjualan.

"Mereka (Sanofi) didenda dan penerbitan sertifikat produknya ditunda," kata Menteri Kesehatan Filipina, Francisco Duque, dilansir dari laman Reuters, Kamis (4/1).

Menurut badan Pengawas Obat dan Makanan Filipina, Sanofi melanggar persyaratan yakni tidak melakukan survei selepas menjual vaksin itu. Pemerintah Filipina juga memerintahkan Sanofi sementara menghentikan penjualan, distribusi, dan penawaran Dengvaxia.

Pemerintah Filipina menghabiskan dana sekitar USD 70 juta (sekitar Rp 948 miliar) buat membeli vaksin Dengvaxia. Hal itu dilakukan karena program imunisasi DBD digelar pada 2016 terhadap 734 anak-anak usia sembilan ke atas. Sebab, saban tahun ada sekitar 200 ribu penduduk Filipina terjangkit DBD.

Pihak perusahaan Sanofi menyatakan bakal terus bekerja sama dengan BPOM Filipina, dan akan tunduk terhadap seluruh aturan hukum diberlakukan di sana.

Sebelumnya, pemerintah Filipina mengatakan meminta ganti rugi USD 69,5 juta (sekitar Rp 1,1 triliun) kepada Sanofi. Duque juga meminta Sanofi bertanggung jawab membiayai pengobatan penduduk negara itu yang malah jatuh sakit usai diberi vaksin DBD, Dengvaxia. Jika tidak dituruti, maka pemerintah Filipina bakal menggugat korporasi itu.

"Kami minta uang PHP 3 miliar yang sudah dibayarkan untuk membeli Dengvaxia supaya dikembalikan. Kami juga meminta Sanofi menyediakan biaya buat ongkos perawatan dan pengobatan terhadap seluruh anak yang malah memburuk setelah diimunisasi," kata Duque saat itu.

Kementerian Kesehatan Filipina sejak akhir tahun lalu menggelar program imunisasi DBD. Vaksin itu diberikan kepada sekitar 730 ribu anak-anak berusia minimal sembilan tahun ke atas. Perusahaan pembuatnya mengklaim kalau vaksin itu aman bagi manusia berumur sembilan hingga 45 tahun. Namun, dari hasil penelitian terbaru terungkap kalau vaksin itu tidak bisa diberikan kepada orang-orang yang belum pernah terjangkit DBD. Sebab, dalam jangka waktu tiga tahun setelah disuntik, maka orang-orang sebelumnya tidak pernah mengidap DBD dipastikan malah terkena penyakit itu.

Duque menyatakan, setidaknya ada beberapa kasus anak-anak yang jatuh sakit karena DBD setelah diimunisasi. Namun, mereka berangsur-angsur pulih. Duque menyatakan sudah mengadukan masalah itu kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan masih menunggu rekomendasi pakar. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini