Warga Palestina di Gaza geram setelah media Israel mengonfirmasi tentara mereka menyelundupkan ratusan keledai dari Gaza ke wilayah pendudukan Israel.
Menurut laporan stasiun televisi Israel Kan 11, hewan-hewan tersebut dikirim ke fasilitas yang dikelola oleh lembaga nirlaba Israel bernama Let's Start Over, yang mengklaim memberikan perawatan dan rehabilitasi bagi keledai-keledai itu. Namun, warga Palestina menilai tindakan ini sebagai penyitaan sumber daya penting yang sangat dibutuhkan.
Dengan bahan bakar yang hampir tidak tersedia dan jalanan yang hancur, keledai menjadi satu-satunya alat transportasi yang masih dapat digunakan di Gaza — untuk mengangkut barang, mengevakuasi keluarga, serta membawa orang-orang yang terluka ke tempat yang aman.
Advertisement
Meski kelompok Israel itu berkeras bahwa mereka sedang "menyelamatkan" keledai dari perlakuan buruk, mereka secara terbuka menyatakan tidak akan mengembalikan hewan-hewan tersebut.
"Kami tidak akan mengizinkan keledai-keledai itu kembali ke Gaza, dan kami akan berupaya mengeluarkan sisanya agar tidak digunakan dalam upaya rekonstruksi," kata direktur organisasi tersebut, seperti dilansir Almayadeen, Selasa (15/7).
Kan melaporkan pada 18 Mei 2025, pengiriman pertama sebanyak 58 ekor keledai berangkat dari Bandara Ben Gurion menuju Bandara Liège di Belgia, dan kemudian dipindahkan ke tempat penampungan hewan di Prancis dan Belgia.
Pengiriman ini dikoordinasikan oleh organisasi Network for Animals yang dipimpin oleh Gloria Davis dan Shannon Edwards, serta oleh perusahaan Israel bernama Orien Cargo dengan alasan untuk memberikan lingkungan yang lebih luas dan bebas di Prancis serta Belgia.
Advertisement
Pihak berwenang Israel mencoba membenarkan langkah ini dengan klaim bahwa keledai-keledai tersebut menunjukkan tanda-tanda trauma fisik dan psikologis akibat kelelahan digunakan oleh warga Palestina yang mengungsi.
"Operasi ini berhasil mencapai tujuannya," ujar seorang juru bicara terkait pemindahan paksa tersebut.
Laporan-laporan juga menggambarkan keledai-keledai itu sebagai hewan yang mengalami "trauma psikologis" dan membutuhkan perawatan khusus.
Tidak Ada Persetujuan atau Dokumentasi
Namun, tidak ada dokumentasi kepemilikan atau persetujuan yang ditunjukkan. Tidak ada komunikasi dengan para pemilik asli keledai di Gaza, yang semakin memperkuat kecurigaan bahwa operasi ini adalah bentuk pencurian dengan dalih “kesejahteraan hewan”.
Advertisement
Para dokter hewan di Gaza, seperti Dr. Saif Alden, menentang keras narasi semacam itu. Meskipun klinik hewan keliling mereka dihancurkan oleh serangan udara Israel pada bulan April, tim Alden yang merupakan bagian dari lembaga asal Inggris Safe Havens for Donkeys, telah merawat lebih dari 7.000 keledai sejak perang dimulai.
Bagi dia dan rekan-rekannya, keledai bukan sekadar alat angkut, tetapi juga penopang hidup bagi masyarakat Gaza.
“Mereka memberi tanpa meminta balasan,” kata Alden kepada The Guardian, menggambarkan bagaimana keledai-keledai itu membantu membawa warga sipil yang terluka dan ibu hamil ke tempat aman.
Warga Palestina secara luas memandang pemindahan keledai ini sebagai bagian dari pola perampasan yang lebih besar, perpanjangan dari perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat populasi Gaza mengalami kehancuran kemanusiaan total. Kini, bahkan alat bertahan hidup terakhir mereka pun ikut dirampas.