Momen penyelamatan berlangsung menegangkan dengan dibantu alat berat ekskavator dan beberapa tim penyelamat.
Advertisement
Pencarian korban gempa bumi di Maroko hingga kini masih berlangsung mengingat jumlah korban yang masih terus bertambah.
Namun di tengah pencarian korban, petugas menemukan sesuatu yang tak terduga dan mengejutkan.
Advertisement
Saat melakukan penggalian reruntuhan bangunan pasca gempa bumi mengguncang Maroko, petugas menemukan seekor keledai dalam keadaan masih hidup.
Advertisement
Saat mau diselamatkan hewan ternak tersebut tampak diam.
Sementara alat berat terus beroperasi melakukan penggalian puing bangunan untuk proses penyelamatannya dan pencarian warga yang masih terjebak.
Advertisement
Proses penyelamatan dilakukan menggunakan alat berat ekskavator.
Advertisement
Dengan penggalian yang cermat dilakukan secara perlahan, akhirnya proses penyelamatan keledai berlangsung sukses.
Kondisi hewan itu tampak sehat dan masih bisa berdiri.
Advertisement
Sementara itu petugas gabungan masih melakukan pencarian warga yang masih terjebak di dalam reruntuhan gempa.
Advertisement
Orang-orang pun masih mencari kerabat dan berharap adanya mukzizat anggota keluarga mereka bisa selamat dari reruntuhan rumah dan banguan.
Advertisement
Sejumlah tempat ibadah dilaporkan ambruk dan kota bersejarah Marrakesh juga mengalami kerusakan parah.
Gempa ini adalah yang terparah selama lebih dari 60 tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri mengatakan 2.012 orang tewas dan 2.059 lainnya luka termasuk 1.404 dalam kondisi kritis.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat mengatakan gempa Jumat malam itu berkekuatan 6.8 magnitudo dengan pusat gempat berada di 72 kilometer sebelah barat daya Marrakesh.
Advertisement
Di luar sebuah rumah sakit ada sekitar 10 mayat ditutup kain dan selimut.
Advertisement
Dan tak jauh dari situ keluarga korban menangisi orang-orang kesayangan mereka yang sudah tiada.
Advertisement
"Sewaktu saya merasakan bumi bergoyang di bawah kaki dan rumah mulai miring, saya bergegas membawa anak-anak keluar. Tapi tetangga saya tidak sempat."
Muhamad Azaw, warga Desa Amizmiz