Profil Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang Terlibat Demonstrasi dan Hidup di Pengasingan

Nama Reza Pahlavi kerap muncul dalam aksi unjuk rasa besar-besaran yang tengah terjadi di Iran.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Profil Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang Terlibat Demonstrasi dan Hidup di Pengasingan
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan, berbicara dalam sebuah konferensi pers di Paris, Prancis, pada 23 Juni 2025. (Dok. AP/Thomas Padilla, Arsip) (© 2026 Liputan6.com)

Nama Reza Pahlavi kerap dikait-kaitnya dengan aksi unjuk rasa besar-besaran yang tengah terjadi di Iran. Selama 50 tahun ia hidup dalam pengasingan. Bukan tokoh sembarangan.

Pahlavi merupakan putra Mahkota Iran. Ia anak dari Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang tidak disukai banyak orang. Di tahun 1979, tahtanya turun.

Kini, Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam masa depan negaranya. Pahlavi berhasil menggerakkan para pengunjuk rasa untuk turun ke jalan pada malam Kamis (8/1), yang merupakan peningkatan signifikan dari gelombang protes yang melanda Iran.

Awalnya, demonstrasi ini dipicu oleh kondisi ekonomi Iran yang memburuk, namun saat ini telah berkembang menjadi tantangan serius terhadap sistem teokrasi yang ada. Pemerintah Iran telah mengalami guncangan akibat protes nasional yang berlangsung bertahun-tahun, serta konflik bersenjata selama 12 hari yang dimulai pada bulan Juni lalu, di mana Israel terlibat dengan menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran, dengan dukungan dari Amerika Serikat (AS).

Yang masih menjadi tanda tanya adalah sejauh mana dukungan nyata yang dimiliki Pahlavi, yang kini berusia 65 tahun dan tinggal di pengasingan di AS, di dalam negeri Iran.

Apakah para pengunjuk rasa benar-benar mendambakan kembalinya Takhta Merak, sebutan untuk masa pemerintahan ayahnya? Ataukah mereka sekadar ingin mengganti teokrasi syiah yang kini berkuasa?

Pada Jumat (9/1), Pahlavi menyerukan rakyat Iran untuk kembali turun ke jalan melalui siaran ulang di saluran berita satelit berbahasa Persia dan situs-situs berbasis di luar negeri. Seruan tersebut direspons oleh para demonstran, dan Pahlavi juga telah mengajak untuk melakukan demonstrasi lanjutan pada akhir pekan lalu.

"Selama satu dekade terakhir, gerakan protes dan komunitas pembangkang Iran semakin bernuansa nasionalis, baik dari segi nada maupun pendekatan," ungkap Behnam Ben Taleblu, seorang pakar Iran dari lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies yang berpusat di Washington, yang juga dikenai sanksi oleh Teheran, seperti yang dilaporkan oleh Associated Press.

"Semakin Iran mengalami kegagalan, semakin kuat pula lawan ideologisnya. Keberhasilan putra mahkota dan timnya terletak pada kemampuannya untuk menunjukkan kontras yang tajam antara normalitas masa lalu dan janji masa depan, dibandingkan dengan mimpi buruk dan kesulitan yang menjadi kenyataan bagi banyak warga Iran saat ini."

Popularitas Pahlavi kembali meningkat selama masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump. Namun, Trump dan para pemimpin dunia lainnya tetap berhati-hati untuk tidak secara terbuka mendukungnya, mengingat banyaknya kisah peringatan di Timur Tengah dan wilayah lain mengenai pemerintah Barat yang menaruh harapan pada tokoh-tokoh pengasingan yang telah lama terputus dari tanah air mereka.

Media pemerintah Iran, yang selama bertahun-tahun mengejek Pahlavi sebagai sosok yang tidak peka terhadap kenyataan dan korup, menyalahkan apa yang mereka sebut sebagai "elemen teroris monarkis" atas demonstrasi yang terjadi pada malam Kamis tersebut. Dalam aksi tersebut, beberapa kendaraan dibakar dan pos-pos polisi diserang.

Dibesarkan dalam Kemewahan

Reza Pahlavi di Pusaran Demonstrasi Iran, Ini Profil Putra Mahkota yang Hidup di Pengasingan
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan, berbicara dalam sebuah konferensi pers di Paris, Prancis, pada 23 Juni 2025. (Dok. AP/Thomas Padilla, Arsip) © 2026 Liputan6.com

Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 dan dibesarkan dalam kemewahan sebagai putra mahkota. Ayahnya, Mohammad Reza, mewarisi takhta dari Reza Shah Pahlavi, seorang jenderal yang merebut kekuasaan dengan dukungan Inggris.

Kekuasaan Mohammad Reza semakin kuat setelah kudeta yang didukung oleh CIA pada tahun 1953. Ia menjalin kerja sama yang erat dengan Amerika Serikat, yang menjual senjata senilai miliaran dolar kepada rezim otoriter tersebut dan menjadikan Iran sebagai basis pengintaian terhadap Uni Soviet.

Pahlavi muda menempuh pendidikan di Sekolah Reza Pahlavi, yang dinamai sesuai namanya, yang terletak di dalam kompleks Istana Niavaran di utara Teheran. Seorang penulis biografi ayahnya mencatat bahwa sang putra mahkota pernah memutar musik rock di istana saat kunjungan Tahun Baru Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, ke Teheran. Namun, di balik kesan modern tersebut, fondasi kekuasaan monarki Iran mulai goyah.

Meskipun berhasil memanfaatkan lonjakan harga minyak pada 1970-an, ketimpangan ekonomi yang mendalam berkembang selama masa pemerintahan shah, sementara badan intelijen SAVAK yang ditakuti terkenal karena praktik penyiksaan terhadap para pembangkang.

Jutaan orang di seluruh Iran turut berpartisipasi dalam demonstrasi menentang shah, menyatukan berbagai elemen masyarakat seperti kaum kiri sekuler, serikat buruh, kalangan profesional, mahasiswa, dan ulama. Ketika krisis mencapai puncaknya, shah terjerumus akibat ketidakmampuannya bertindak dan keputusan-keputusan buruk yang diambilnya, sementara ia diam-diam berjuang melawan kanker stadium akhir.

Pada tahun 1978, putra mahkota meninggalkan Iran untuk mengikuti sekolah penerbangan di sebuah pangkalan udara AS di Texas. Setahun kemudian, ayahnya melarikan diri dari Iran di tengah pecahnya apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Islam.

Para ulama syiah kemudian mengesampingkan faksi-faksi anti-shah lainnya dan membentuk pemerintahan teokratis baru yang mengeksekusi ribuan orang setelah revolusi dan hingga kini tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.

Setelah kematian ayahnya, sebuah istana kerajaan di pengasingan mengumumkan bahwa Reza Pahlavi mengambil peran sebagai shah pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. "Saya memahami dan bersimpati atas penderitaan serta gejolak batin yang Anda alami," ungkap Pahlavi saat berpidato kepada rakyat Iran.

"Saya meneteskan air mata yang terpaksa Anda sembunyikan. Namun saya yakin selalu ada cahaya di balik kegelapan, dan jauh di dalam hati, Anda dapat percaya bahwa mimpi buruk ini seperti yang lainnya dalam sejarah kita akan berlalu." Alih-alih kembali berkuasa, hingga saat ini ia masih berada dalam pengasingan.

Puluhan Tahun Hidup di Pengasingan

Meski begitu, Pahlavi tetap berusaha untuk memperluas pengaruhnya di luar negeri. Pada tahun 1986, The Washington Post memberitakan bahwa CIA membantu sekutu Pahlavi dengan "pemancar televisi mini" untuk siaran gelap yang berlangsung selama 11 menit ke Iran, yang berhasil membajak sinyal dari dua stasiun televisi lokal.

Dalam siaran tersebut, Pahlavi dilaporkan menyatakan, "Saya akan kembali dan bersama-sama kita akan membuka jalan bagi kebahagiaan dan kemakmuran bangsa melalui kebebasan." Namun, harapan tersebut tidak pernah terwujud. Selama ini, Pahlavi lebih banyak tinggal di Amerika Serikat, khususnya di Los Angeles dan Washington, DC, sementara ibunya, Shahbanu Farah Pahlavi, memilih menetap di Paris.

Selama bertahun-tahun, sekelompok kecil pendukung monarki Iran di pengasingan terus memelihara impian untuk mengembalikan Dinasti Pahlavi ke kekuasaan. Namun, Pahlavi dihadapkan pada berbagai tantangan untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas, termasuk kenangan pahit mengenai pemerintahan ayahnya, serta anggapan bahwa ia dan keluarganya tidak memahami kondisi Iran saat ini.

Di samping itu, penindasan di dalam negeri juga bertujuan untuk membungkam segala bentuk oposisi. Pada saat yang sama, generasi muda Iran yang lahir puluhan tahun setelah runtuhnya pemerintahan Shah mengalami situasi yang berbeda, di mana mereka hidup di bawah pembatasan sosial dan penindasan brutal oleh pemerintah, serta menghadapi kekacauan ekonomi yang disebabkan oleh sanksi internasional, korupsi, dan salah urus.

Pahlavi berusaha untuk menyampaikan pandangannya melalui video-video di media sosial dan saluran berita berbahasa Persia seperti Iran International, yang menyoroti seruannya untuk melakukan protes. Saluran tersebut juga menampilkan kode QR yang mengarahkan pemirsa kepada informasi bagi anggota aparat keamanan di Iran yang ingin bekerja sama dengannya.

Mahmood Enayat, direktur jenderal Volant Media pemilik Iran International mengatakan bahwa saluran tersebut menayangkan iklan Pahlavi dan yang lainnya secara pro bono sebagai bagian dari misi untuk mendukung masyarakat sipil Iran. Dalam beberapa wawancara dalam beberapa tahun terakhir, Pahlavi mengemukakan gagasan tentang monarki konstitusional dan membuka kemungkinan sistem dengan pemimpin yang terpilih melalui pemilu, bukan secara turun-temurun, meskipun ia menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran.

"Rezim ini pada dasarnya tidak dapat direformasi karena sifat dan DNA-nya memang demikian," ungkap Pahlavi kepada Associated Press pada tahun 2017. "Rakyat telah meninggalkan gagasan reformasi dan meyakini bahwa harus ada perubahan mendasar.

Sekarang, bagaimana perubahan itu bisa terjadi adalah pertanyaan besarnya." Di sisi lain, ia juga menghadapi kritik terkait dukungannya terhadap Israel, terutama setelah konflik bersenjata yang terjadi pada bulan Juni lalu. Pahlavi mengunjungi Israel pada tahun 2023 dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dikenal sebagai sosok keras terhadap Iran.

Kritiknya terhadap kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 turut mendorong keputusan Trump untuk menarik AS dari perjanjian tersebut. Netanyahu juga memimpin perang selama 12 hari melawan Iran.

"Fokus saya saat ini adalah membebaskan Iran dan saya akan mencari segala cara yang memungkinkan tanpa mengorbankan kepentingan nasional dan kemandirian, dengan siapa pun yang bersedia membantu kami—baik itu AS, Arab Saudi, Israel, atau siapa pun," ujar Pahlavi pada tahun 2017.

Rekomendasi