Pemerintah Israel akhirnya membuka kembali salah satu penyeberangan utama di bagian utara Jalur Gaza, langkah yang muncul setelah meningkatnya protes terhadap minimnya bantuan kemanusiaan yang mampu masuk ke wilayah tersebut.
COGAT, lembaga Israel yang menangani urusan sipil di wilayah Palestina, mengumumkan bahwa perlintasan Zikim kembali beroperasi untuk mengizinkan masuknya truk bantuan. Menurut lembaga itu, seluruh bantuan yang dipasok oleh PBB maupun organisasi kemanusiaan lainnya tetap harus melalui pemeriksaan keamanan yang ketat dari otoritas Israel. Proses ini sebelumnya menuai keluhan dari para pekerja kemanusiaan karena dianggap memakan waktu lama, rumit, dan membatasi sejumlah jenis barang vital.
Tantangan tidak berhenti di perbatasan. Setelah memasuki Gaza, truk bantuan harus melintasi kawasan yang porak-poranda akibat serangan udara selama berbulan-bulan. Infrastruktur hancur parah, dan PBB memperkirakan sekitar 83 persen bangunan di seluruh Gaza mengalami kerusakan signifikan, menyulitkan distribusi bantuan ke warga yang paling membutuhkan.
Peningkatan arus bantuan kemanusiaan menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dicapai pada Oktober lalu, dengan harapan dapat meredakan krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza.