Gaza Jadi Kota Paling Mahal di Dunia, Harga-Harga Kebutuhan Pokok Makin Menggila, Ini Daftarnya

Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin parah, menyebabkan harga barang sembako di Gaza meroket.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Gaza Jadi Kota Paling Mahal di Dunia, Harga-Harga Kebutuhan Pokok Makin Menggila, Ini Daftarnya
Gaza Jadi Kota Paling Mahal di Dunia, Harga-Harga Kebutuhan Pokok Makin Menggila, Ini Daftarnya (Merdeka.com)

Seorang warga Palestina bernama Muhamad Al Khalidi membagikan informasi melalui akun Instagramnya tentang harga-harga kebutuhan pokok di Gaza.

Menurut dia, Gaza kini menjadi kota paling mahal di dunia.

"Bahkan barang-barang paling sederhana pun sekarang harganya sepuluh kali lipat dari harga normal, dan hanya sedikit barang yang tersedia; semuanya langka. Aku terus memikirkan mereka yang tidak punya uang sama sekali dalam situasi ini," kata dia, seperti dikutip dari akun @m7md_vo.

Dalam videonya, al Khalidi menunjukkan harga air minum dalam kemasan plastik mencapai USD 0,5 dolar (Rp 8.100). Harga kayu bakar satu ikat USD 3 (Rp 48.600).

1 kg tepung USD 50 = Rp 800.000

1 lembar roti USD 3 = Rp 48.600

Kopi 12 gram 5 dolar = Rp 81.200

"Yang paling menyakitkan dari semuanya adalah ketika dunia tidak bisa membawa masuk bantuan dan menghentikan genosida ini," kata dia.

Berikut daftar harga beberapa kebutuhan pokok di Gaza:

Tepung: USD 50 = Rp 810.000 per kilo

Gula: USD 90 = Rp 1.458.000 per kilo

Kacang-kacangan: USD 26 = Rp 421.200 per kilo

Beras: USD 30 Rp 486.000 per kilo

Kenaikan Harga Sembako di Gaza

Jalur Gaza kini menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin mendalam, ditandai dengan lonjakan harga kebutuhan pokok yang ekstrem. Situasi ini merupakan dampak langsung dari blokade berkepanjangan dan konflik yang tak kunjung usai. Sebagian besar penduduk Gaza kini tidak mampu mengakses kebutuhan dasar mereka, yang memicu kekhawatiran global akan bencana kelaparan.

Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jalur Gaza telah melonjak tajam hingga 283% sejak Oktober 2023. Angka ini mencerminkan betapa parahnya dampak agresi Israel terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan harga ini diperparah oleh ketersediaan barang yang sangat menipis, menciptakan lingkaran setan kelangkaan dan inflasi.

Kondisi ini telah mendorong Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan serius. Mereka menerima "pesan-pesan putus asa tentang kelaparan" dari warga sipil yang terjebak dalam kondisi sulit. Kementerian Kesehatan Gaza bahkan melaporkan setidaknya 18 kematian akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir, menunjukkan dampak mematikan dari krisis pangan ini.

gaza
gaza the new arab

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok di Gaza telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara keseluruhan, harga kebutuhan pokok telah melonjak hingga 527%, sementara harga makanan secara umum dilaporkan meningkat hingga 40 kali lipat. Angka-angka ini menunjukkan betapa sulitnya bagi warga Gaza untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Harga pangan di Gaza telah meroket lebih dari empat kali lipat sejak dimulainya konflik. Kondisi ini membuat warga kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kelangkaan barang menjadi pemicu utama lonjakan harga, karena pasokan yang masuk ke wilayah tersebut sangat terbatas.

Tepung: Komoditas Paling Terdampak

Tepung terigu, sebagai salah satu bahan pokok utama, mengalami kenaikan harga yang paling drastis. Harga tepung terigu telah meningkat lebih dari 5.600%. Di Gaza Utara, satu karung tepung seberat 25 kg bisa mencapai USD 1.000 (sekitar Rp 15.500.000), sementara di Gaza Selatan sekitar USD 150.

Perbedaan harga yang signifikan antar wilayah ini mencerminkan tingkat kesulitan akses dan distribusi. Pada awal Mei 2025, satu karung tepung terigu 25 kg di Kota Gaza dilaporkan dijual seharga lebih dari 1.500 ILS (sekitar USD 415), menunjukkan peningkatan lebih dari 3.000% dibandingkan akhir Februari. Di pasar gelap, harga tepung per kilogram bisa mencapai 80-100 shekel (sekitar Rp 350.000 - Rp 450.000).

Gula dan Air: Kebutuhan Dasar yang Melambung

Kata Pengamat Terkait Pengiriman Beras 10.000 Ton Beras dari Indonesia ke Palestina
Warga Palestina terus menjadi korban dalam proses distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial di Jalur Gaza. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Gula juga menjadi komoditas yang harganya meroket tajam. Di Gaza Utara, harga gula per kilogram mencapai USD 60 (sekitar Rp 930.000), sedangkan di Gaza Selatan sebesar USD 28 (sekitar Rp 434.000). Bahkan, UNRWA membagikan bukti struk pembelian yang menunjukkan harga 1 kilogram gula mencapai USD 100.

Air bersih, yang merupakan kebutuhan vital, juga mengalami lonjakan harga lebih dari dua kali lipat. Harga air minum dalam kemasan yang dulunya seharga 2 shekel (sekitar Rp 8.000), kini naik menjadi 4 atau 5 shekel (sekitar Rp 16.000-Rp 20.000). Keluarga di Gaza utara kini harus membayar USD 20 per pekan hanya untuk air. Lebih lanjut, hampir 97% air tanah di Gaza tidak bisa diminum karena tercampur limbah beracun, memaksa warga bergantung pada pasokan air yang mahal dan terbatas.

Dampak pada Kebutuhan Pangan Lainnya

Tidak hanya tepung, gula, dan air, berbagai bahan pangan lain juga mengalami kenaikan harga yang tidak masuk akal:

  1. Beras: Satu kilogram beras yang pada Februari berharga USD 3, kini menjadi USD 10.
  2. Mentimun: Harganya 7 kali lebih mahal.
  3. Susu Formula Bayi: Harganya meningkat empat kali lipat.
  4. Kacang Polong Kalengan: Harganya naik 1.000%.
  5. Telur: Sebelum perang, selusin telur berharga USD 3,50, kini dijual seharga USD 32 di selatan dan sekitar USD 73 di utara.
  6. Kentang: Tiga buah kentang saat ini mencapai 150 shekel (sekitar Rp 630.000), padahal sebelum perang, satu kilogram kentang hanya seharga dua shekel (sekitar Rp 8.000).
  7. Daging, Buah-buahan, dan Produk Susu: Sebagian besar sudah habis atau harganya sangat mahal, jika pun ada, harganya tidak terjangkau.

Blokade dan Krisis Kemanusiaan

Kenaikan harga yang drastis ini diperparah oleh blokade Israel yang terus-menerus. Blokade ini mencegah masuknya truk bantuan dan pasokan komersial, menyebabkan kelangkaan parah dan lumpuhnya hampir seluruh aktivitas ekonomi di Gaza. Meskipun UNRWA mengonfirmasi memiliki stok makanan yang cukup untuk seluruh populasi Gaza selama lebih dari tiga bulan, blokade menghambat distribusi efektif.

Situasi ini telah mendorong warga sipil ke ambang batas kelangsungan hidup. Laporan UNRWA melalui platform X menyoroti lonjakan harga bahan makanan yang mencapai 40 kali lipat, membuat akses terhadap kebutuhan pokok menjadi sangat sulit bagi penduduk setempat. Krisis ini telah menyebabkan penderitaan yang meluas di seluruh wilayah, dengan dampak kemanusiaan yang mendalam dan memprihatinkan.

Rekomendasi