Arkeolog Temukan Patung Mini Berusia 1.500 Tahun di Makam Kuno, Ada Liontin Berbentuk Kepala Wanita

Patung-patung tersebut dipahat dari kayu eboni langka.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Arkeolog Temukan Patung Mini Berusia 1.500 Tahun di Makam Kuno, Ada Liontin Berbentuk Kepala Wanita
Arkeolog Temukan Patung Mini Berusia 1.500 Tahun di Makam Kuno, Ada Liontin Berbentuk Kepala Wanita (Merdeka.com)

Dua patung kayu kuno Afrika yang berukuran kecil berusia 1.500 tahun ditemukan di makam-makam Kristen kuno di Gurun Negev, Palestina yang diduduki Israel. Badan Kepurbakalaan Israel (IAA) mengumumkan penemuan tersebut pada Rabu (14/5) bersamaan dengan publikasi makalah riset di jurnal Akademik Atiqot.

Patung-patung tersebut dipahat dari kayu eboni langka dan ditemukan di situs arkeologi Tel Malhata, di Lembah Arad. Meskipun kayunya diduga berasal dari India atau Sri Lanka, para ahli meyakini patung tersebut dibuat di Afrika berdasarkan ciri khas wajahnya, demikian dilansir Greek Reporter pada Jumat (16/5).

“Sejauh yang kami ketahui, tidak ada patung seperti itu yang pernah ditemukan di Israel, Yordania, dan wilayah kami,” kata Dr. Noe D. Michael, arkeolog IAA sekaligus peneliti Universitas Cologne Jerman.

Artefak ini ditemukan selama musim penggalian pada 2017 di dua makam yang berdekatan. Dikabarkan bahwa makam tersebut milik seorang wanita yang diperkirakan berusia 20 hingga 40 tahun. Sedangkan makam yang lainnya milik seorang anak berusia antara enam hingga delapan tahun.

Selain patung kecil yang terbuat dari kayu eboni, arkeolog juga menemukan tiga patung kecil yang dipahat dari tulang. Patung tersebut meliputi bentuk kepala wanita berukuran 1,5 sentimeter dan sebagian patung laki-laki berambut panjang. Keduanya memiliki lubang kecil yang menunjukkan bahwa benda itu kemungkinan dikenakan sebagai liontin. Peneliti meyakini sosok pada patung itu menggambarkan leluhur, bukan dewa.

Berdasarkan letak makam yang berdekatan dan kesamaan benda yang dikubur bersama, peneliti meyakini kedua orang tersebut adalah ibu dan anak. Namun upaya mengonfirmasi melalui pengujian DNA tidak berhasil.

Makam-makam tersebut berasal dari abad ke-6 hingga awal abad ke-7 Masehi. Mayoritas makam milik orang Kristen, meskipun ada juga makam dari periode pagan Romawi dan awal era Islam. Tapi hingga kini, tidak ditemukan makam orang Yahudi.

Meski di makam-makam ini tidak terdapat simbol keagamaan, posisi jenazah yang dibaringkan telentang dengan kepala menghadap barat sesuai dengan praktik pemakaman Kristen era Bizantium.

Michael mencatat bahwa agama Kristen telah menyebar ke kawasan Tanduk Afrika pada abad ke-6, sesuai dengan perkiraan waktu kematian. Wanita dan anak tersebut diduga telah bermigrasi ke utara melalui jalur perdagangan.

Tel Malhata berada di persimpangan rute perdagangan utama. Salah satu rute yang menghubungkan Teluk Aqaba ke Yerusalem. Sementara rute lainnya menghubungkan Gaza ke Laut Mati.

“Karena Tel Malhata terletak di jalur dagang utama ini, banyak orang melintasinya,” kata Michael sambil merujuk pada perhiasan alabaster langka dan benda impor lainnya.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi