Sedang Main di Padang Pasir, Bocah Ini Temukan Fosil Tengkorak Gajah Purba Berusia 1,2 Juta Tahun

Hewan ini merupakan megafauna yang hidup di Amerika Utara selama zaman Pleistosen, antara 1,8 juta dan 10.000 tahun yang lalu.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Sedang Main di Padang Pasir, Bocah Ini Temukan Fosil Tengkorak Gajah Purba Berusia 1,2 Juta Tahun
Sedang Main di Padang Pasir, Bocah Ini Temukan Fosil Tengkorak Gajah Purba Berusia 1,2 Juta Tahun (Merdeka.com)

Jude Sparks, seorang bocah berusia 9 tahun, membuat penemuan luar biasa di Pegunungan Organ dekat Las Cruces, New Mexico, Amerika Serikat. Saat bermain di padang pasir, Jude menemukan sebuah tengkorak yang awalnya dianggap sebagai tengkorak sapi oleh keluarganya pada 2016 lalu.

Namun, penemuan ini ternyata jauh lebih signifikan daripada yang mereka duga. Tengkorak tersebut, setelah diteliti, adalah fosil Stegomastodon berusia 1,2 juta tahun, sebuah kerabat purba gajah modern. Stegomastodon, sejenis Gomphothere, merupakan megafauna yang hidup di Amerika Utara selama zaman Pleistosen, antara 1,8 juta dan 10.000 tahun yang lalu

Penemuan tengkorak Stegomastodon yang relatif lengkap ini sangat berharga bagi para ilmuwan, karena memberikan informasi penting tentang kehidupan dan lingkungan hewan purba tersebut.

Setelah menyadari pentingnya penemuan tersebut, keluarga Jude menghubungi para ahli di New Mexico State University, tempat Dr. Peter Houde, seorang profesor biologi, mengidentifikasi spesimen tersebut. Houde mengonfirmasi bahwa fosil tersebut adalah stegomastodon, anggota keluarga Gomphotheres, yang mencakup mamut dan gajah. Kondisi fosil yang terpelihara dengan baik dan tindakan cepat Jude membantu melestarikannya untuk penelitian lebih lanjut, mencegah potensi kerusakan akibat unsur-unsur alam. Demikian dikutip dari Indian Defence Review, Rabu (13/5).

"Ini sungguh hal yang sangat tidak biasa ditemukan," kata Dr Houde kepada The New York Times.

"Kami sungguh sangat bersyukur mereka menghubungi kami, karena jika mereka tidak melakukannya, jika mereka mencoba melakukannya sendiri, spesimen itu bisa saja hancur."

Proses identifikasi dan penggalian fosil yang beratnya sekitar satu ton ini melibatkan kerja sama dengan para ahli dari New Mexico State University dan dipimpin Dr. Houde. Proses penggalian dan rekonstruksi memakan waktu berbulan-bulan karena membutuhkan kehati-hatian ekstra untuk mencegah kerusakan pada fosil yang rapuh.

Prosesnya bukan hanya tentang mengeluarkan fosil dari tanah—tetapi juga melibatkan pengawetan setiap detail dengan hati-hati untuk memastikan integritas spesimen untuk analisis ilmiah di masa mendatang.

"Itu benar-benar harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan pengetahuan," kata Houde.

Setelah berhasil digali, tengkorak itu diangkut ke Museum Vertebrata New Mexico State University, tempat tengkorak itu sekarang berada untuk dipamerkan di depan umum dan dipelajari secara ilmiah.

Rekomendasi