Begini Reaksi Adik Kim Jong-un Setelah Satelit Mata-mata Korut Dinilai Tak Canggih

Sejumlah pakar menilai hasil foto yang diambil satelit mata-mata itu buruk.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Begini Reaksi Adik Kim Jong-un Setelah Satelit Mata-mata Korut Dinilai Tak Canggih
Kim Yo Jong. ©2020 Merdeka.com

Korea Utara (Korut) mengembangkan teknologi canggih yang berfungsi untuk mengambil gambar dari luar angkasa menggunakan sateli mata-mata. Namun sejumlah pakar menilai hasil foto yang diambil satelit mata-mata itu buruk. Komentar para pakar muncul setelah Korut merilis foto hitam putih kota Seoul dan Incheon di Korea Selatan yang diambil dari satelit tersebut.

Adik pemimpin Korut Kim Jong-un, Kim Yo Jong geram dengan komentar para ahli. Kantor berita pemerintah Korut, KCNA melaporkan, Kim Yo Jong mengatakan komentar para pakar itu "tidak pantas dan ceroboh" dalam menilai progres dan kemampuan pengembangan satelit Korut hanya melalui dua buah foto.

Kim Yo Jong menegaskan, kamera yang dipasang di satelit itu memiliki "keandalan kontrol darat termasuk kontrol sikap dan perintah kontrol menembak di wilayah penerbangan luar angkasa yang sesuai".

Kim juga mengatakan perangkat transmisi data satelit dan teknologi pemrosesan enkripsi dapat diandalkan.

"Kami melakukan uji coba yang diperlukan dan melaporkan hasil yang signifikan dan memuaskan," jelasnya, dikutip dari AFP, Selasa (20/12).

Pengembangan satelit mata-mata militer adalah salah satu proyek pertahanan utama Pyongyang yang ditetapkan Kim Jong Un tahun lalu.

Awal tahun ini, Pyongyang melakukan dua peluncuran rudal, yang menurut Amerika Serikat dan Korea Selatan kemungkinan melibatkan komponen rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17 yang baru.

Kim Yo Jong membantah klaim bahwa peluncuran satelit Korut itu merupakan ICBM.

"Jika kami mengembangkan ICBM, kami akan menembakkan ICBM, dan tidak menguji coba roket jarak jauh yang menyamar sebagai satelit," ujarnya.

Dia juga menepis para analis yang meragukan Korut memiliki teknologi canggih yang dibutuhkan roket untuk bertahan saat masuk kembali ke atmosfer Bumi, dengan mengatakan dia akan menjelaskannya dengan "cara yang mudah dipahami" kepada para penentang mereka.

"Jika teknologi re-entry atmosfer tidak mencukupi, tidak mungkin untuk menerima data jarak jauh dari unit tempur pilot sampai saat terjadi benturan," ujarnya.

Rekomendasi