Persidangan para terduga pelaku serangan teror tahun 2015 di Paris dimulai pada Rabu. Seorang tersangka, Salah Abdeslam mengatakan di pengadilan, dia adalah tentara ISIS, seperti dilaporkan Reuters.
Serangan teror tahun 2015 itu menewaskan 130 orang dan ratusan lainnya terluka setelah sejumlah pria bersenjata dengan rompi bom bunuh diri menargetkan enam bar dan restoran, stadium konser Bataclan, dan sebuah stadion olahraga.
Dilansir Al Arabiya, Kamis (9/9), Salah Abdeslam, pria 31 tahun keturunan Prancis-Maroko, diyakini satu-satunya tersangka pelaku serangan yang masih hidup, di antara 20 pria yang disidang.
Serangan tersebut terjadi pada 13 November 2015 malam, dan meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Prancis.
Berpakaian serba hitam, Abdeslam duduk di belakang partisi kaca di ruang sidang yang dibangun khusus sesaat sebelum persidangan yang telah lama ditunggu-tunggu itu akan dimulai.
Polisi berada di luar untuk menjaga gedung pengadilan Palais de Justice di pusat kota Paris, dan para penyintas bersama keluarganya mengatakan tidak sabar mendengar pengakuan yang mungkin bisa membantu mereka lebih memahami apa yang terjadi dan mengapa mereka melakukannya.
“Kami juga sedang menunggu dengan cemas karena kita tahu saat sidang ini berlangsung, rasa sakit, peristiwa itu, semuanya akan kembali ke permukaan,” jelas ketua perkumpulan para korban serangan, Philippe Duperron, yang juga merupakan ayah dari Thomas, yang tewas dalam serangan tersebut.
Duperron juga akan bersaksi di pesidangan.
Persidangan akan berlangsung sembilan bulan, dengan sekitar 1.800 penggugat dan lebih dari 300 pengacara terlibat di dalamnya. Menteri Kehakiman, Eric Dupond-Moretti menggambarkan persidangan ini sebagai persidangan maraton yang tidak pernah diperkirakan.
Enam dari 20 terduga akan disidang in absentia. Sebagian besar dari mereka diyakini telah tewas.
Para penyintas dan keluarga korban tewas mengatakan mereka berharap persidangan akan membantu mereka dan setiap orang bisa lebih memahami apa yang terjadi dan mengapa serangan itu terjadi, serta berharap bisa mencegah kembali terjadinya serangan.
“Yang saya pedulikan dengan persidangan ini adalah pengakuan para penyintas lainnya, orang-orang yang waktu itu ada di teras (yang ditargetkan para penyerang), di Stade de France, mendengar bagaimana mereka menghadapinya selama enam tahun terakhir,” jelas Jerome Barthelemy (46).
“Untuk tersangka, saya bahkan tidak berharap mereka bicara.”