Angka kematian bertambah menjadi 72 akibat kerusuhan di Afrika Selatan pada Selasa. Banyak orang terinjak sampai tewas saat terjadi penjarahan toko-toko, ketika polisi dan militer menembakkan granat kejut dan peluru karet untuk menghentikan kerusuhan yang dipicu penangkapan mantan Presiden Jacob Zuma.
Lebih dari 1.200 orang ditangkap di daerah miskin di dua provinsi, di mana sebuah stasiun radio komunitas digeledah pada Selasa dan beberapa pusat vaksinasi Covid-19 ditutup.
Di Provinsi Gauteng dan KwaZulu-Natal, banyak korban jiwa yang jatuh pada saat kerusuhan di mana ribuan orang mencuri makanan, peralatan listrik, minuman keras dan pakaian dari toko. Hal ini disampaikan Mayor Jenderal Polisi Mathapelo Peters dalam sebuah pernyataan Selasa malam.
Dia mengatakan 27 kematian sedang diselidiki di Provinsi KwaZulu-Natal dan 45 di Provinsi Gauteng. Selain orang yang terinjak-injak, polisi juga sedang menyelidiki kematian akibat ledakan ketika orang mencoba membobol mesin ATM, serta kematian lainnya akibat penembakan.
Kekerasan pecah setelah Zuma divonis 15 bulan penjara karena penghinaan terhadap pengadilan pada Kamis lalu. Dia menolak mematuhi perintah pengadilan untuk bersaksi pada penyelidikan tuduhan korupsi ketika dia menjadi presiden dari 2009 hingga 2018.
Kerusuhan meningkat menjadi penjarahan di dua provinsi, meskipun belum menyebar ke tujuh provinsi lainnya di Afrika Selatan, di mana polisi bersiaga.
"Unsur kriminal telah membajak situasi ini," kata Perdana Menteri David Makhura dari Provinsi Gauteng, yang mencakup Johannesburg, dikutip dari laman Associated Press (AP), Rabu (14/7).
Sekitar setengah dari 60 juta orang Afrika Selatan hidup dalam kemiskinan, dengan tingkat pengangguran 32 persen, menurut statistik resmi. Pandemi, disertai PHK dan kemerosotan ekonomi, meningkatkan kelaparan dan keputusasaan yang membantu mendorong unjuk rasa yang dipicu penangkapan Zuma yang berujung kerusuhan meluas.
“Kami memahami mereka yang menganggur memiliki makanan yang tidak memadai. Kami memahami bahwa situasinya telah diperburuk oleh pandemi ini,” kata Makhura kepada South African Broadcasting Corp.
“Tetapi penjarahan ini merusak bisnis kita di sini (di Soweto). Ini merusak ekonomi kita, komunitas kita. Merusak segalanya.”
Saat Makhura berbicara, siaran itu menunjukkan polisi sedang berusaha menertibkan pusat perbelanjaan Ndofaya, di mana 10 orang tewas terinjak dalam penjarahan. Suara tembakan terdengar di latar belakang.
Makhura mengimbau para pemimpin organisasi politik, agama dan masyarakat untuk mendesak orang-orang menghentikan kerusuhan.
Advertisement
Kerusuhan merajalela
Pengerahan 2.500 tentara untuk mendukung polisi sejauh ini gagal menghentikan penjarahan yang merajalela, meskipun penangkapan dilakukan di beberapa kawasan di Johannesburg, termasuk Vosloorus di bagian timur kota itu.
Menurut polisi, sedikitnya 1.234 orang ditangkap di Gauteng dan KwaZulu-Natal, namun situasinya jauh dari terkendali.
Penjarahan berlanjut di pusat perbelanjaan di Johannesburg, termasuk Jabulani Mall dan Dobsonville Mall di Soweto. Ada juga laporan penjarahan di KwaZulu-Natal.
Di Daveyton, sebelah timur Johannesburg, lebih dari 100 orang, termasuk perempuan, anak-anak dan orang tua, ditangkap karena menjarah toko-toko di dalam mal Mayfair Square.
Bentrokan terus berlanjut saat keamanan dan polisi berusaha membubarkan para perusuh dengan menembakkan granat kejut dan peluru karet.
Menjelang sore polisi berhasil mengamankan mal, tetapi para perusuh tetap berada di luar, melemparkan batu ke arah polisi dan menyerukan pembebasan mereka yang ditangkap. Saat malam tiba, semakin banyak massa berkumpul di sekitar mal dan polisi mendirikan barikade untuk mencoba membubarkan mereka.
Di Soweto, rumah sakit Chris Hani Baragwanath melaporkan jumlah orang terluka yang datang ke UGD meningkat tiga kali lipat dari rata-rata harian. Kerusuhan memaksa pemerintah untuk menutup beberapa pusat vaksinasi Covid-19, sehingga program vaksinasi terganggu.
Di Alexandra Johannesburg, pusat perbelanjaan Pan Africa terus digeledah dan dibakar pada Selasa.
Stasiun radio Alex FM, yang telah beroperasi selama 27 tahun, dibobol pada Selasa pukul 02.00 dan peralatan senilai 5 juta rand atau sekitar Rp 5 miliar dijarah, kata manajer radio Takalane Nemangowe.
“Pembawa acara dan penjaga keamanan kami keluar dengan selamat melalui pintu belakang,” kata Nemangowe kepada AP.
“Tapi para penjarah membersihkan kantor kami. Mereka mengambil semua peralatan penyiaran kami, komputer, laptop, mikrofon, semuanya.”
Nemangowe mengatakan tidak ada polisi atau tentara yang berpatroli di daerah itu. Stasiun Alex FM didanai masyarakat dan menjalankan program pelatihan untuk anak-anak muda.
“Kami adalah suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara di sini di Alexandra. Dan sekarang kami diam. Ini benar-benar menyedihkan.”
Namun Nemangowe tidak putus asa. Pada Selasa sore dia dan staf lainnya telah ditawari fasilitas di sebuah stasiun radio di pinggiran Sandton.
Pihak berwenang telah berulang kali memperingatkan orang-orang, termasuk pendukung dan kerabat Zuma, agar tidak menggunakan media sosial untuk memicu kerusuhan. Menteri Kepolisian, Bheki Cele mengatakan sekitar belasan orang telah diidentifikasi sebagai penghasut kerusuhan.
Pada Senin, Mahkamah Konstitusi mendengar permohonan Zuma agar hukumannya dibatalkan. Pengacara Zuma berpendapat pengadilan tinggi membuat kesalahan saat menjatuhkan hukuman penjara kepada Zuma. Setelah 10 jam mendengar kesaksian, para hakim mengatakan mereka akan mengumumkan keputusan mereka beberapa hari mendatang.