Beberapa jurnalis Palestina mengungkapkan ketakutan mereka dan kelelahan meliput pemboman Israel di Jalur Gaza baru-baru ini dan tekad mereka untuk tetap meliput di tengah bombardir pasukan udara Israel.
Kekerasan terbaru meletus pada 10 Mei, ketika Israel melancarkan serangan udara di Gaza setelah Hamas, kelompok yang menguasai wilayah itu, menembakkan roket ke Israel.
Eskalasi meningkat menyusul ketegangan yang berlangsung selama beberapa pekan di Yerusalem Timur yang diduduki. Pasukan Israel menyerang kompleks Al-Aqsa, menyerbu para jemaah dan melukai sekitar 300 orang. Hamas kemudian mengeluarkan ultimatum, meminta pasukan Israel mundur dari tempat suci tersebut, Jika tidak, maka Hamas berjanji untuk menembakkan roket.
Hampir 250 orang Palestina tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza, termasuk 60 lebih anak-anak. Sementara korban tewas di pihak Israel sebanyak 12 orang, termasuk anak-anak.
Serangan Israel di Gaza telah menyebabkan beberapa gedung menjadi sasaran, termasuk blok menara al-Jalaa yang menjadi kantor sejumlah media internasional. Para pendukung kebebasan pers mengutuk serangan itu sebagai upaya untuk membungkam jurnalis.
Israel juga menghancurkan gedung perkantoran al-Jawhara dan al-Shorouk di Kota Gaza, di mana berkantor belasan media lokal dan internasional.
Pada Rabu pagi, Yousef Abu Hussein, seorang jurnalis Radio al-Aqsa di Gaza, tewas dalam serangan Israel di rumahnya di lingkungan Sheikh Redwan di Jalur Gaza utara.
Al Jazeera berbicara dengan empat jurnalis Palestina tentang pengalaman mereka meliput pengeboman di Gaza.
Advertisement
Ghalia Hamad
Selama di lapangan, Ghalia Hamad (30) selalu berhubungan dengan putrinya di rumah, menanyakan kondisi mereka.
“Setiap kali saya mendengar bom, saya panik dan langsung menelepon ke rumah untuk mengecek keluarga saya,” katanya kepada Al Jazeera, dikutip Selasa (25/5).
Ghalia merupakan koresponden Al Jazeera Mubasher di Jalur Gaza, memiliki dua putri, berusia lima tahun dan 1,5 tahun.
“Ini adalah pertama kalinya kami mengalami serangan seperti itu dengan keganasan begini. Perang terbaru tahun 2014, dan perang lainnya di tahun 2012, 2009 juga sulit, tapi yang ini paling sulit,” ujarnya.
Seperti jurnalis lain di lapangan, Ghalia tidak berhenti bekerja sejak eskalasi meningkat.
“Kami harus menghadapi situasi berbahaya di sekitar kami. Kami tidak memiliki apa pun untuk melindungi diri kami sendiri. Setiap orang adalah target dan diserang,” jelasnya.
“Saya mencoba melakukan pekerjaan saya tanpa memikirkan bahaya yang mungkin saya hadapi. Kami kehilangan kantor kami yang dibom beberapa hari yang lalu.”
Seperti ibu lainnya, Ghalia ingin berada di samping keluarganya, terutama putrinya, untuk meyakinkan mereka selama masa-masa sulit ini, dengan ledakan bom yang begitu keras dan ada di mana-mana. Ketika mendengar ada bom yang menghantam lokasi yang dekat rumahnya, dia langsung menghubungi keluarganya untuk memastikan keadaan mereka.
Advertisement
Hossam Salem
Jurnalis foto Hossam Salem (32) tidak berencana untuk meliput gejolak kekerasan terbaru di Gaza. Fotografer itu pindah ke Turki dua tahun lalu tetapi pulang untuk mengunjungi keluarganya di Gaza. Dia tiba pada hari yang sama ketika Israel memulai serangan udara di wilayah itu.
“Saya berencana untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga saya. Namun, secara mengejutkan saya disambut oleh serangan besar dan pemboman pada saat kedatangan saya. Itu adalah kejutan besar bagi saya,” ujarnya.
Hossam langsung terjun ke lapangan dan meliput, tanpa bertemu keluarganya terlebih dulu setelah kedatangannya di Gaza.
Dia bekerja sebagai fotografer selama lebih dari 10 tahun. Dia meliput tiga perang terbaru di Gaza, serta Great March of Return, serangkaian protes pada tahun 2018.
Karya Salem telah diterbitkan di Al Jazeera English, New York Times dan beberapa lembaga internasional.
“Pengalaman saya kali ini berbeda. Situasinya sangat sulit. Ada risiko besar pergi ke tempat-tempat yang dibom tanpa mengetahui apakah pemboman telah berhenti atau tidak.”
“Serangan udara Israel memengaruhi segalanya: menara, bangunan tempat tinggal, jalan, rumah, bahkan kantor-kantor berita internasional.”
“Saya memiliki banyak ketakutan, terutama keluarga saya, di mana saya mencuri waktu beberapa jam untuk pergi dan mengunjungi mereka dan kembali ke lapangan. Ini adalah ujian pekerjaan kami. Kami harus menghadapi bahaya dari setiap serangan Israel.”
Advertisement
Samar Abu Elouf
Samar Abu Elouf bekerja dari pagi hingga sore untuk meliput berita terbaru di Gaza. Dia adalah seorang fotografer lepas, yang bekerja di New York Times dan kantor berita lainnya.
“Liputan dari serangan ini jauh lebih sulit dari sebelumnya. Pengeboman ada dimana-mana, dan jenis senjata yang digunakan berbeda-beda,” jelas fotografer berusia 33 tahun itu.
Ibu empat anak ini mengatakan, meninggalkan anak-anaknya adalah "titik lemah" nya.
“Sangat sulit untuk meninggalkan anak-anak Anda sendirian, sementara mereka sangat takut dengan suara bom yang keras di sekitar mereka.”
Beberapa hari yang lalu, Samar dan keluarganya mengungsi, setelah rudal Israel menghantam rumah tetangga mereka.
“Itu adalah saat-saat yang mengerikan. Anak-anak saya menangis dan kami meninggalkan rumah secepat mungkin. Rumah saya rusak parah akibat pemboman itu. Pecahan peluru dari rudal menembus atap,” kata Samar.
Terlepas dari berbagai tekanan, Samar mengatakan kesulitan tidak akan menghentikannya untuk melanjutkan pekerjaannya, dan itu meningkatkan tekadnya untuk meliput.
“Sungguh menyedihkan melihat gedung dan bangunan tempat kami dulu bekerja dibom. Di setiap tempat kami memiliki kenangan yang tak terlupakan,” ujarnya.
Advertisement
Rushdi al-Sarraj
Rushdi al-Sarraj (29) adalah seorang jurnalis dan pembuat film di perusahaan Ain Media.
“Pekerjaan saya tidak hanya melaporkan apa yang terjadi, tetapi menggabungkan antara jurnalisme dengan pembuatan film, yang fokus pada pemberitaan, apa yang ada di balik pemberitaan,” jelasnya.
“Saya selalu mencari orang-orang yang selamat dari bawah reruntuhan bangunan mereka, berusaha meliput cerita mereka dalam bingkai cerita pendek dan film.”
“Tugas ini sulit dalam keadaan normal, jadi Anda dapat membayangkan bekerja di bawah serangan sengit yang tidak membedakan antara jurnalis, warga sipil, atau pemimpin militer.”
Mengenai pemboman gedung media oleh Israel, Rusdhi mengatakan Israel bekerja keras "untuk membungkam gambar dan suara, dan untuk melarang berita atau informasi apa pun yang mengungkap kejahatannya".
“Pendudukan Israel membunuh banyak jurnalis Palestina. Rekan saya di perusahaan saya, Yasser Murtaja, terbunuh dalam protes damai Great March of Return dua tahun lalu, dan sekarang target jurnalis terus berlanjut,” jelasnya.
Menurutnya tugas jurnalis di Gaza berbahaya, karena kurangnya alat pelindung seperti helm, yang dilarang memasuki Jalur Gaza di bawah blokade yang terus berlanjut.
“Selalu sulit untuk memisahkan antara perasaan Anda sebagai jurnalis dan sebagai manusia ketika Anda melihat pemandangan darah yang mengerikan dan orang-orang di bawah reruntuhan,” jelasnya.
“Keluarga saya tidak berhenti menelepon saya, karena takut saya akan terluka. Ini adalah lingkaran ketakutan dan kelelahan yang tak ada habisnya. Tapi kami harus terus membagikan pesan kami.”


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376445/original/001704800_1792372815-0878a34c0a8b5bc4e93070c441acfa46-2-hi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3350189/original/080939200_1610703344-pesawat6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3523265/original/007105900_1627440563-brandon-morgan-GxbFfu6yRN0-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375718/original/047941400_1792212801-AP26286711153583.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2373006/original/020378100_1540435883-macron.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9346574/original/077949100_1789182048-Untitled.jpg)