36 Jam Mencari Rumah Sakit untuk Sang Ayah, “Saya Kesana Kemari Seperti Pengemis”

Tapi semua terlambat. Ayahnya meninggal pada 16 April pagi.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
36 Jam Mencari Rumah Sakit untuk Sang Ayah, “Saya Kesana Kemari Seperti Pengemis”
Sushil Kumar (70), meninggal pada 16 April setelah anaknya berusaha mencari rumah sakit selama 36 ja. ©Sumit Kumar/Al Jazeera

Pada 14 April, Ashish Shrivastav (39), memasukkan ayahnya yang berusia 70 tahun yang mengeluh sesak napas ke dalam mobil kecilnya dan membawanya ke rumah sakit Vivekanand di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh.

Di rumah sakit, ayahnya, Sushil Kumar, dites positif Covid-19, tapi rumah sakit mengatakan kepadanya ayahnya tak bisa diterima karena tidak ada tempat tidur yang tersedia.

Ashish, yang mengelola pusat rehabilitasi pribadi untuk anak-anak disabilitas, mengatakan dia memohon-mohon kepada para dokter agar menerima ayahnya. Tapi petugas medis malah menyarankannya ke rumah sakit pemerintah.

Jadi Ashish memasukkan kembali ayahnya ke dalam mobil, membeli 2,5 liter tabung oksigen dan mulai mencari rumah sakit yang mau menerimanya.

Dia menuju pusat perawatan Covid di wilayah Lalbagh di kota itu dengan harapan ayahnya bisa diterima. Dia pun mendaftar secara formal melalui jalur resmi tapi rumah sakit pemerintah tetap menolak ayahnya, termasuk rumah sakit swasta.

“Semua rumah sakit minta surat rujukan dari Kepala Petugas Medis (CMO). Ketika saya ke kantor CMO, saya harus menunggu (karena banyak orang). Saat saya menunggu, saya dipaksa meninggalkan tempat itu oleh polisi yang ditugaskan di sana,” jelasnya, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (2/5).
Selama paruh pertama bulan April, pasien positif Covid yang dirawat di rumah sakit mana pun di Lucknow membutuhkan surat rujukan dari kantor CMO. Untuk mendapatkan surat itu, pasien wajib menunjukkan tes RT-PCR yang mengonfirmasi infeksi Covid. Tetapi setelah protes publik, pemerintah Uttar Pradesh baru-baru ini menghapus persyaratan surat rujukan.

Ashish mengatakan dia mencoba banyak fasilitas kesehatan swasta dan yang dikelola pemerintah di Lucknow tetapi ayahnya ditolak masuk di setiap fasilitas tersebut.

“Saya kesana kemari seperti pengemis dan mencoba banyak rumah sakit lain melalui telepon juga. Ayah saya menyuruh saya untuk membawanya pulang dan dia akan baik-baik saja tetapi saya tahu kondisinya semakin memburuk.”

Saat itu, Ashish harus mengisi ulang tabung oksigen dua kali agar ayahnya tetap hidup.

“Kami akhirnya mengantarkannya ke klinik swasta dengan bantuan kawan dokter saya setelah 36 jam,” ujarnya.

Tapi semua terlambat. Ayahnya meninggal pada 16 April pagi.

Hari berikutnya, Ashish mengatakan dia menerima telepon dari Pusat Pengendalian Komando Covid, mengatakan ada sebuah tempat tidur yang disiapkan untuk ayahnya di rumah sakit Lucknow. Dia mengatakan saat itu dia seperti diserang belati.

“Hanya dua hari sebelum tanggal itu, bisa jadi ada perbedaan besar untuk menyelamatkan ayah saya,” kata dia.

Sekarang, Ashish dan istrinya juga dinyatakan positif Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri.

“Kami tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah saya berduka untuk ayah saya yang tidak dapat saya selamatkan atau haruskah saya menjaga diri saya dan istri saya? Saya tidak tahu bagaimana mengatasi kehilangan atau apa yang harus dilakukan tapi jika ada intervensi yang tepat dari pemerintah pada waktu yang tepat, mungkin kondisi keluarga saya atau ribuan keluarga seperti kami akan berbeda,” sesalnya.

Meningkatnya kematian akibat Covid, kremasi massal, dan kekurangan tempat tidur serta oksigen menunjukkan Uttar Pradesh dengan cepat dapat menjadi hotspot Covid-19 India berikutnya kecuali jika tindakan drastis diambil oleh pemerintah untuk mengatasi virus tersebut.

Uttar Pradesh adalah salah satu negara bagian terpadat di India, dengan populasi 200 juta orang. Infeksi meningkat lebih dari 22.000 kasus setiap hari.

Pemerintah pusat telah memproyeksikan Uttar Pradesh akan melaporkan lebih dari 190.000 kasus dalam sehari pada akhir April. Lonjakan mematikan yang sedang berlangsung dalam kasus Covid-19 diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Mei dengan hitungan harian yang kemungkinan mencapai 500.000 dan dapat mereda pada Juni hingga Juli, menurut panel Covid pusat India.

Pada 28 April, jumlah total kasus kumulatif di Uttar Pradesh mencapai 300.041 sementara 11.943 orang telah meninggal dunia. Di Lucknow, jumlah kumulatif total adalah 46.596 dengan 1.726 total kematian.

Harjit Singh Bhatti, seorang dokter yang berbasis di Delhi dan Presiden Nasional Progresif Medicos & Scientists Forum (PMSF), yang berpraktik di rumah sakit swasta yang telah diubah menjadi fasilitas Covid, mengatakan: “Ini adalah keadaan darurat kesehatan. Situasi di bangsal mengerikan. Terkadang kita harus menempatkan dua orang di satu tempat tidur karena kita harus menyelamatkan nyawa mereka. Lingkungan bekerja di luar kemampuan mereka. Sumber daya terbatas dan jumlah pasien yang tiba di rumah sakit di luar imajinasi."

“Kami para dokter merasakan kesedihan dan kelegaan pada saat yang sama ketika seorang pasien meninggal karena kami dapat memberikan ventilator, oksigen kepada pasien lain yang memiliki harapan untuk diselamatkan dengan bantuan medis yang tepat waktu. Pemerintah harus segera mengambil bantuan tentara dan menyediakan tempat tidur sebanyak mungkin karena virus menyebar dengan kecepatan yang tidak terbayangkan," pungkasnya.

Pada 1 Mei, India mencatat kasus harian infeksi Covid-19 melampaui angka 400.000 dan 3.500 kematian akibat virus corona. Rekor baru ini tercatat saat India berencana mmevaksinasi 800 juta penduduk berusia 18 tahun ke atas - sebagai bagian dari upaya vaksinasi baru mulai Sabtu.

Ini merupakan bulan yang menghancurkan bagi negara Asia Selatan yang berpenduduk 1,3 miliar, jiwa itu yang melaporkan 100.000 kasus setiap hari dari 7 April hingga rekor lonjakan 400.000 infeksi pada 1 Mei.

Sementara itu, tingkat positif, yang mencapai 6,1 persen pada awal April, telah melonjak menjadi 22 persen, dengan 22 dari 100 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Demikian dikutip dari Arab News, Minggu (2/5).

Dihadapkan dengan kritik yang meningkat atas penanganan pemerintahannya terhadap krisis Covid-19, Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan upaya vaksinasi baru pada 21 April, yang adimulai dari 1 Mei.

Rekomendasi