Gelombang Kebencian Melanda AS, Seperti Apa Rasanya Jadi Orang Asia di Amerika?

Maret tahun lalu mantan Presiden Donald Trump menyebut virus corona sebagai "Virus China". Banyak warga Asia-Amerika mengatakan mereka jadi kambing hitam karena dianggap membawa virus penyebab Covid-19 ke AS.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Gelombang Kebencian Melanda AS, Seperti Apa Rasanya Jadi Orang Asia di Amerika?
demo menentang kebencian terhadap orang asia di as. ©Reuters

Seorang kardiolog di sebuah toko swalayan hampir direnggut masker yang dikenakannya. Seorang pemuda disapa dengan kata hinaan. Seorang perempuan pensiunan dipanggil dengan kata hinaan rasis dan dihalangi ketika hendak keluar parkiran.

Cerita-cerita itu hanyalah contoh dari kebencian yang dialami warga keturunan Asia-Amerika tahun lalu. Segala bentuk hinaan dan kebencian terhadap komunitas warga Asia memang bukan barang baru namun gejala itu kian meningkat sejak munculnya pandemi Covid-19.

Maret tahun lalu mantan Presiden Donald Trump menyebut virus corona sebagai "Virus China". Banyak warga Asia-Amerika mengatakan mereka jadi kambing hitam karena dianggap membawa virus penyebab Covid-19 ke AS.

Bisnis warga Asia-Amerika yang sudah terdampak pandemi dihajar lagi dengan isu diskriminasi yang mereka alami.

Menurut data Lembaga koalisi Stop AAPI Hate, ada 3.795 laporan insiden rasisme dan diskriminasi yang dialami warga Asia-Amerika sejak 19 Maret 2020 hingga akhir Februari 2021. Awal pekan ini delapan orang--enam di antaranya perempuan Asia--tewas dalam peristiwa penembakan di tempat spa di Atlanta. Peristiwa itu mengejutkan komunitas Asia-Amerika dan Pacific Islander.

Di saat meningkatkan inisden kebencian terhadap warga Asia-Amerika namun peristiwa belakangan membuat sejumlah warga Asia Amerika akhirnya buka suara dan menceritakan pengalaman mereka. CNN mewawancarai sejumlah warga Asia Amerika untuk membagikan kisah mereka.

Karena alasan keamanan CNN hanya memakai nama depan mereka supaya mereka tidak mengalami serangan atau tindakan balasan.

Pria direnggut maskernya

Di awal pandemi, Jae mengatakan seorang pria mencoba merenggut masker yang dia pakai ketika dia berada di sebuah toko swalayan.

"Saya diadang oleh seorang pria yang kesal karena saya ada di sana. Dia bilang saya pembawa virus China ke warga sekitar dan harus seger pergi," ujar kardiolog berusia 43 tahun asal Oregon itu, seperti dilansir CNN, pekan ini. "Dia hendak merenggut masker yang saya pakai. Saya ketakutan dan terpaksa pergi."

Dia menyebutnya brengsek dan yang lebih buruk, kata Jae, pria itu juga memanggilnya dengan panggilan menghina bagi orang China.

"Padahal saya bukan orang China. Saya orang Korea, demi Tuhan. Reaksi saya pertama adalah mencoba untuk membuat dia mengerti bahwa yang dia lakukan itu salah. Lalu saya berpikir bahwa ini semakin berbahay dan saya bisa terluka."

Dengan badan gemetar dan terguncang, Jae pulang ke rumahnya dan menceritakan yang dialami tadi kepada suaminya. Dia tidak melaporkan inisden itu dan dia tidak pernah lagi pergi ke toko swalayan di malam hari. Jae mengaku dia tidak pernah lagi keluar rumah di malam hari kecuali harus ke rumah sakit.

Dalam setahun terakhir Jae kemudian menyadari dia kini sering menghindari kerumunan, terutama karena makin seringnya insiden kekerasan terhadap warga Asia-Amerika.

Jae mengatakan dia sakit hati dan takut dengan apa yang dia alami, terutama karena dia adalah bagian dari masyarakat. Pasiennya mengenal dirinya dan orang-orang di sekitarnya juga mengenalnya. Dia tinggal di sebuah kota yang warganya berjumlah kurang dari 100.000 orang.

Jae berharap orang-orang mau memandang orang Asia Amerika sebagai bagian dari anggota komunitas tempat mereka tinggal.

"Menurut saya kekerasan ini terjadi karena kita melihat orang lain sebagai orang lain, orang yang menyakiti orang lain, orang yang berbuat salah kepada kita, orang lain yang membawa virus. Ini semua kesalahan informasi terhadap orang yang kita anggap orang lain."

Melihat wajah-wajah korban penembakan di Atlanta membuat Ian merasa sangat tidak nyaman. Dia tidak kenal semua korban itu. Enam di antara korban penembakan adalah perempuan Asia, tapi dia Ian merasa mereka cukup dekat.

"Sulit menjelaskan perasaan ini. Rasanya seperti ikut berduka, meski mereka bukan orang yang kita kenal atau kita belum pernah bertemu," kata lelaki penulis berusia 24 tahun itu.

Warga New York itu bermigrasi dari Meksiko ke Amerika ketika dia berusia tujuh tahun. Ibunya keturunan China dan ayahnya berdarah Meksiko-Jepang. Ian mengatakan dia kerap mendapat panggilan rasis.

Berhadapan dengan rasisme memang bukan hal baru bagi Ian. Tapi dalam setahun terakhir dia merasa isu anti-Asia semakin menguat.

"Saya rasa isu ini selalu ada, tapi sejak setahun terakhir saya merasa orang lebih terdorong untuk melakukan tindakan anti-Asia dan mendapat dukungan."

Ian merasa ia menjadi target kebencian hanya karena penampilannya.

"Mereka tidak ada keinginan untuk memandang saya sebagai seseorang. Tidak ada keinginan untuk mengenal saya. Mereka sudah mengambil sikap untuk membenci. Dan bagi saya itulah rasisme."

Rekomendasi