Militer AS Dilaporkan Membeli Informasi Pribadi 100 Juta Pengguna Aplikasi Muslim Pro

Sebuah investigasi yang dilakukan majalah online Motherboard mengungkapkan bahwa militer AS membeli data pribadi dan lokasi dari pengguna beberapa aplikasi populer, termasuk Muslim Pro.

Iqbal Fadil
Oleh Iqbal Fadil - Reporter
Militer AS Dilaporkan Membeli Informasi Pribadi 100 Juta Pengguna Aplikasi Muslim Pro
aplikasi Muslim Pro. ©istimewa

Sebuah investigasi yang dilakukan majalah online Motherboard mengungkapkan bahwa militer AS membeli data pribadi dan lokasi dari pengguna beberapa aplikasi populer, termasuk Muslim Pro.

Militer AS membeli informasi pribadi yang dikumpulkan dari aplikasi di seluruh dunia, termasuk beberapa yang digunakan oleh umat Islam yang telah diunduh hampir 100 juta kali.

Muslim Pro merupakan aplikasi yang berisi ayat Alquran, pengingat waktu salat termasuk azan, hingga penunjuk arah kiblat. Pembuat aplikasi yang tersedia di Google Play ini tertulis Bitsmedia Pte Ltd. Penilaian yang diberikan cukup baik dengan 4,5 dari 5 bintang.

Investigasi oleh majalah online Motherboard yang diterbitkan pada hari Senin menemukan, Komando Operasi Khusus AS memperoleh data lokasi dari beberapa perusahaan.

Aplikasi paling populer di antara mereka yang menjadi target adalah aplikasi doa dan Alquran bernama Muslim Pro, dengan lebih dari 98 juta unduhan di seluruh dunia. Yang lainnya termasuk aplikasi kencan Muslim.

Dilansir laman Al Jazeera, Selasa (17/11), berdasarkan catatan publik, wawancara dengan pengembang, dan analisis teknis, investigasi Motherboard mencatat beberapa perusahaan memperoleh data lokasi aplikasi saat pengiklan membayar untuk memasukkan iklan mereka ke sesi penjelajahan orang-orang.

Muslim Pro adalah satu dari ratusan aplikasi smartphone yang menghasilkan uang dengan menjual data lokasi pengguna ke broker pihak ketiga. Militer AS telah mengonfirmasi laporan berita tersebut.

"Akses kami ke perangkat lunak digunakan untuk mendukung persyaratan misi Pasukan Operasi Khusus di luar negeri," kata Komandan Angkatan Laut Tim Hawkins.

"Kami sangat mematuhi prosedur dan kebijakan yang ditetapkan untuk melindungi privasi, kebebasan sipil, hak konstitusional, dan hukum warga negara Amerika."

Laporan baru ini adalah ilustrasi terbaru tentang bagaimana lembaga pemerintah dapat pergi ke broker data pribadi untuk mengumpulkan informasi terperinci tentang pergerakan individu, termasuk warga AS.

Beberapa anggota Kongres menyerukan agar praktik tersebut diatur lebih ketat setelah terungkap bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri membeli data lokasi untuk melacak orang-orang yang dicurigai berimigrasi ke AS secara ilegal.

Dibeli dari X-Mode

Salah satu perusahaan yang terlibat dalam penjualan data lokasi, X-Mode, mengatakan mereka melacak 25 juta perangkat di Amerika Serikat setiap bulan dan 40 juta di tempat lain - termasuk di Uni Eropa, Amerika Latin, dan kawasan Asia-Pasifik.

Motherboard memasang aplikasi kencan Muslim Mingle ke ponsel Android dan melihatnya berulang kali mengirimkan koordinat geolokasi yang tepat bersama dengan nama jaringan WiFi ke X-Mode.

Penyelidikan menemukan aplikasi lain yang menyampaikan data lokasi termasuk aplikasi penghitung langkah yang disebut Accupedo, aplikasi cuaca Global Storms, dan CPlus untuk Craigslist.

Senator AS Ron Wyden mengatakan kepada Motherboard bahwa X-Mode juga mengakui menjual data yang dikumpulkannya ke "pelanggan militer AS" lainnya.

Pihak X-Mode mengakui praktik itu dan masih melakukan penjualan data untuk pihak ketiga.

"X-Mode melisensikan panel datanya ke sejumlah kecil perusahaan teknologi yang mungkin bekerja dengan layanan militer pemerintah, tetapi pekerjaan kami dengan kontraktor tersebut bersifat internasional dan terutama berfokus pada tiga kasus penggunaan: kontra-terorisme, keamanan siber, dan memprediksi Covid-19 hotspot di masa depan," kata X-Mode seperti dikutip Motherboard.

Sementara itu seperti dilansir Business Insider, dalam contoh lain, militer AS telah membeli data lokasi langsung dari perantara daripada melalui kontraktor pertahanan. Menurut data catatan pengadaan publik, Komando Operasi Khusus AS menghabiskan USD90.656 pada bulan April untuk mengakses data lokasi yang disediakan oleh perusahaan Babel Street, yang mengumpulkan data dari aplikasi telepon pintar.

Juru bicara Komando Operasi Khusus Angkatan Laut AS Tim Hawkins, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Business Insider bahwa perintah yang membeli data dari Babel Street adalah "untuk mendukung persyaratan misi Pasukan Operasi Khusus di luar negeri."

"Kami secara ketat mematuhi prosedur dan kebijakan yang ditetapkan untuk melindungi privasi, kebebasan sipil, hak konstitusional dan hukum warga Amerika," kata Hawkins.

Perwakilan Babel Street tidak segera menanggapi konfirmasi. Babel Street menjual produk bernama Locate X yang memungkinkan orang memilih area di peta dan menunjukkan pergerakan perangkat di dalam area itu, menurut Motherboard. Klien dapat melakukan permintaan pencarian sebanyak yang mereka inginkan setelah membayar untuk mengakses data, menurut dokumen pemasaran Babel Street.

Pembelian tersebut patut diperhatikan karena Pentagon sebelumnya telah menggunakan data lokasi ponsel pintar untuk merencanakan dan melaksanakan operasi militer.

Badan Keamanan Nasional menggunakan jenis data lokasi berbeda yang dikumpulkan dari kartu SIM ponsel untuk melakukan serangan drone terhadap tersangka anggota Taliban, seperti dilaporkan The Intercept pada tahun 2014. Masih belum jelas apakah data lokasi yang dibeli melalui pialang pihak ketiga secara langsung menginformasikan secara spesifik operasi militer AS.

Rekomendasi