Ada banyak kisah mengerikan yang dapat diceritakan Amani Ballour sejak enam tahun menjalankan rumah sakit rahasia di bawah tanah selama pemboman dan pengepungan di Suriah. Tapi anak-anak yang paling lekat dalam ingatannya.
"Ada seorang anak laki-laki, sekitar sembilan tahun, dibawa orang tuanya dengan luka yang mengerikan. Sebagian kepalanya hancur dan dari telinganya keluar darah," kisahnya.
"Jelas tidak ada yang bisa kami lakukan untuknya, tetapi jantungnya terus berdetak dan ia terus bernafas selama berjam-jam. Itu adalah siksaan bagi orang tuanya karena kita semua tahu dia tidak bisa hidup. Pada akhirnya mereka ingin saya memberinya sesuatu untuk membantunya agar segera mati. Pada saat itu, saya langsung lemas. Saya tidak bisa membantu dia atau mereka," kenangnya dikutip dari The Guardian, Minggu (8/3).
Ballour (33), yang pekerjaannya di rumah sakit adalah tema film dokumenter nominasi Oscar, The Cave, memiliki banyak kisah mengerikan seperti itu, yang katanya terus berlangsung di Suriah sampai saat ini.
Sejak 2011, 500.000 warga Suriah tewas dalam perang di negara itu dan lebih dari 5 juta orang terlantar, banyak di antaranya ke pengasingan. Ballour salah satu dari mereka, yang kini tinggal di Turki, tetapi masih dihantui oleh pekerjaannya di Ghouta timur, pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak yang dikepung selama lima tahun dan dihantam dengan bom, roket, dan senjata kimia. PBB telah mengklasifikasikan pengepungan itu sebuah kejahatan perang.
Dalam beberapa bulan terakhir pesawat tempur Rusia, bagian dari aliansi militer dengan pemimpin Suriah Basyar Al-Assad, menyerang daerah Idlib yang dikuasai pemberontak.
Pekan lalu, setelah bentrokan antara pasukan Turki yang mendukung pemberontak oposisi dan pasukan Suriah yang didukung Rusia menewaskan 200 tentara dan puluhan warga sipil termasuk anak-anak terbunuh atau terluka, gencatan senjata yang rapuh ditengahi Ankara dan Moskow. Pengamat mengatakan gencatan senjata tidak mungkin berlangsung lama. Bagi Ballour, perjanjian itu harus dipegang. Kekerasan itu, katanya, harus dihentikan.
Advertisement
Duduk di sebuah kafe di Paris pekan lalu, Ballour baru saja bertemu Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian. Dia juga berkunjung ke Belgia beberapa hari sebelumnya dan melakukan perjalanan ke Jenewa akhir pekan ini, kemudian ke AS, untuk memohon para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menekan Rusia, dan untuk meminta bantuan kemanusiaan untuk Suriah, bukan hanya tindakan konkret tapi juga empati.
"Saya minta orang-orang di Eropa mengingat bahwa para pengungsi adalah manusia. Mereka punya hak untuk merasa aman, untuk hidup. Orang-orang ini tidak ingin meninggalkan Suriah. Saya tidak ingin kabur, tak ada yang ingin kabur. Kami hanya ingin bertahan hidup. Ketika saya bisa, saya akan pulang," kata Ballour.
Orang tua Ballour masih di Suriah, takut akan pembalasan karena putri mereka menentang rezim.
Sebagai seorang anak, Ballour, anak bungsu kedua dari keluarga dari enam bersaudara, marah saat tidak diizinkan mengendarai sepeda seperti saudara-saudaranya, dan menolak untuk menikah pada usia 13 seperti saudara perempuan tertuanya.
Cita-citanya belajar teknik, tetapi orang tuanya tidak setuju dan mengatakan itu bukan pekerjaan perempuan. Ballour akhirnya kuliah kedokteran di Universitas Damaskus.
"Diharapkan saya akan menikah dan punya anak. Ayah saya akan mengatakan kepada kami para gadis: "Apa bagusnya gelar di dapur?", Tetapi saya berprestasi di sekolah dan saya ingin melakukan sesuatu. Impian saya adalah lulus, memiliki klinik dan membantu anak-anak," katanya.
Advertisement
Pada 2012 - setahun setelah perang dimulai - Ballour lulus kedokteran umum dan bekerja di rumah sakit Ghouta timur. Ketika serangan udara semakin intensif, menghantam gedung-gedung di dekatnya menjadi puing-puing, rumah sakit terpaksa beroperasi dari labirin kamar dan terowongan bawah tanah.Empat tahun kemudian, ketika dia masih berusia 29 tahun, Ballour bertanggung jawab atas 100 karyawan yang tersisa di rumah sakit tersebut, termasuk satu ahli bedah dan beberapa dokter, yang kebanyakan adalah mahasiswa. Lingkungan sekitarnya hancur parah, berdasarkan rekaman yang diambil dengan drone.Pada 2018, saat bom terus diledakkan, Ballour putus asa ketika pasukan Assad mendekat. Dia memerintahkan evakuasi rumah sakit dan petugas medis menyelamatkan ribuan nyawa yang tersisa.
Advertisement
The Cave, yang direkam lebih dari dua tahun oleh sutradara Suriah, Feras Fayyad - yang juga membuat film dokumenter pemenang Oscar Last Men in Aleppo - mengabadikan kengerian perang: orang dewasa yang terluka, anak-anak dan bayi yang terperangkap dalam serangan bom tiba-tiba berlumuran darah atau tersedak dari serangan senjata kimia; operasi bedah dilakukan tanpa anestesi diiringi suara musik klasik. Ballour juga dipaksa untuk menghadapi laki-laki kolot dan bahkan para ekstremis, yang berpendapat bahwa menjalankan rumah sakit bukanlah pekerjaan seorang perempuan.Hari ini, dia berharap dia bisa menjadi panutan bagi gadis-gadis Suriah, dan telah membentuk dana untuk menantang bias gender di zona konflik."Saya tidak akan pernah melupakan apa yang saya lihat. Saya ingat setiap anak dan saya bisa melihatnya. Saya di sini untuk menyuarakan mereka, untuk berbicara tentang penderitaan dan kehidupan mereka. Untuk menceritakan kisah mereka tentang bagaimana orang-orang dibunuh setiap hari. Itu sebabnya saya ada di sini," pungkasnya.