Guatemala klaim neraca ekspor aman walau geser kedutaan ke Yerusalem

Guatemala sesumbar keputusan itu tidak bakal berdampak terhadap pemasukan dari ekspor.

Aryo Putranto Saptohutomo
Guatemala klaim neraca ekspor aman walau geser kedutaan ke Yerusalem
Yerusalem. ©Reuters

Keputusan Presiden Guatemala, Jimmy Morales, mengikuti jejak Amerika Serikat memindahkan kedutaan besar mereka di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, ke Kota Yerusalem, dikecam banyak pihak. Namun, mereka menyatakan tak bakal mundur meski terancam kehilangan mitra dagang dengan negara-negara di Jazirah Arab dan mayoritas Islam.

"Keputusan yang kami lakukan sejalan dengan kebijakan luar negeri, dan karena Israel merupakan sekutu kami," kata Menteri Luar Negeri Guatemala, Sandra Jovel, dilansir dari laman Associated Press, Rabu (27/12).

Jovel tidak merinci kapan mereka bakal mewujudkan rencana itu. Sama halnya dengan pemerintah Amerika Serikat.

Jovel mengakui keputusan memindahkan lokasi kedutaan besar mereka di Israel bakal membawa dampak. Salah satunya soal neraca perdagangan. Sebab, selama ini ekspor kapulaga dari negara itu selalu diserap oleh negara-negara Arab dan mayoritas Islam. Walau demikian, dia sesumbar kalau hal itu tidak berpengaruh banyak terhadap pemasukan Guatemala karena hasil ekspor itu cuma 0,37 persen dari pendapatan kotor domestik.

"Soal itu tidak terlalu mengkhawatirkan kami," ujar Jovel.

Sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada 6 Desember lalu membuat dunia bergolak. Banyak yang menentang, tetapi juga tidak sedikit yang mendukung.

Rekomendasi