Yaman di persimpangan jalan

Banyak kelompok punya benturan kepentingan dalam perang di Yaman. Tinggal rakyat menanggung derita.

Aryo Putranto Saptohutomo
Yaman di persimpangan jalan
Serangan bom di Yaman. ©REUTERS/Khaled Abdullah

"Dia salah perhitungan. Dikira rakyat dan tentara akan bangkit mendukungnya, termasuk sejumlah suku," kata Gamal Ammar.Gamal merupakan salah satu sahabat dekat mendiang Ali Abdulah Saleh. Mantan Presiden Yaman itu tewas di tangan pemberontak setelah dia dicegat di perjalanan diduga hendak kabur ke Arab Saudi. Alhasil, kendaraannya ditembak dengan granat luncur (RPG) dan dia tewas diberondong peluru.Kematian Saleh membuat peta kekuatan sejumlah kelompok bertikai di Yaman berubah. Belum ada tanda-tanda pertempuran bakal berakhir setelah meletup tiga tahun lalu. Nasib negara itu kini berada di persimpangan, dilansir dari laman Associated Press, Rabu (6/12).Yang paling menderita adalah 28 juta rakyat sipil. Mereka terjebak di tengah orang-orang yang murka dan menyandang senjata. Tercatat sudah sepuluh ribu warga biasa tewas terjebak perang atau jadi korban salah sasaran serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi. Belum lagi merebaknya wabah kolera sudah merenggut nyawa dua ribu orang.Setelah Saleh wafat, konflik bersenjata di Yaman semakin rumit. Sebab, banyak pihak yang bertentangan dan memiliki agenda masing-masing.Saleh berkuasa sejak 1978 hingga 2012. Ketika dia menyatukan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990 dan mendamaikan sejumlah suku, kelompok Syiah Zaidi yang menjelma menjadi pemberontak Huthi tetap tidak mau tunduk. Dalam masa pemerintahannya, Saleh tercatat enam kali terlibat perang dengan Huthi.Kelompok Ansar Allah atau Huthi didirikan oleh Hussain Badruddin al-Huthi, di wilayah Sa'dah, Yaman Utara, pada 1990-an. Gerakan politik keagamaan itu mulanya memang kental dengan Zaidi dan Syiah, tetapi belakangan juga merangkul kaum Sunni. Hussain tewas dalam pertempuran dengan pasukan Saleh 13 tahun lalu. Kini kelompok itu dipimpin sang adik, Abdul Malik al-Huthi. Mereka dituduh didukung Iran, tetapi pemerintah Negeri Syah menampiknya.Perlawanan pemberontak Huthi juga sengit. Regenerasi serdadu terus berjalan dan pasokan senjata tak pernah putus. Hal itu menjadikan mereka sulit ditumpas. Bahkan mereka sudah menduduki Ibu Kota Sanaa selama tiga tahun. Tawanan perang mereka sudah ribuan. Buat menyokong pemberontakan, mereka mengumpulkan duit dengan cara menetapkan pajak yang tinggi, dan membuka keran pasar gelap.Setelah 34 tahun berkuasa dengan kudeta, Saleh harus lengser lima tahun lalu karena tekanan rakyat dan politik seiring dengan gelombang reformasi di Jazirah Arab (Arab Spring). Dia lantas mengalihkan tampuk kekuasaannya kepada sang wakil, Abdrabbuh Mansur Hadi.Walau demikian, selama lebih dari tiga dasawarsa menjadi presiden, Saleh membangun kepercayaan dengan sejumlah suku, militer, dan partai politiknya, Kongres Umum Rakyat. Setelah tersingkir, Saleh mendukung pemberontak Huthi berharap bisa menunggangi kelompok itu dan kembali ke lingkar kekuasaan.Sayangnya, kedua belah pihak tidak pernah saling percaya. Huthi justru mengambil keuntungan dengan merebut kesetiaan sejumlah suku, mencuri persenjataan, dan memecat jenderal-jenderal kepercayaan Saleh. Tentara yang setia dengan Saleh banyak yang memilih keluar dari dinas dan pulang kampung, sebagian bergabung dengan Huthi.Persekutuan Saleh dan Huthi sebenarnya sudah memburuk sejak beberapa bulan lalu. Pemberontak sudah curiga kalau Saleh main belakang dengan pihak koalisi. Puncaknya pecah pada pekan lalu. Kedua belah pihak bertempur selama enam hari berturut-turut. Alhasil, pasukan Saleh berhasil dipukul mundur dari Sanaa.Sang anak, Ahmad Ali Saleh, menyatakan bersumpah bakal membalaskan kematian ayahnya. Saat ayahnya masih berkuasa, Ahmad Ali adalah jenderal dan memimpin kesatuan elit Garda Republik. Dia lantas didapuk menjadi Duta Besar di Uni Emirat Arab, dan dipersiapkan menggantikan sang ayah. Namun, saat bapaknya tumbang dari pucuk kekuasaan lima tahun lalu, dia menjadi tahanan rumah. Dia dikurung tanpa boleh berkomunikasi di sebuah vila terletak di Ibu Kota Abu Dhabi, UEA. Kabarnya, dia kini dibebaskan oleh lawan politiknya dan dibiarkan membalas dendam.Pemberontak Huthi saat ini memang merasa di atas angin. Namun, menurut peneliti dari Pusat Kajian Strategis Sanaa, Majid al-Madhaji, Huthi tidak punya kemampuan merebut simpati kelompok lain, terutama tujuh suku yang berdiam di sekitar Sanaa. Mereka selama ini memilih netral dan membiarkan Huthi beraksi, asal tak diganggu.Kini harapan baru tertumpu pada Ahmad Ali, Hadi, dan pasukan sekutu Arab Saudi. Sisa-sisa pasukan setia kepada Saleh butuh sosok pemimpin yang bisa menyatukan, dan meyakinkan ketujuh suku itu supaya mau angkat senjata. Sebab, tujuh suku itu cenderung pasif dan memilih merapat kepada kelompok yang mereka anggap kuat saja. Jika mereka tidak yakin Huthi dikalahkan, maka dipastikan tak bakal mau melawan.Sedangkan di dalam kelompok penentang Huthi juga tidak akur. Pasukan yang setia kepada termasuk sayap militer Ikhwanul Muslimin. Sedangkan Uni Emirat Arab yang juga termasuk dalam persekutuan dengan Arab Saudi sangat membenci Ikhwanul Muslimin.Sedangkan kelompok panglima yang setia dengan Hadi dan berasal dari Ikhwanul Muslimin, Ali Muhsin al-Ahmar, sangat menentang Saleh. Belum tentu juga dia mau berjuang bersama dengan serdadu yang setia dengan mendiang Saleh. Belum lagi ada kelompok bersenjata yang mengaku bagian dari Al-Qaidah bercokol di Yaman. Benturan kepentingan di antara mereka sulit dihindari.Serangan udara pasukan koalisi juga belum terlihat mampu memukul mundur kelompok Huthi. Pergerakan mereka di darat cenderung mandek. Yang ada malah korban sipil berjatuhan.

Rekomendasi