Presiden Rusia Vladimir Putin bukanlah musuh Eropa dan bisa bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam krisis di Suriah, begitu tutur Mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres kepada media Rusia, RT. Shimon juga membagi pandangannya terhadap proses perdamaian Timur Tengah dan melawan kelompok ekstremis di Eropa.
"Saya mengerti bila sebenarnya Putin menggunakan hatinya, sebagai harapan untuk tidak berperang dengan Eropa, namun lebih kepada menjadi bagian dari mereka," kata Peres (93), seorang peraih Nobel Perdamaian dan politisi kelas berat Israel saat menuturkan kisahnya ketika bertemu Putin, seperti dikutip dari RT, Sabtu (6/8).
Penuturan itu diungkap saat melihat situasi ketegangan antara Rusia dan Uni Eropa. Menyusul hubungan yang dijalin Moscow dan Washington, seiring dua kali pertemuan dua menlu negara tersebut pada bulan Juli kemarin, Peres juga yakin jika mereka bisa bersama menyelesaikan Krisis Suriah.
"Saya pikir negosiasi mereka sekarang adalah bagaimana menangani situasi di Suriah secara luas. Tidak terbatas dengan yang dikatakan atau dengan membawa bendera apa mereka," paparnya.
"Akhirnya, mereka tidak bisa menyelesaikan permasalahan, tanpa bersama untuk perdamaian," sambungnya.
Politisi veteran Israel ini mengutip dari pemecahan Krisis Misil Kuba1962dan "reset"2011antara Moscow dan Washington sebagai bukti dari pernyataan kemungkinan (berhasilnya) kerja sama Moscow dan Washington.
"Saya tidak terpikir ada salah satu dari mereka menginginkan perang," katanya.
Menurut Peres, perseteruan antara Rusia dan AS dikarenakan mereka kerap menunjukkan kebenaran satu sama lain kepada publik. Perang dingin antara mereka bukan untuk memperebutkan kekuasaan, atau tanah jajahan, tetapi untuk menunjukkan sistem mana yang lebih baik dari yang dimiliki mereka.