Lebih dari 2 ribu warga Yahudi dari keturunan Ethiopia berunjuk rasa di Kota Yerusalem, Israel, akhir pekan lalu. Para demonstran menuntut pemerintah Zionis memenuhi janji mengizinkan sanak saudara mereka bermigrasi ke Israel. Para pengunjuk rasa berpawai lebih dari 10 kilometer, membawa spanduk, kemudian mengakhiri aksi di depan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Aljazeera melaporkan, Senin (21/3), salah satu pengunjuk rasa adalah Antaihe Cheol (30). Dia mengeluhkan nasib ayahnya, yang sekarang masih tertahan di Ethiopia, karena tidak kunjung memperoleh izin bermigrasi ke Israel. Padahal sudah sejak 20 tahun terakhir sang ayah mengurus semua perizinan.
Cheol mempertanyakan alasan komunitas Yahudi Ethiopia dibatasi menjadi warga Israel. Sementara dalam waktu bersamaan, pemerintahan Zionis di Tel Aviv mengizinkan migrasi besar-besaran bagi Yahudi kulit putih di Prancis, Amerika Serikat, atau Rusia sepanjang tahun.
"Tindakan pemerintah Israel ini sama saja seperti rasisme," kata Cheol.
Di seluruh Israel, ada 135 ribu penduduk Yahudi berdarah Ethiopia. Mereka disebut sebagai kaum Beta Yahudi atau Falash Mura. Pemerintahan Netanyahu pernah berjanji membuka kuota imigran Ethiopia sebanyak 9.100 orang. Namun pada awal Maret 2016, kantor PM Israel mengumumkan pembatalan kebijakan itu karena terbatasnya anggaran pemerintah.
Dalam sejarah perkembangan Yudaisme sebagai agama khas etnis Yahudi, Ethiopia merupakan salah satu kerajaan di jantung Afrika yang dihormati. Ribuan orang Yahudi yang menjadi budak di Mesir, diperkirakan pada Tahun 7 Sebelum Masehi hingga tahun 330 Masehi, melarikan diri ke Ethiopia.
Kaum Yahudi pelarian itu beranak pinak dengan warga setempat sehingga keturunan mereka berkulit gelap, berbeda dari Yahudi lain yang rata-rata berkulit putih. Pada abad ke-9 hingga ke-14, Ethiopia adalah satu-satunya kerajaan di Benua Hitam menjadikan Yudaisme agama resmi.
Pemerintah Israel pernah membebaskan ribuan warga yahudi Ethiopia bermigrasi ke Tel Aviv atau kota-kota lain, sepanjang kurun 1984 hingga 1991. Yahudi kulit hitam ini diberi kewarganegaraan otomatis. Namun belakangan, kebijakan itu distop.
Anggota Parlemen dari Partai Likud, Avraham Neguise, ikut serta dalam unjuk rasa akhir pekan lalu. Neguise adalah anak buah Netanyahu, berdarah Ethiopia, dan menuntut perlakuan setara bagi setiap Yahudi di seluruh dunia untuk pindah ke Israel.