Politikus Israel: Bahasa Arab buktikan Palestina tak pantas merdeka

Argumen Anat Berko adalah ketiadaan huruf 'P' dalam bahasa Arab serta konsep Palestina dipinjam dari Romawi

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Politikus Israel: Bahasa Arab buktikan Palestina tak pantas merdeka
Politikus Israel Anat Berko. ©2016 Merdeka.com/Haaretz/Olivier Fitoussi

Anggota Parlemen Israel (Knesset) bernama Anat Berko, menuding Palestina merupakan kecelakaan sejarah dan tidak seharusnya dibiarkan merdeka. Secara kultural, menurutnya, bahkan Palestina tidak ada dalam budaya bangsa Arab Timur Tengah.

Salah satu bukti yang disorongkan Berko adalah ketiadaan huruf 'p' dalam Bahasa Arab. Konsonan yang dibaca mirip 'p' juga tidak ada.

"Mana ada bacaan Pa, yang ada dalam Bahasa Arab adalah fa," kata politikus perempuan itu di tengah debat parlemen, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (12/2).

Atas dasar itu, Berko menduga identitas Palestina justru berasal dari terminologi Yahudi. Dia menyatakan, yang memiliki konsonan 'p' adalah Bahasa Hebrew. Dalam Kitab Perjanjian Lama disebutkan keberadaan Bangsa Filistin, penghuni wilayah Palestina saat ini. Selain itu, Berko meyakini orang-orang yang sekarang mengaku bangsa Palestina baru muncul akibat penjajahan Romawi di kawasan Timur Tengah.

"Jika kita melihat sejarah, tentang hak Israel terhadap Yerusalem, maka keberadaan Palestina adalah konsep pinjaman," kata politikus Partai Likud itu.

Pernyataan Berko dikecam oleh sesama anggota Knesset. Tamar Zandberg, anggota Partai Meretz yang berhaluan sosialis, menuding politikus wanita itu sedang mabuk karena argumennya kacau balau.

"Apa anda itu punya otak?" kata Zandberg.

Komentar Berko yang disiarkan televisi nasional mengundang kecaman netizen. "Biasanya berita seperti ini muncul di situs parodi. Baru sekarang saya tahu ada orang yang meyakini sebuah bangsa tidak pantas ada hanya karena ketiadaan huruf P," tulis akun Twitter @glcarlstrom.

Akun @johnnyparada turut mempertanyakan klaim Berko dan motif pernyataan itu. "Jika memang begitu, apa kemudian Israel punya hak menghabisi seluruh warga Palestina dari muka bumi?"

Jamal Dajani, Juru Bicara Perdana Menteri Otoritas Palestina, mengecam pernyataan Berko. Dia mengatakan sejarah bangsa Palestina sudah tercatat sejak berabad-abad di banyak sumber otentik. Sebaliknya, kedatangan imigran Yahudi ke sekitar Yerusalem yang tidak wajar karena diinisiasi Inggris seusai Perang Dunia ke-2.

"Semua pernyataan (Berko) adalah upaya mencitrakan bangsa Palestina seakan-akan bukan manusia yang memiliki hak untuk merdeka," kata Dajani.

Rekomendasi